JEMBATAN SAYUP
Sore ketika ku pulang dari Program
Kerja Lapangan (PKL), anak-anak SMA telah pulang dari sekolah, datang dua
rombongan anak-anak SMA dari daerah indi dan lembang dengan teriakan-teriakan
yang tak pantas disebutkan oleh anak-anak yang berpendidikan. Beberapa menit
kemudian keduanya saling serang dan keributan akhirnya terjadi.
Tibalah suara alarem polisi datang
kira-kira 4 mobil polisi menghadang mereka dan mereka lari kocar-kacir, pada
akhirnyalah beberapa orang tertangkap dan beberapanya pun dapat melarikan diri.
Akhirnya keributanpun terhenti, tempat itu akhirnya
sepi, tak ada siapapun namun bekasnya terlihat. Ketika ku berjalan tepat di
sebuah jembatan sayup ada seseorang yang menangis kesakitan dan meminta
pertolongan, namun aku tak tahu dimana sumber suara tersebut. Namun semakin ku
melaju suara itu makin keras terdengar dan akhirnya aku melihat seseorang di
bawah jembatan. seseorang masih berbaju seragam merintih kesakitan, aku tahu ia
dari sekolah SMA Vektory yang bertetangga dengan sekolahku SMK Kebangsaan.
Ketika itu aku coba untuk melihatnya lebih dekat,
ternyata seseorang itu merintih kesakitan karena wajahnya tersiram air keras,
“subhanallah” teriakku. Langsung aku menelpon ambulan untuk membawanya ke rumah
sakit. Sepuluh menit kemudian ambulan tiba membawa seseorang itu. Dalam
perjalanan senandung adzan berkumandang, aku menatap langit, berpikir bagaimana
perasaan ibunya nanti melihat putranya seperti ini. Tiba-tiba ambulan terhenti
dan pintu belakang ambulan pun di buka, para perawat pun dengan sigap membawa
pria itu. Aku yang setengah shock segera
berlari mengikuti perawat yang membawa pria itu. Tiba-tiba suara handphone berbunyi, dari tas pria itu yang
aku bawa, lalu aku membuka tas tersebut, dan melihat di layar handphone itu “ibu”, aku bingung
bagaimana aku harus berkata kepada ibunya, lalu aku beranikan diri untuk mengangkatnya,
bagaimana pun orangtuanya berhak mengetahui apa yang terjadi kepada putranya.
Suara lirih mengucap salam di telingaku terdengar, seorang ibu yang sangat
mengkhawatirkan anaknya, “assalamualikum, nak masih dimana sekarang?” lalu aku
menjawab salamnya “waalaikumsalam bu”. “maaf ini siapa?”. “sebelumnya saya
minta maaf bu, karena membuat cemas ibu, saya Rasya, ibu bisa datang ke rumah
sakit sekarang?” dengan nada lirih aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi
kepada putranya itu, aku langsung mengajaknya untuk datang saja ke rumah sakit.
“ada apa de rasya?” “ibu datang saja ke rumah sakit, aku dan putra ibu ada
disini, aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi sekarang, maaf sekali bu, aku
tunggu ibu di ruang mawar Rumah sakit Setia Perkasa”. Telepon pun tiba-tiba
terputus, mungkin karena perasaaan sang ibu yang tidak karuan memikirkan
putranya yang tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku pun bergegas untuk melakasanakan
salat magrib. Setelah selesai salat, bergegaslah aku ke ruang mawar takut
orangtuanya telah tiba. Suster pun manghampiri dan bertanya “apakah sudah
dihubungi keluarganya?” saya pun menjawab dengan mengangguk, lalu suster
tersebut memberikan dompet pria itu,dengan sedikit berani aku pun membuka isi
dompetnya, aku hanya ingin mengetahui identitas dari pria itu lalu aku
membukanya dan menemukan kartu pelajar beratas namankan Bya Hamza Ar-rahman.
Lalu ku tutup kembali.
