Rabu, 24 April 2013

peran pola asuh


PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK


MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mata Kuliah Bahasa Indonesia










oleh
AI SITI NURAENI
122151097







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Tanpa tersadar hari ini kita telah memasuki era kehidupan dengan sistem komunikasi global, mulai dari televisi, radio, handphone dan tidak terkecuali internet yang telah merobohkan batas dunia. Senada dengan itu menjadi seorang ibu dijaman sekarang ini adalah tugas yang penuh tantangan. Berbagai persoalan-persoalan muncul bagaikan buih dilautan dan pola hidup manusia berubah menjadi individualistis. Para ibu hari ini telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Di perparah lagi dengan racun-racun yang diterima oleh anak-anak, baik di televisi, radio, internet maupun lingkungannya. Serta sistem pendidikan yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang anak anak kita saat ini.
Dengan berbagai tantangan ini, semua ibu tentu mendambakan untuk dapat menbesarkan anaknya meskipun harus berhadapan dengan tantangan jaman. Menurut Bettelheim (1987) menegaskan bahwa indikasi bahwa kita telah membesarkan anak dengan benar bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya bahkan yang berat. Maka seorang ibu harus bisa melakasnakan tantangan ini dengan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.
Dalam mewujudkan hal ini, maka seorang ibu maupun pendidik perlu dibekali ilmu dan pengetahuan yang memadai dan memberikan pemahaman bahwa mendidik dan membesarkan anak dengan benar bukan hanya sekedar patuh pada perintah dan baik di mata masyarakat saja, tapi yang penting adalah anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan menjadi dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan benar.
Dalam hal ini maka, berdasarkan keterbatasan penulis dan menghindari terlampau luasnya penelitian yang dilakukan, maka permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada peran, pola asuh, dan memahami anak-anak. Dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari dan anak-anak Republik Anak Elang yang dilaksanakan di Universitas Siliwangi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji dan mengetahui peran, pola asuh dan memahami anak-anak. Berdasarkan alasan tersebut, maka penulis tertarik mengambil judul PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI ANAK-ANAK.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Banyak guru dan orang tua yang mengeluh tidak sedikit juga kecewa dengan tingkah laku anak ,nilai ,dan prestasi yang jelek disekolah, ataupun nangis, ngambek, malu, nakal, suka bertengkar saat belajar dan pada akhirnya guru ataupun orang tua tak jarang memberikan hukuman dan membanding-bandingkan dengan anak lain yang dirasa sesuai dengan kita. Penyebabnya sudah pasti karena anak malas belajar. Bagaimana cara terbaik peran seorang guru ataupun orang tua menghadapi anak-anak yang seperti ini??
2.      Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, apalagi jika anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan menjadi dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan benar. bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?
3.      Bagaimana cara terbaik untuk membangun pola asuh dan membangun karakter terbaik bagi anak-anak?
C.       Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan.
1.      Menerapkan konsep peran terbaik bagi guru dan orang tua dalam memahami anak-anak.
2.      Menerapkan konsep peran pola asuh dalam memahami, membangun karakter anak-anak.
3.      Cara terbaik memahami anak-anak.



D.       Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.      Manfaat secara teoritis
Secara umum hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi siapapun utamanya dalam meningkatkan pemahaman konsep pemahaman terhadap peserta didik. Secara khusus penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada strategi pembelajaran.
2.      Manfaat secara praktis
Secara praktis, makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
a.       penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan;
b.      pembaca, sebagai media informasi tentang konsep penelitian baik secara teoretis maupun secara praktis.



