PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK
MAKALAH
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mata Kuliah Bahasa Indonesia
oleh
AI SITI NURAENI
122151097
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Tanpa tersadar hari ini kita telah memasuki era
kehidupan dengan sistem komunikasi global, mulai dari televisi, radio,
handphone dan tidak terkecuali internet yang telah merobohkan batas dunia.
Senada dengan itu menjadi seorang ibu dijaman sekarang ini adalah tugas yang
penuh tantangan. Berbagai persoalan-persoalan muncul bagaikan buih dilautan dan
pola hidup manusia berubah menjadi individualistis. Para ibu hari ini telah
kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Di perparah
lagi dengan racun-racun yang diterima oleh anak-anak, baik di televisi, radio,
internet maupun lingkungannya. Serta sistem pendidikan yang gagal membangun
karakter anak, telah menyerang anak anak kita saat ini.
Dengan berbagai tantangan ini, semua ibu tentu
mendambakan untuk dapat menbesarkan anaknya meskipun harus berhadapan dengan
tantangan jaman. Menurut Bettelheim (1987) menegaskan bahwa indikasi bahwa kita
telah membesarkan anak dengan benar bukan hanya produk luar bahwa anak itu
telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu.
Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu
mengatasi persoalan-persoalan hidupnya bahkan yang berat. Maka seorang ibu
harus bisa melakasnakan tantangan ini dengan sebaik-baiknya sehingga memperoleh
hasil yang diharapkan.
Dalam mewujudkan hal ini, maka seorang ibu maupun
pendidik perlu dibekali ilmu dan pengetahuan yang memadai dan memberikan
pemahaman bahwa mendidik dan membesarkan anak dengan benar bukan hanya sekedar
patuh pada perintah dan baik di mata masyarakat saja, tapi yang penting adalah
anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik, bertanggung
jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan menjadi
dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan benar.
Dalam hal ini maka, berdasarkan keterbatasan penulis
dan menghindari terlampau luasnya penelitian yang dilakukan, maka permasalahan
dalam penelitian ini dibatasi pada peran, pola asuh, dan memahami anak-anak.
Dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari dan anak-anak Republik Anak Elang
yang dilaksanakan di Universitas Siliwangi. Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengkaji dan mengetahui peran, pola asuh dan memahami anak-anak. Berdasarkan
alasan tersebut, maka penulis tertarik mengambil judul PERAN POLA ASUH DALAM
MEMAHAMI ANAK-ANAK.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Banyak
guru dan orang tua yang mengeluh tidak sedikit juga kecewa dengan tingkah laku
anak ,nilai ,dan prestasi yang jelek disekolah, ataupun nangis, ngambek, malu,
nakal, suka bertengkar saat belajar dan pada akhirnya guru ataupun orang tua tak
jarang memberikan hukuman dan membanding-bandingkan dengan anak lain yang dirasa
sesuai dengan kita. Penyebabnya sudah pasti karena anak malas belajar.
Bagaimana cara terbaik peran seorang guru ataupun orang tua menghadapi
anak-anak yang seperti ini??
2. Berhasil
mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap
guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, apalagi
jika anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik,
bertanggung jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan
menjadi dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan
benar. bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?
3. Bagaimana
cara terbaik untuk membangun pola asuh dan membangun karakter terbaik bagi
anak-anak?
C.
Tujuan
Makalah
Sejalan dengan rumusan
masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan
mendeskripsikan.
1. Menerapkan
konsep peran terbaik bagi guru dan orang tua dalam memahami anak-anak.
2. Menerapkan
konsep peran pola asuh dalam memahami, membangun karakter anak-anak.
3. Cara
terbaik memahami anak-anak.
D.
Kegunaan
Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara
teoritis maupun secara praktis.
1. Manfaat
secara teoritis
Secara
umum hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi siapapun utamanya
dalam meningkatkan pemahaman konsep pemahaman terhadap peserta didik. Secara khusus
penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada strategi pembelajaran.
2. Manfaat
secara praktis
Secara
praktis, makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
a. penulis,
sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan;
b. pembaca,
sebagai media informasi tentang konsep penelitian baik secara teoretis maupun
secara praktis.
BAB II
PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK
A. Kajian Teoritis
1.
Hakikat
Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Berhasil
atau tidaknya seorang ibu dan guru dalam
mendidik anak-anaknya dipengaruhi oleh peran pola asuh dalam memahami anak-anak.
Peran pola asuh di sini adalah bagaimana seorang ibu atau guru menjalankan peranannya dalam menjaga,
mendidik, melatih, merawat dan memahami anak-anaknya agar anaknya bisa sukses
dan bahagia. Mempunyai anak yang baik adalah impian semua orang tua di dunia
begitu pun anak, mempunyai orang tua yang baik adalah impian setiap anak. Bettleheim
(1987) menyebutkan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik, (dalam hal ini
menjadi ibu yang baik), orang tua harus mampu merasa aman dan tidak cemas dalam
perannya sebagai orang tua, dan hubungannya dengan anaknya. Penting pula
mengenali “bagaimana perasaan kita sendiri menjadi orangtua bagi anak
tersebut”. Menjadi orang tua yang baik hanya bisa dimulai dengan rasa nyamannya
menjadi orang tua dan kegembiraannya menjalani peran sebagai orang tua. Rasa
aman ini akan membuat anak juga merasa aman tentang dirinya sendiri.