Dari jauh aku melihat seorang ibu berlari dengan cemas
bersama suaminya, aku memastikan beliau adalah orang tua dari Bya ini, kedua
orangtua tersebut menghampiri resepsionis dan menanyakan “apa ada pasien yang
bernama Bya?”. Lalu aku langsung berdiri dan menghampiri orangtua Bya, “ibu
perkenalkan aku Rasya Zifa yang mengangkat telpon tadi”, “mana Bya de?”. “Bya
ada dikamar perawatan dan belum bisa ditengok oleh siapapun, mari bu duduk dulu
akan aku jelaskan apa yang terjadi pada Bya”. Orangtuanya dengan mata cucuran
air mata mengikutiku untuk duduk di ruang tunggu, dan aku menjelaskan apa yang
terjadi saat itu, aku bilang bahwa Bya mengikuti tawran tadi sore di jembatan
Sayup, kulihat ibunda Bya tidak percaya bahwa putranya melakukan tawuran antar
pelajar itu, karena menurutnya Bya adalah anak yang baik dan di sekolahnya pun
mengikuti Forum Remaja Masjid, jadi tidak percaya bahwa putranya melakukan ini.
Aku menguatkan ibunda Bya dan menenangkannya “mungkin Bya korban bu, yang tak
sengaja lawat tawran tersebut”. Ayahnya bya pun tak dapat berdiam diri beliau
bolak balik melihat apa yang terjadi pada putranya itu. Isya telah berkumandang
saya izin pulang karena esok harus pergi PKL lagi, dan beliau pun mengizinkan,
aku akhirnya pulang tanpa tahu bagaimana kondisi bya selanjutnya.
Satu bulan kemudian, setelah selesai Program Kerja
Lapangan (PKL) aku pun kembali ke sekolah. Dan ketika aku turun dari angkutan
umum aku pun berpas-pasan dengan seseorang yang memakai masker dengan
mengendarai sepeda. Saya berpikir apa dia adalah Bya? Tapi aku yakini dia
adalah bya yang satu bulan yang lalu aku tolong di jembatan sayup. Syukurlah ia
telah kembali sekolah.
Setelah itu sesekali kami berpas-pasan dengannya,
karena sekolah kami yang berdekatan maka aku pun suka melihat bya pulang dengan
sepedahnya. Entah mengapa aku penasaran dengan luka di wajahnya, apakah dari
siraman itu membekas di wajahnya sampai ia harus memakai masker?. Entahlah,
Ujian Nasional dan peraktek-peraktek harus ku lalui
dan tak terasa aku akan segera lulus. Tawaran undangan SMPTN berdatangan
kesekolah hanya 30% lah yang akan di beri undangan untuk masuk PTN. Aku pun
mencoba untuk mengambil kesempatan tersebut. Namun apa boleh dikata kesempatan
itu tak bisa diambil karena datang surat dari National University Of Singapure
(NUS) bahawa aku lulus ujian masuk NUS tersebut. Rasa syukur aku panjatkan
kepada Allah swt karena aku adalah orang pertama dari sekolah ini yang bisa
melanjutkan mencari ilmu di Negara Singa tersebut yang lebih bersyukur lagi aku
mendapat beasiswa setengah harga dari kedutaan besar Indonesia, karena sebuah
prestasi anak bangsa bisa lolos di kampus biru jingga tersebut. Aku mengambil Faculty of Engineering dan aku tinggal di Kent Ridge.
Malam hari ini setelah usai ku laksanakan shalat isya,
aku keluar untuk melihat suasana malam di Singapur pertama kalinya sangat
berbeda dengan negaraku di Indonesia yang sangat sejuk dengan hembusan angin
yang sangat ku rindu, malam pertama ini di Singapur sangat ramai
mahasiswa-mahasiswa hampir semuanya pergi untuk sekedar hangout bersama. Aku tak berani untuk jalan malam ini. Sangat sepi
sekali suasana di flat ini namun aku
melihat di flat sebelah seseorang
jalan ke arahku. Tiba-tiba seseorang itu menghampiriku dan mengajak berkenalan
dengan ku. Ternyata dari Indonesia dari jawa barat, namanya mba Tani. Mba tani
ngambil Fakultas Kedokteran. Setelah berbicara panjang lebar dengannya, bahagia
banget hari pertama sudah dapet temen senegara.
Esoknya, hari pertama saya masuk kuliah di fakultas
Teknik, di NUS belum ditentukan jurusannya, jurusan akan di tentukan setelah
mencoba belajar satu semester disana. Pagi itu aku benar benar mempersiapkan
segalanya dengan sempurna. Dari flat
aku turun dengan semangat memberhentikan busway menuju NUS, ketika itu aku
ketemu mba tani dan kita pergi bersama menuju kampus, kampus NUS sangat luas
akhirnya sampai di gerbang NUS kami harus berpisah dan ku lanjutkan menggunakan
bis NUS menuju Fakultas Teknik.