 BAB II
PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK

A.       Kajian Teoritis
1.         Hakikat Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Berhasil atau tidaknya seorang ibu dan guru  dalam mendidik anak-anaknya dipengaruhi oleh peran pola asuh dalam memahami anak-anak. Peran pola asuh di sini adalah bagaimana seorang ibu atau guru  menjalankan peranannya dalam menjaga, mendidik, melatih, merawat dan memahami anak-anaknya agar anaknya bisa sukses dan bahagia. Mempunyai anak yang baik adalah impian semua orang tua di dunia begitu pun anak, mempunyai orang tua yang baik adalah impian setiap anak. Bettleheim (1987) menyebutkan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik, (dalam hal ini menjadi ibu yang baik), orang tua harus mampu merasa aman dan tidak cemas dalam perannya sebagai orang tua, dan hubungannya dengan anaknya. Penting pula mengenali “bagaimana perasaan kita sendiri menjadi orangtua bagi anak tersebut”. Menjadi orang tua yang baik hanya bisa dimulai dengan rasa nyamannya menjadi orang tua dan kegembiraannya menjalani peran sebagai orang tua. Rasa aman ini akan membuat anak juga merasa aman tentang dirinya sendiri.



2.         Landasan Yuridis Mengenai Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Tak hanya orang tua atau guru saja yang harus memahami anak, akan tetapi pemerintah juga, berperan dalam melindungi, mengayomi dan memahami anak-anak. Karena demi masa depan negeri. Salah satu contoh pemerintah peduli kepada anak-anak adalah
a.      Pembukaan UUD 1945 ; “salah satu tujuan kemerdekaan ialah mencerdaskan setiap bangsa.”
b.     Amandemen UUD 1945 pasal 28 C ’Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umatmanusia.
c.      UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 9 ayat (1) ’Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minta dan bakat.’

3.     Tujuan Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Orangtua (ayah dan Ibu) sebagai pemimpin sekaligus pengendali sebuah keluarga, dipastikan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan yang hendak dicapai di masa depan. Harapan dan keinginan tersebut ibarat sebuah cita-cita, sehingga orangtua akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Hal tersebut berlaku pula terhadap anak-anaknya. Para orangtua dipastikan memiliki harapan-harapan terhadap anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya. Misalnya, mereka menginginkan sang anak menjadi orang yang patuh, taat dan berbakti terhadap orangtua, suka menolong, cerdas, terampil, mudah bergaul, berperilaku baik, tegas, disiplin dan sebagainya. Oleh karena itu tujuan dari peran pola asuh dalam memahami anak anak adalah untuk menciptakan generasi penerus yang akan menentukan cerah buramnya masa depan bangsa di kemudian hari.
B.       PEMBAHASAN           
1.        Peran Pola Asuh Orang Tua Dalam Memahami Anak
Orang tua adalah seorang manusia yang telah diberi amanat oleh Allah swt  untuk menjaga, melindungi ,dan mencintai anak-anaknya. Namun hari ini orang tua menghadapi masalah yang sangat berat, yakni adanya perbedaan pola asuh hari ini dengan masa lalu. Sebagaimana dicatat oleh Lamanna dan Riedman (1994), berbagai persoalan itu misalnya:
a.      Semakin banyaknya ibu yang bekerja dan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. Hal ini mengakibatkan semakin minimnya waktu yang bisa diberikan oleh ibu untuk memfokuskan perhatian mereka kepada anak.
b.     Adanya standar  yang lebih besar untuk membesarkan anak dibandingkan jaman dulu: Misalnya membesarkan anak sekarang tidak boleh memakai kekerasan (sudah ada Undang-Undang Anti Kekerasan terhadap Anak) sehingga perlu mengembangkan teknik lain, anak dituntut masyarakat untuk menguasai berbagai ketrampilan yang lebih kompleks daripada dulu (misalnya harus bisa internet, sempoa, bisa berenang, bisa bahasa Inggris dan Mandarin, materi pelajaran yang sangat banyak, dll.); juga kenyataan bahwa saat ini memiliki anak yang bisa lulus kuliah dan berpendidikan baik bukan lagi “pilihan” tapi semacam keharusan.
c.         Orang tua jaman sekarang membesarkan anak dalam masyarakat majemuk yang memiliki berbagai “nilai keyakinan” yang beraneka rupa, yang kadang bisa menimbulkan konflik. Hal ini terjadi karena makin majunya teknologi yang memungkinkan penyebaran informasi dan nilai-nilai keyakinan melalui berbagai sumber seperti: TV, film-film, buku, musik, internet, dll. yang bisa saja bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita ajarkan pada anak.
d.        Semakin getolnya orang-orang melakukan penelitian bagi perkembangan anak. Berbagai hasil penelitian meyakinkan bahwa sikap orang tua terhadap anak mempengaruhi IQ, kemampuan menghargai diri sendiri anak, keberhasilan anak di masa mendatang, kepribadian anak, dll. Hal ini semakin membuat orang tua, terutama ibu, yang sering ditunjuk sebagai “petugas membesarkan anak di rumah”, menjadi merasa bersalah dan cemas, takut bila telah melakukan kesalahan dalam membesarkan anak.
e.         Jenis keluarga yang semakin beragam dengan adanya kawin cerai, memungkinkan orang memiliki anak tiri, keluarga tanpa bapak atau ibu dll. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi para keluargapun semakin kompleks dan beragam.
Dengan demikian indikasi keberhasilan orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya bahkan yang berat. Ia mampu melakukan hal tersebut terutama karena dia memiliki rasa aman terhadap dirinya sendiri, meskipun bukan berarti bahwa dia tidak selalu bebas dari rasa ragu terhadap dirinya sendiri (karena hanya orang-orang yang terlalu sombong yang sama sekali tak pernah ragu akan dirinya sendiri). Ia orang yang punya inner- life yang kaya (kehidupan di dalam pribadinya) dan membahagiakan, yang membuatnya puas akan hidupnya sendiri. Mampu menjaga hubungan yang memuaskan, “tahan lama”, dan dekat dengan orang lain, baik orang tua, saudara-saudara, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka juga orang yang bisa menikmati pekerjaannya, dan puas dengan apa yang dibuatnya dalam kehidupan ini. Anak-anak yang seperti inilah yang dapat bertahan dalam arus kehidupan yang bagaimanapun juga, yang tidak mudah terpengaruh meskipun diterpa arus informasi yang mungkin saja menyesatkan seperti sekarang ini, baik melalui TV, internet, film, musik dll.