2.
Landasan
Yuridis Mengenai Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Tak hanya orang tua atau guru saja yang
harus memahami anak, akan tetapi pemerintah juga, berperan dalam melindungi,
mengayomi dan memahami anak-anak. Karena demi masa depan negeri. Salah satu
contoh pemerintah peduli kepada anak-anak adalah
a. Pembukaan
UUD 1945 ; “salah satu tujuan kemerdekaan ialah mencerdaskan setiap bangsa.”
b. Amandemen UUD 1945 pasal 28 C ’Setiap anak berhak
mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umatmanusia.
c.
UU No. 23/2002
Tentang Perlindungan Anak Pasal 9 ayat (1) ’Setiap anak berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minta dan bakat.’
3. Tujuan
Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Orangtua (ayah dan Ibu) sebagai pemimpin
sekaligus pengendali sebuah keluarga, dipastikan memiliki harapan-harapan atau
keinginan-keinginan yang hendak dicapai di masa depan. Harapan dan keinginan
tersebut ibarat sebuah cita-cita, sehingga orangtua akan berusaha sekuat tenaga
untuk mencapainya. Hal tersebut berlaku pula terhadap anak-anaknya. Para
orangtua dipastikan memiliki harapan-harapan terhadap anak-anak yang dilahirkan
dan dibesarkannya. Misalnya, mereka menginginkan sang anak menjadi orang yang
patuh, taat dan berbakti terhadap orangtua, suka menolong, cerdas, terampil,
mudah bergaul, berperilaku baik, tegas, disiplin dan sebagainya. Oleh karena
itu tujuan dari peran pola asuh dalam memahami anak anak adalah untuk
menciptakan generasi penerus yang akan menentukan cerah buramnya masa depan
bangsa di kemudian hari.
B.
PEMBAHASAN
1. Peran
Pola Asuh Orang Tua Dalam Memahami Anak
Orang
tua adalah seorang manusia yang telah diberi amanat oleh Allah swt untuk menjaga, melindungi ,dan mencintai
anak-anaknya. Namun hari ini orang tua menghadapi masalah yang sangat berat,
yakni adanya perbedaan pola asuh hari ini dengan masa lalu. Sebagaimana dicatat
oleh Lamanna dan Riedman (1994), berbagai persoalan itu misalnya:
a. Semakin
banyaknya ibu yang bekerja dan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. Hal ini
mengakibatkan semakin minimnya waktu yang bisa diberikan oleh ibu untuk
memfokuskan perhatian mereka kepada anak.
b. Adanya
standar yang lebih besar untuk
membesarkan anak dibandingkan jaman dulu: Misalnya membesarkan anak sekarang
tidak boleh memakai kekerasan (sudah ada Undang-Undang Anti Kekerasan terhadap
Anak) sehingga perlu mengembangkan teknik lain, anak dituntut masyarakat untuk
menguasai berbagai ketrampilan yang lebih kompleks daripada dulu (misalnya
harus bisa internet, sempoa, bisa berenang, bisa bahasa Inggris dan Mandarin,
materi pelajaran yang sangat banyak, dll.); juga kenyataan bahwa saat ini
memiliki anak yang bisa lulus kuliah dan berpendidikan baik bukan lagi
“pilihan” tapi semacam keharusan.
c.
Orang tua jaman sekarang membesarkan
anak dalam masyarakat majemuk yang memiliki berbagai “nilai keyakinan” yang
beraneka rupa, yang kadang bisa menimbulkan konflik. Hal ini terjadi karena
makin majunya teknologi yang memungkinkan penyebaran informasi dan nilai-nilai
keyakinan melalui berbagai sumber seperti: TV, film-film, buku, musik,
internet, dll. yang bisa saja bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita
ajarkan pada anak.
d.
Semakin getolnya orang-orang melakukan
penelitian bagi perkembangan anak. Berbagai hasil penelitian meyakinkan bahwa
sikap orang tua terhadap anak mempengaruhi IQ, kemampuan menghargai diri
sendiri anak, keberhasilan anak di masa mendatang, kepribadian anak, dll. Hal
ini semakin membuat orang tua, terutama ibu, yang sering ditunjuk sebagai
“petugas membesarkan anak di rumah”, menjadi merasa bersalah dan cemas, takut
bila telah melakukan kesalahan dalam membesarkan anak.
e.
Jenis keluarga yang semakin beragam
dengan adanya kawin cerai, memungkinkan orang memiliki anak tiri, keluarga
tanpa bapak atau ibu dll. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi para
keluargapun semakin kompleks dan beragam.
Dengan demikian
indikasi keberhasilan orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah
bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan
tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa
anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya
bahkan yang berat. Ia mampu melakukan hal tersebut terutama karena dia memiliki
rasa aman terhadap dirinya sendiri, meskipun bukan berarti bahwa dia tidak
selalu bebas dari rasa ragu terhadap dirinya sendiri (karena hanya orang-orang
yang terlalu sombong yang sama sekali tak pernah ragu akan dirinya sendiri). Ia
orang yang punya inner- life yang kaya (kehidupan di dalam pribadinya) dan
membahagiakan, yang membuatnya puas akan hidupnya sendiri. Mampu menjaga
hubungan yang memuaskan, “tahan lama”, dan dekat dengan orang lain, baik orang
tua, saudara-saudara, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka juga orang
yang bisa menikmati pekerjaannya, dan puas dengan apa yang dibuatnya dalam
kehidupan ini. Anak-anak yang seperti inilah yang dapat bertahan dalam arus
kehidupan yang bagaimanapun juga, yang tidak mudah terpengaruh meskipun diterpa
arus informasi yang mungkin saja menyesatkan seperti sekarang ini, baik melalui
TV, internet, film, musik dll.
2.
Cara
Terbaik Memahami Anak
Setelah kita memahami peran orang tua
dalam memahami anak, maka kita akan dihadapkan dengan prilaku dan tingkah polah
anak yang kadang-kadang kita tidak paham bagaimana mengatasinya. Banyaknya guru
dan orang tua yang selalu berkomentar “ bagaimana memahami perilaku dan
pemikiran mereka? Jawabanya adalah
mengenali emosi mereka, kita tidak bisa terus menerus memotivasi mereka dengan
“kamu harus giat belajar” “jagalah kebersihan”
dan motivasi-motivasi lainnya dan menjadikan kita motivator dadakan di
depan mereka, akan membuat sebal dan tidak akan mempan. Kecuali kita sudah
terlebih dahulu mengenali perasaannya, karena emosi sudah menguasai pikiran
logika mereka. Atau juga jika emosi negatif yang kita tanamkan kepada mereka
seorang anak tidak akan mendapatkan input dan semua titah tidak akan
digubrisnya. Atau juga seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala
kita umumnya ada 3 hal, yaitu :
a. Memberi
Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon
kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi
tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”
b. Menginterogasi,
misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu
yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba
diingat kembali”
c. Menyalahkan
dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon
kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih
disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.
Oleh karena itu cara terbaik untuk memahami anak
adalah mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk
mengetahui solusinya, yakni :
a.
Dengarkan mereka 100%, tatap matanya
dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan) Terkadang
yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian
100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan
perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau
nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil
jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu
kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak
hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat
kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat
menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari
pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir
bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misal : “saya
tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi?
Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”
b.
Mengenali dan mengambarkan emosi. Perlu
bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi
kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang
mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka
untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang
umumnya dialami oleh manusia. Nama Emosi dan Makna-nya :
1.
Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
2.
Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil
terhadap orang lain
3.
Takut – Kita diharapkan antisipasi
karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi
4.
Frustrasi – Melakukan sesuatu
berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
5.
Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa
terwujud
6.
Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa
berharga
7.
Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang
bermakna bukan hanya sekedar berteman
8.
Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk
belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
9.
Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh
dan mendapatkan tantangan baru
10.
Stress – Sesuatu yang terlalu
menyakitkan dan harus segera dihentikan
11.
Depresi – Sesuatu yang terlalu
menyakitkan dan harus segera dihentikan.
3. Membangun
Kekuatan Karakter Dalam Memahami Anak
Seperti
yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa.
Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi
ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan
yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan
rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak
tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh
sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di
lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik
pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan
lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama.
Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.
Karakter diri
akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik
ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara
pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja,
seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa
menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung
Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa
Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah
wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter
seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan
seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan
kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.
Sebagaimana
dicatat oleh Timothy Wibowo, Pada
diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki
peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting
dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku
kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih
obsesi dan menyelesaikan masalah. Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki
karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter
kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu
lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen
organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu
semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam
setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat. Ingatlah!
Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa
dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti
sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan
melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau
kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan
karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain. Pendidikan
karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam
diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa,
ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan
cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah
di sembarang tempat dan lain-lain. Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan
melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses
pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa
yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang
positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan
karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara
positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga. Lalu
bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan
terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan
sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau
sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk
satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter,
akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah,
masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang
kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga,
individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril
atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.
BAB III
SIMPULAN
DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan
sebagai berikut :
1. Indikasi keberhasilan
orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah bukan hanya produk
luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah
materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi
orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya.
2. Cara terbaik untuk memahami anak adalah mengakui
emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk mengetahui solusinya,
yakni :
a. Dengarkan
mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang.
b. Mengenali
dan mengambarkan emosi
3. Karakter
diri akan semakin kuat jika ketiga aspek yakni
daya cipta, rasa dan karsa tersebut terpenuhi.
Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan
keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan
kita.
B.
Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran
sebagai berikut :
1. Orang tua dan guru hendaknya dapat menguasai dan memahami
peran pola asuh dalam memahami dan mengendalikan anak-anaknya.
2. Orang tua dan guru hendaknya menerapkan peran pola
asuh dalam memahami anak-anaknya dalam
kegiatan sehari-hari.