Hari ini aku kuliah hanya sampai duhur, lekas solat
ada sms dari mba Tani “assalamualaikum de, ikut Perhimpunan Indonesia National
University of Singapure (PINUS) yuk, biar banyak temen jam 13.00, mba tunggu di
terminal fakultas seni” “oke mba”. Siang itu aku sangat bahagia ternyata aku
disini tidak sendiri, banyak kakak-kakak tingkat dan teman seangkatanku di sini
walaupun berbeda fakultas. Tapi yang membuatku sedih adalah aku sendiri orang
Indonesia yang kuliah di Fakultas Teknik. Pertemuan ini akhirnya berakhir
dengan tawa ceria, aku dan mba tani pun
pulang ke flat kita
masing-masing. Aku mencoba untuk merebahkan badan di tempat tidurku ini, aku
menerawang jauh hingga aku teringat seseorang yang pernah aku tolong ketika
kelas 2 SMK ketika itu. Aku langsung terbangun dan membuka laptop aku langsung
buka akun ku di Facebook dan Twitter. Lalu aku ketik nama Bya Hamza
Ar-Rahman namun tidak ada nama tersebut yang ada hanya Hamza Bya lalu aku coba
untuk membuka akun tersebut dan melihat kronologinya dan aku add friend dan ketika itu Hamza Bya
langsung mengkonfirm pertemananku, tidak banyak informasi yang mendukung bahwa
dia adalah Bya Hamza Ar-Rahman namun aku tetap penasaran dan mencoba untuk men-chat.
“assalamualaikum” “waalaikumsalam” “maaf sebelumnya mengganggu waktunya.
Perkenalkan saya Rasya Zifa dari tasikmalaya apa Hamza juga dari tasikmalaya”
“iya benar, ada yang bisa saya bantu?” “oh iya boleh tanya dimana SMA Hamza
sekarang?” “aku sudah keluar dari 2012 lalu, aku alumni SMA Viktory, ada apa
mba bertanya itu kepada saya?”. Aku tersenyum lebar sendirian akhirnya aku
menemukan akunnya Bya aku yakin ini Bya yang aku tolong ketika itu.
“terimakasih Hamza informasinya, maaf aku bertanya seperti itu, aku alumni SMK
Kebangsaan angkatan yang sama dengan Bya” “wah senang kalau begitu mba, apa
kita pernah bertemu sebelumnya?” “iya Bya, aku bertemu dengan Bya ketika di jembatan sayup, yang menolong Bya
ketika Bya tersiram air keras, bagaimana sekarang lukanya?” “benar kah, yang
menolongku, bahagia sekali aku bisa berkomunikasi dengan orang yang telah
menolongku, maaf mba, aku benar-benar tidak ingat siapa yang menolongku ketika
itu, ibuku juga menceritakannya kepadaku namun ibu juga lupa namanya siapa..
alhamdulilah Allah mengizinkanku untuk bisa mengucapkan terimakasih kepada
orang yang telah menolongku. Terimakasih ya mba. Untuk lukanya masih dalam
penyembuhan” “sama-sama, ya semoga cepat sembuh Bya” “aamiin”. Chat bya akhirnya offline namun perasaan bahagiaku semakin bertambah karena bisa
berkomunikasi dengan seseorang yang pernah ku tolong.
Di akhir semester 5 sudah ku lalui, jurusan yang ku
ambil yakni teknik Bioengeenering
yang sudah ku cintai. maka akhirnya aku harus menempuh program NUS yaitu the Participation on community service
atau kalau di Indonesia dikenal dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau mahasiswa mengenalnya
dengan sebutan magang. Pengumuman KKN pun sudah mulai tersebar via website
kampus. Lalu aku pun membuka website dengan memasukan akun NUS ku disana untuk
melihat dimana aku ditempatkan dan dengan siapa saja yang sekelompok denganku.
Dengan rasa syukur ku panjatkan karena aku berkesempatan untuk magang di
korporasion besar yang ada di Indonesia ya di Bogor lebih spesifiknya di IPB
leb. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi . Bedanya dengan
KKN yang ada di Indonesia kalau mahasiswa Indonesia KKN itu ke wilayah
tertinggal namun di NUS KKNnya ke perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi
besar. Setelah itu aku mengklik anggota sekelompokku ada 20 orang yang ikut
untuk magang di Indonesia dengan instansi-instansi yang berbeda namun tetap
dalam satu daerah. Mataku hampir keluar ketika nama Bya Hamza Ar-Rahman ada di
deretan kelompok magangku, dari Institut Sains Sistem dan Matematika Sains NUS.
Ketika itu aku pun membuka akun Fb ku namun dia tidak sedang online.
Seminggu sebelum pemberangkatan kelompok kami pun
mengadakan pertemuan di taman Fakultas Teknik. Rasa penasaranku membuat ku
datang lebih awal untuk melihat siapa orang dibalik naman Bya Hamza Ar-ramhan
tersebut, ½ jam kemudian anggota kelompok magang ke Indonesia pun datang,
kira-kira baru 19 orang yang datang dan berkumpul dan mencoba saling
berkenalan, datanglah seseorang bermasker dan meminta maaf kepada semuanya dan
ia pun yang terakhir yang belum memperkenalkan dirinya. Dengan untaian salam
dia memperkenalkan dirinya Bya Hamza Ar-Rahman dari Institut Sains Sistem dan
Matematika Sains NUS magang di IPB di Leb Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam jurusan Matematika.
Pemberangkatan ke Indonesia akan kita mulai, kira-kira
2 jam kita akan tiba di Indonesia, pukul 09.00 WIB kita tiba di Indonesia, lalu
kita langsung pergi keterminal menuju bogor, aku perhatikan Bya, yang tidak
mengenalku. Ketika bis menuju bogor ku naikki aku memberi senyum ke bya, namun
bya menunduk. Sesampainya di bogor dari 20 orang tersebut di bagi 4 kelompok
satu ke Rumah Sakit di sekitar Bogor, Kelompok dua di Perusahaan, Kelompok tiga
di instansi-instansi Pemerintahan, dan kelompok empat di laboratium IPB.
Kelompok empat aku, amita, bya, fikri. Perjalanan dari terminal bus bogor kami
harus lanjutkan dengan angkutan kota menuju IPB. Dalam perjalanan hanya Bya-lah
yang tetap terdiam. Aku coba untuk menyapanya “ Bya, dari tasik ya?” “iya, kok
tau?” “iya, aku juga sama dari tasik, aku Rasya Zifa, ga nyangka kita kuliah di
Universitas yang sama” “oh Rasya, terimakasih,”. Lalu aku pun melempar senyum
padanya.
Sesampainya di asrama asing kami disediakan dua kamar aku
dengan Amita dan Bya dengan Fikri. Pagi yang indah di Negara yang ku cintai
dengan pohon-pohon yang rindang di IPB dan Masjid Al-Huriyyah unik sangat
menenangkan dalam hati ini, setiapa ada
waktu luang kami gunakan untuk mengikuti kajian-kajian keislaman di sana.
Atau jalan-jalan keliling Bogor yang indah. Ketika kami berjalan menelusuri
kampus IPB, aku berkesempatan untuk memulai obrolan dengan Bya, dan menanyakan
kesehatan lukanya. Waktu magangku tinggal 2 minggu lagi dan disela itu Bya
meminta izin untuk penyembuhan selama 5 hari.
Tak terasa akhirnya perjuanganku magang di Indonesia
telah selesai, semua kembali pada urusannya masing-masing. Perjuangan menempuh
studyku setelah magang sangat berat menjadi seorang yang ahli dalam study
bioengeenering sungguh harus fokus dan harus ku jalani dengan serius.
Akhir perjuanganku pun telah usai hari ini aku pun di
wisuda dengan baju toga jingga biru kebanggaan semua orang. Tapi sayangnya
hanya orangtuaku yang bisa mendampingiku wisuda adik dan kakakku tidak bisa
datang karena keterbatasan dana dan sulitnya birokrasi mengenai administrasi
untuk datang ke luar negeri. Aku mencoba untuk bekerja sebagai asisten Leb di
Universitas Trisakti. Setahun kemudian kesempatan ku untuk belajar tidak pernah
habis, surat lamaran beasiswa S2 ku diterima dan aku melanjutkan studyku di NUS
kembali berkat beasiswa dikti untuk calon dosen, dan 3 bulan mendatang aku
berangkat ke Singapur. Perasaan bahagia sangat terlihat ketika ku mengajar kepada
mahasiswa Trisakti di Leb, dalam sesi pembelajaran peraktek aku menceritakan
bagaimana aku bisa menempuh ilmu di Negeri Singa, mungkin akan menjadi motivasi
bagai mahasiswa-mahasiswa. Banyak yang bertanya bagaimana nikmatnya belajar di
singapur, biaya hidup, dan tempat-tempat favorit di sana.
Hari sabtu ketika aku libur dari aktivitas kerjaku,
tiba-tiba hati ini resah, karena guru ngajiku meneleponku untuk mencoba taaruf
dengan seseorang, karena sang ibu khawatir, aku masih tetap fokus dengan
studyku dan akhirnyalah ibu menelepon guru ngajiku untuk mencarikanya untuku dan
aku pun memberanikan diri untuk mencoba. Namun keputusannya tetap ada di
tanganku.
Guru ku mengajak ku untuk bertemu di Masjid Agung
Tasikmalaya lantai dua, aku sengaja naik angkutan umum menuju ke sana. Dua kali
naik angkot harus ku tempuh. Sambil menunggu angkutan umum aku pun membeli minum
di warung, angkutan umun yang ku tunggu akhirnya ada, aku berlari dan
memberhentikan angkutan umum itu karena sudah lama sekali aku menanti angkutan
kota itu. Aku pun naik membawa air dan uang kembalian sembari terburu-buru.
Namun ditengah perjalanan ketika ku membuka tasku mengambil dompet ternyata
dompetku tidak ada. Untung saja uang kembalian masih ada di tangan, jadi saya
membayar ongkos angkot dengan uang kembalian tersebut, kemungkinan dompetku
ketinggalan di warung yang tadi atau juga jatuh di sekitar itu. Aku pun
berhenti di perempatan dan jalan ke Masjid Agung, ketika ku berjalan menuju
pelataran masjid ada seseorang yang memanggilku, “zifa, zifa, zifa..” aku pun
melirik kebelakang “ya ada apa?” “Ini dompet zifa oh iya, terimakasih, tapi
kenapa ada di mas?” “saya temukan ini di warung yang di depan lapangan udara”
“oh iya terimaksih banyak”. Aku berjalan menuju lantai 2 masjid Agung ternyata
aku yang datang lebih awal ke masjid ini. aku teringat dompetku yang seseorang
tadi bawa kenapa dia bisa tahu saya? Padalah tidak ada satupun foto dalam
dompet ini dan tidak ada identitasku di dompet ini. Ribuan tanda tanya ada
dibenakku, tapi sudahlah dompet sudah kembali dan sudah pula berterimakasih
kepada yang telah menolong.
Kring..kring… kring…
handphone langsung ku angkat guruku
menelepon dimana keberadaanku, beliau menyuruhku untuk pergi kelantai dua yang
di belakangnya masjid disana ada sebuah ruangan yang berhijab, lalu aku pun
memberi salam, duduk diruangan tersebut. Aku tak tahu siapa orang yang ada
dibelakan hijab itu, namun dalam hatiku bertekad ketika Allah mengizinkan
dengan keteguhan hatiku maka aku akan menerima namun ketika keteguhanku ragu
maka sebaliknya.
Guruku langsung memulai pembicaraan dengan menjelaskan
secara umum kita berdua tanpa menyebutkan nama ku dan namanya, dan guruku
menyuruhku untuk memperkenalkan diri sebelum dia yang belum aku ketahui,
“bismilahirohmanirohim, Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Rasya Zifa,
sekarang saya bekerja sebagai asisten Leb di Universitas Trisakti, dan
insyaAllah 3 bulan kedepan saya akan melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama di
kampus ku dulu”. Setelah memperkenalkan diri ini tibalah dia yang
memperkenalkan diri. “assalamualaikum wr. wb, perkenalkan nama saya Bya Hamza
Ar-Rahman, sekarang saya bekerja di lembaga Statistik, sekarang saya sedang
mengenyusun tesis di Universitas yang sama dimana kita dulu mencari ilmu”. Jantungku
berdebar kencang, mataku berkaca, sebenarnya siapa bya, yang masih menjadi
teka-teki hidupnya, aku terus menunduk tak sanggup lagi untuk berbicara, dan
sang guru pun menawarkan “apakah kalian ingin melihat satu sama lain?” aku
tetap tertunduk dalam diam jantungku terus berdabar kencang dan kepala ini
serasa tak bisa aku angkat. “bismilahirohamanirohim”, kucoba untuk mengangkat
kepalaku untuk melihatnya dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya, ternyata
orang yang mengembalikan dompetku tadi. Ketika itu entah mengapa air mataku
meneteskan air mata.
Karya : Ai Siti Nuraeni 29/10/2014