2.         Cara Terbaik Memahami Anak
Setelah kita memahami peran orang tua dalam memahami anak, maka kita akan dihadapkan dengan prilaku dan tingkah polah anak yang kadang-kadang kita tidak paham bagaimana mengatasinya. Banyaknya guru dan orang tua yang selalu berkomentar “ bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?  Jawabanya adalah mengenali emosi mereka, kita tidak bisa terus menerus memotivasi mereka dengan “kamu harus giat belajar” “jagalah kebersihan”  dan motivasi-motivasi lainnya dan menjadikan kita motivator dadakan di depan mereka, akan membuat sebal dan tidak akan mempan. Kecuali kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaannya, karena emosi sudah menguasai pikiran logika mereka. Atau juga jika emosi negatif yang kita tanamkan kepada mereka seorang anak tidak akan mendapatkan input dan semua titah tidak akan digubrisnya. Atau juga seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :
a.      Memberi Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”
b.     Menginterogasi, misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”
c.      Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.
Oleh karena itu cara terbaik untuk memahami anak adalah mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk mengetahui solusinya, yakni :
a.      Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan) Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi. Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misal : “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”
b.     Mengenali dan mengambarkan emosi. Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia. Nama Emosi dan Makna-nya :
1.         Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
2.         Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
3.         Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi
4.         Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
5.         Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
6.         Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
7.         Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
8.         Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
9.         Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
10.     Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
11.     Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan.
3.     Membangun Kekuatan Karakter Dalam Memahami Anak
Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.
Sebagaimana dicatat oleh Timothy Wibowo, Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah. Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat. Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain. Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain. Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga. Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.






 BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.  Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut :
1.    Indikasi keberhasilan orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya.
2.    Cara terbaik untuk memahami anak adalah mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk mengetahui solusinya, yakni :
a.       Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang.
b.      Mengenali dan mengambarkan emosi
3.      Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek yakni daya cipta, rasa dan karsa tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita.



B.  Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut :
1.      Orang tua dan guru hendaknya dapat menguasai dan memahami peran pola asuh dalam memahami dan mengendalikan anak-anaknya.
2.      Orang tua dan guru hendaknya menerapkan peran pola asuh  dalam memahami anak-anaknya dalam kegiatan sehari-hari.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar