Sabtu, 27 April 2013

sesuai dengan tulisan mimpiku

assalamualaikum hari ini cukup mengesankan bagi ku, hari dimana aku bertemu orang orang yang satu tujuan dan satu visi bertemu orang orang yang selalu bersemangat dalam menjalankan apapun dan selalu bersabar dalam melalui apapun..
aku tak tahu rencana ini mengalir bagaikan air dan tepat pada selokan selokan syurga dalam mengukirkan garis kehidupan. ini memang situasi dan langkah yang tepat untuk sekarang, semoga Allah swt meridoiku pada jalan ini Ya Robb jangan smpai sekalipun aku berubah dan melenceng pada langkah hidup yang telah kau gariskan ini.....

Rabu, 24 April 2013

surat yang paling deg-degan


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Sehubungan dengan dilaksanakannya Open Recruitment kepengurusan HIMAPTIKA 2013/2014

pada minggu, 21 April 2013, maka dengan ini saya menyatakan SELAMAT kepada AI SITI NURAENI telah

diterima sebagai ANGGOTA BIDANG KEROHANIAN Kepengurusan HIMAPTIKA 2013/2014.

Saya berharap saudara mampu memberikan kontribusi yang baik dan benar demi tujuan

bersama untuk membangun kesejahteraan warga matematika.

Untuk informasi selanjutnya akan diberitahukan melalui media pesan singkat (Short Massage

Service). Terimakasih.

Hormat Saya,
Ketua HIMAPTIKA,

Uci Sanusi



alhamdulilah ya robb akhirnya,,, semoga menjadi lebih baik amin

peran pola asuh


PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK


MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mata Kuliah Bahasa Indonesia










oleh
AI SITI NURAENI
122151097







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Tanpa tersadar hari ini kita telah memasuki era kehidupan dengan sistem komunikasi global, mulai dari televisi, radio, handphone dan tidak terkecuali internet yang telah merobohkan batas dunia. Senada dengan itu menjadi seorang ibu dijaman sekarang ini adalah tugas yang penuh tantangan. Berbagai persoalan-persoalan muncul bagaikan buih dilautan dan pola hidup manusia berubah menjadi individualistis. Para ibu hari ini telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Di perparah lagi dengan racun-racun yang diterima oleh anak-anak, baik di televisi, radio, internet maupun lingkungannya. Serta sistem pendidikan yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang anak anak kita saat ini.
Dengan berbagai tantangan ini, semua ibu tentu mendambakan untuk dapat menbesarkan anaknya meskipun harus berhadapan dengan tantangan jaman. Menurut Bettelheim (1987) menegaskan bahwa indikasi bahwa kita telah membesarkan anak dengan benar bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya bahkan yang berat. Maka seorang ibu harus bisa melakasnakan tantangan ini dengan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.
Dalam mewujudkan hal ini, maka seorang ibu maupun pendidik perlu dibekali ilmu dan pengetahuan yang memadai dan memberikan pemahaman bahwa mendidik dan membesarkan anak dengan benar bukan hanya sekedar patuh pada perintah dan baik di mata masyarakat saja, tapi yang penting adalah anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan menjadi dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan benar.
Dalam hal ini maka, berdasarkan keterbatasan penulis dan menghindari terlampau luasnya penelitian yang dilakukan, maka permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada peran, pola asuh, dan memahami anak-anak. Dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari dan anak-anak Republik Anak Elang yang dilaksanakan di Universitas Siliwangi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji dan mengetahui peran, pola asuh dan memahami anak-anak. Berdasarkan alasan tersebut, maka penulis tertarik mengambil judul PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI ANAK-ANAK.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Banyak guru dan orang tua yang mengeluh tidak sedikit juga kecewa dengan tingkah laku anak ,nilai ,dan prestasi yang jelek disekolah, ataupun nangis, ngambek, malu, nakal, suka bertengkar saat belajar dan pada akhirnya guru ataupun orang tua tak jarang memberikan hukuman dan membanding-bandingkan dengan anak lain yang dirasa sesuai dengan kita. Penyebabnya sudah pasti karena anak malas belajar. Bagaimana cara terbaik peran seorang guru ataupun orang tua menghadapi anak-anak yang seperti ini??
2.      Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, apalagi jika anak mampu menyembangkan prinsif hidupnya menjadi anak yang baik, bertanggung jawab, berani, mandiri, tekun, menikmati kehidupannya, kreatif, dan menjadi dirinya sendiri dan yang tak kalah penting mengenal Allahnya dangan benar. bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?
3.      Bagaimana cara terbaik untuk membangun pola asuh dan membangun karakter terbaik bagi anak-anak?
C.       Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan.
1.      Menerapkan konsep peran terbaik bagi guru dan orang tua dalam memahami anak-anak.
2.      Menerapkan konsep peran pola asuh dalam memahami, membangun karakter anak-anak.
3.      Cara terbaik memahami anak-anak.



D.       Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.      Manfaat secara teoritis
Secara umum hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi siapapun utamanya dalam meningkatkan pemahaman konsep pemahaman terhadap peserta didik. Secara khusus penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada strategi pembelajaran.
2.      Manfaat secara praktis
Secara praktis, makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
a.       penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan;
b.      pembaca, sebagai media informasi tentang konsep penelitian baik secara teoretis maupun secara praktis.



 BAB II
PERAN POLA ASUH DALAM MEMAHAMI
ANAK-ANAK

A.       Kajian Teoritis
1.         Hakikat Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Berhasil atau tidaknya seorang ibu dan guru  dalam mendidik anak-anaknya dipengaruhi oleh peran pola asuh dalam memahami anak-anak. Peran pola asuh di sini adalah bagaimana seorang ibu atau guru  menjalankan peranannya dalam menjaga, mendidik, melatih, merawat dan memahami anak-anaknya agar anaknya bisa sukses dan bahagia. Mempunyai anak yang baik adalah impian semua orang tua di dunia begitu pun anak, mempunyai orang tua yang baik adalah impian setiap anak. Bettleheim (1987) menyebutkan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik, (dalam hal ini menjadi ibu yang baik), orang tua harus mampu merasa aman dan tidak cemas dalam perannya sebagai orang tua, dan hubungannya dengan anaknya. Penting pula mengenali “bagaimana perasaan kita sendiri menjadi orangtua bagi anak tersebut”. Menjadi orang tua yang baik hanya bisa dimulai dengan rasa nyamannya menjadi orang tua dan kegembiraannya menjalani peran sebagai orang tua. Rasa aman ini akan membuat anak juga merasa aman tentang dirinya sendiri.



2.         Landasan Yuridis Mengenai Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Tak hanya orang tua atau guru saja yang harus memahami anak, akan tetapi pemerintah juga, berperan dalam melindungi, mengayomi dan memahami anak-anak. Karena demi masa depan negeri. Salah satu contoh pemerintah peduli kepada anak-anak adalah
a.      Pembukaan UUD 1945 ; “salah satu tujuan kemerdekaan ialah mencerdaskan setiap bangsa.”
b.     Amandemen UUD 1945 pasal 28 C ’Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umatmanusia.
c.      UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 9 ayat (1) ’Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minta dan bakat.’

3.     Tujuan Peran Pola Asuh Dalam Memahami Anak
Orangtua (ayah dan Ibu) sebagai pemimpin sekaligus pengendali sebuah keluarga, dipastikan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan yang hendak dicapai di masa depan. Harapan dan keinginan tersebut ibarat sebuah cita-cita, sehingga orangtua akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Hal tersebut berlaku pula terhadap anak-anaknya. Para orangtua dipastikan memiliki harapan-harapan terhadap anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya. Misalnya, mereka menginginkan sang anak menjadi orang yang patuh, taat dan berbakti terhadap orangtua, suka menolong, cerdas, terampil, mudah bergaul, berperilaku baik, tegas, disiplin dan sebagainya. Oleh karena itu tujuan dari peran pola asuh dalam memahami anak anak adalah untuk menciptakan generasi penerus yang akan menentukan cerah buramnya masa depan bangsa di kemudian hari.
B.       PEMBAHASAN           
1.        Peran Pola Asuh Orang Tua Dalam Memahami Anak
Orang tua adalah seorang manusia yang telah diberi amanat oleh Allah swt  untuk menjaga, melindungi ,dan mencintai anak-anaknya. Namun hari ini orang tua menghadapi masalah yang sangat berat, yakni adanya perbedaan pola asuh hari ini dengan masa lalu. Sebagaimana dicatat oleh Lamanna dan Riedman (1994), berbagai persoalan itu misalnya:
a.      Semakin banyaknya ibu yang bekerja dan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. Hal ini mengakibatkan semakin minimnya waktu yang bisa diberikan oleh ibu untuk memfokuskan perhatian mereka kepada anak.
b.     Adanya standar  yang lebih besar untuk membesarkan anak dibandingkan jaman dulu: Misalnya membesarkan anak sekarang tidak boleh memakai kekerasan (sudah ada Undang-Undang Anti Kekerasan terhadap Anak) sehingga perlu mengembangkan teknik lain, anak dituntut masyarakat untuk menguasai berbagai ketrampilan yang lebih kompleks daripada dulu (misalnya harus bisa internet, sempoa, bisa berenang, bisa bahasa Inggris dan Mandarin, materi pelajaran yang sangat banyak, dll.); juga kenyataan bahwa saat ini memiliki anak yang bisa lulus kuliah dan berpendidikan baik bukan lagi “pilihan” tapi semacam keharusan.
c.         Orang tua jaman sekarang membesarkan anak dalam masyarakat majemuk yang memiliki berbagai “nilai keyakinan” yang beraneka rupa, yang kadang bisa menimbulkan konflik. Hal ini terjadi karena makin majunya teknologi yang memungkinkan penyebaran informasi dan nilai-nilai keyakinan melalui berbagai sumber seperti: TV, film-film, buku, musik, internet, dll. yang bisa saja bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita ajarkan pada anak.
d.        Semakin getolnya orang-orang melakukan penelitian bagi perkembangan anak. Berbagai hasil penelitian meyakinkan bahwa sikap orang tua terhadap anak mempengaruhi IQ, kemampuan menghargai diri sendiri anak, keberhasilan anak di masa mendatang, kepribadian anak, dll. Hal ini semakin membuat orang tua, terutama ibu, yang sering ditunjuk sebagai “petugas membesarkan anak di rumah”, menjadi merasa bersalah dan cemas, takut bila telah melakukan kesalahan dalam membesarkan anak.
e.         Jenis keluarga yang semakin beragam dengan adanya kawin cerai, memungkinkan orang memiliki anak tiri, keluarga tanpa bapak atau ibu dll. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi para keluargapun semakin kompleks dan beragam.
Dengan demikian indikasi keberhasilan orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya bahkan yang berat. Ia mampu melakukan hal tersebut terutama karena dia memiliki rasa aman terhadap dirinya sendiri, meskipun bukan berarti bahwa dia tidak selalu bebas dari rasa ragu terhadap dirinya sendiri (karena hanya orang-orang yang terlalu sombong yang sama sekali tak pernah ragu akan dirinya sendiri). Ia orang yang punya inner- life yang kaya (kehidupan di dalam pribadinya) dan membahagiakan, yang membuatnya puas akan hidupnya sendiri. Mampu menjaga hubungan yang memuaskan, “tahan lama”, dan dekat dengan orang lain, baik orang tua, saudara-saudara, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka juga orang yang bisa menikmati pekerjaannya, dan puas dengan apa yang dibuatnya dalam kehidupan ini. Anak-anak yang seperti inilah yang dapat bertahan dalam arus kehidupan yang bagaimanapun juga, yang tidak mudah terpengaruh meskipun diterpa arus informasi yang mungkin saja menyesatkan seperti sekarang ini, baik melalui TV, internet, film, musik dll.

2.         Cara Terbaik Memahami Anak
Setelah kita memahami peran orang tua dalam memahami anak, maka kita akan dihadapkan dengan prilaku dan tingkah polah anak yang kadang-kadang kita tidak paham bagaimana mengatasinya. Banyaknya guru dan orang tua yang selalu berkomentar “ bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?  Jawabanya adalah mengenali emosi mereka, kita tidak bisa terus menerus memotivasi mereka dengan “kamu harus giat belajar” “jagalah kebersihan”  dan motivasi-motivasi lainnya dan menjadikan kita motivator dadakan di depan mereka, akan membuat sebal dan tidak akan mempan. Kecuali kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaannya, karena emosi sudah menguasai pikiran logika mereka. Atau juga jika emosi negatif yang kita tanamkan kepada mereka seorang anak tidak akan mendapatkan input dan semua titah tidak akan digubrisnya. Atau juga seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :
a.      Memberi Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”
b.     Menginterogasi, misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”
c.      Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.
Oleh karena itu cara terbaik untuk memahami anak adalah mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk mengetahui solusinya, yakni :
a.      Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan) Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi. Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup. Misal : “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”
b.     Mengenali dan mengambarkan emosi. Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia. Nama Emosi dan Makna-nya :
1.         Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
2.         Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
3.         Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi
4.         Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
5.         Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
6.         Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
7.         Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
8.         Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
9.         Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
10.     Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
11.     Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan.
3.     Membangun Kekuatan Karakter Dalam Memahami Anak
Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.
Sebagaimana dicatat oleh Timothy Wibowo, Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah. Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat. Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain. Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain. Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga. Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.






 BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.  Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut :
1.    Indikasi keberhasilan orang tua dalam memahami dan membesarkan anakanya adalah bukan hanya produk luar bahwa anak itu telah mencapai gelar kesarjanaan tertentu atau jumlah materi ini atau itu. Tetapi yang terutama adalah bahwa anak tersebut menjadi orang yang mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya.
2.    Cara terbaik untuk memahami anak adalah mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk mengetahui solusinya, yakni :
a.       Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang.
b.      Mengenali dan mengambarkan emosi
3.      Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek yakni daya cipta, rasa dan karsa tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita.



B.  Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut :
1.      Orang tua dan guru hendaknya dapat menguasai dan memahami peran pola asuh dalam memahami dan mengendalikan anak-anaknya.
2.      Orang tua dan guru hendaknya menerapkan peran pola asuh  dalam memahami anak-anaknya dalam kegiatan sehari-hari.











Sabtu, 13 April 2013

andalusia dan seorang laki-laki muda

eramuslim - Cuaca sembab di penghujung petang. Sejak pagi angin bertiup kencang, disertai terbangan debu yang memerihkan mata. Matahari hilang entah ke mana. Aku masih setia duduk menanti trem kota yang membawaku pada tujuan.

Satu jam berlalu, namun trem kota yang menjadi sahabat karibku belum juga muncul. Aku sibuk merapikan syal yang melilit leher rapat-rapat. Dingin semakin membeku. Orang-orang yang senasib denganku hanya beberapa. Mungkin lantaran cuaca muram, orang-orang jadi malas keluar rumah. Kalau bukan hal ihwal mendesak, aku tak keluar pula. Lebih baik berdiam melahap buku-buku atau berselingkup di balik selimut tebal.

Tiba-tiba seorang lelaki muda berusia 30-an mengajak bercakap. Setelah basa-basi sekedarnya, kami terlibat pembicaraan. Aku pikir, di negeri ini basa-basi masih berperan penting. Sehingga, kalau awak tak kuasai barang sedikitpun, tak bakal diperhatikan.

Bukan lantaran aku tertarik pada basa-basinya. Karena bagiku, basa-basi sangat menjemukan. Ia mengisahkan perjalanannya ke negeri-negeri Timur Jauh. Ia mengaku pernah menjenguk Cina, Jepang dan Korea. Banyak hal aku belajar dari mereka. Bangsa-bangsa tadi sangat menghargai waktu dan berdisiplin tinggi. Sehingga satu detik sangat berharga sekali.

Tak seperti trem listrik yang tengah kami nanti. Satu jam lebih berlalu tak terasa. Sedangkan cuaca semakin memburuk. Tak lupa ia menanyakan tentangku. Aku katakan padanya. Ana min Andunisia? Min Jazirah Sumathrah? Biasanya, setiap kukatakan 'Min Sumathrah' selalulah mereka langsung paham. Apalagi dalam pelajaran geografi mereka, jazirah ini pernah disinggung. Apalagi kalau mengingat pengembaraan Ibnu Baitutah yang pernah mencatat kesultanan Islam yang menyerucup di pulau sebesar Inggris tersebut.

Kalau kita menyimak dalam masterpiece 'Rihlah Ibnu Baitutah' antara lain dicatat tentang kesultanan di Aceh. Aku memang belum menamatkan kitab 'Rihlah Ibnu Baitutah' secara tuntas. Cuma, ketika aku menukil selintas, bagaimana sejarawan dan penjelajah Qordova tersebut mencatat setiap hal yang ditemuinya di pulau tersebut. Karena tertawan keindahan pulau itu, ia lantas menyebut "Andalusia fi Syarqiah" (Andalus di Timur). Seorang penjelajah Eropa berkebangsaan Italia, Marcopolo, pernah bertandang ke pulau perca tersebut. Ia juga mencatat setiap peristiwa yang ditemui dan ditulis dalam sebuah buku. Sayangnya, aku belum pernah memiliki bukunya.

Tapi bukan lantaran sejarah yang kami singgung dalam percakapan tadi yang menarik hatiku. "Kadang aku berpikir, aku sudah mendatangi negeri-negeri jauh, namun sekejap pun aku belum pernah mendatangi Baitullah di Mekkah." Aku pikir hanya basa-basinya lagi. Rupanya bukan, dengan penuh keterharuan ia ceritakan harapannya mengunjungi tanah suci tersebut.

"Terus terang aku tidak tahu banyak tentang haji. Kalau kau berbaik hati, di manakah bisa aku dapatkan tentang haji," katanya.

"Kau bisa dapatkan di buku-buku manasik haji, bukankah banyak ulama telah mencucurkan penanya membahas rukun Islam satu ini? Kalau kau tertarik, kau bisa beli karya Syeikh Nashiruddin Albani, Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz dan alim-ulama lainnya. Di setiap maktabah, akan kau dapatkan dengan mudah. Insya Allah secara panjang lebar telah dijelaskan alim-ulama itu," ujarku.

"Apakah kau sudah pergi haji?" tanyanya.

"Alhamdulillah, aku sudah menunaikan ibadah haji dua tahun lepas. Tepatnya tahun 2002 lalu."

"Bisa tidak kau kisahkan padaku tentang hajimu? Sungguh, aku sama sekali tak tahu tentang haji. Kalau kau tak keberatan, berceritalah tentang tawaf, hajar aswad, maqam Ibrahim As, Hijr Ismail, Zamzam, sai antara safa-marwah hingga selesai."

Aku pun berkisah tentang ibadah haji panjang lebar. Aku ceritakan semua padanya. Untuk memudahkan bayangannya, aku keluarkan secarik kertas dan pena. Aku terangkan mana posisi Ka'bah, hajar aswad, hijr Ismail, rukun Iraqi, rukun Yamani, maqam Ibrahim dan sebagainya. Ia menyimak dengan tekun.

"Apakah Maqam Ibrahim itu memang benar-benar makamnya?" tanyanya. "Bukan!" ujarku. "Itu hanya bekas telapak kakinya berpijak ketika mendirikan Ka'bah bersama anaknya Ismail a.s. Dulu bekas tapak-tapak dalam bangunan sangat merepotkan bagi jemaah haji yang bertawaf. Seiring pengembangan Masjidil Haram, maka untuk memudahkan jemaah haji yang mau bertawaf, akhirnya jejak-jejak yang membekas dalam batu tersebut diletakkan dalam sekotak kaca beratap yang bisa dilihat dari seluruh penjuru."

Panjang lebar kami membicarakan tentang haji. Tiba-tiba ia bertanya, "Apakah haji membekas padamu?" Aku terdiam beberapa saat, sambil melebarkan daun telinga dan menajamkan pendengaran. "Apa katamu tadi?" tanyaku. "Ya, apakah orang-orang yang sudah menunaikan haji memiliki bekas tersendiri?" tanyanya. Kembali aku terdiam. "Tentang satu ini, maaf, aku tak bisa jawab". Selang sesaat azan maghrib memenuhi langit. "Mohon izin, aku mau ke masjid dulu," kataku.

Habis sholat maghrib, ketika hendak keluar masjid, seorang perempuan muda bertanya padaku, "Di manakah tempat sholat kaum perempuan?" "Di atas sana," kataku, sambil menunjuk pintu masuknya. Hatiku terasa sejuk. Tapi mana lelaki muda, kawan satu tujuanku tadi. Ah, agaknya ia telah pergi bersama trem listrik yang datang saat aku tengah sholat tadi. Sampai akhir pembicaraan tadi, kami tak saling berkenalan. Hanya aku tahu, ia satu tujuan denganku dan kebetulan bertemu di mahattah (halte) yang sama.

Lagi-lagi aku ingat haji. Aku berdoa pada Allah, agar hajiku lalu diterimanya sebagai Hajjan Mabruuran. Agar segala salah silap dosaku diampuni Allah. Biar aku terasa 'dilahirkan' kembali. Agar selanjutnya, hidupku meniti tuntunan-Nya.

Minggu lalu aku baca tulisan guru sastraku yang selalu muncul tiap pekan dengan judul 'Partir' dan 'Sujud' tentang pengalaman hajinya. Tiba-tiba aku ingat lelaki muda tadi. Kawan sepercakapan, namun tak saling kenal.

Besoknya, aku dapat kabar, seorang kawan mudaku tak dapat Paspor dan Visa Hajinya. Sabarlah, Dek!

Ahmad David Kholilurrahman
*Mahasiswa Universitas Al-Azhar-Mesir.

Jumat, 12 April 2013

Jangan Sampai Salah Memilih Pasangan Hidup

Jangan Sampai Salah Memilih Pasangan Hidup


Kebimbangan itulah perasaan yang sering muncul di hati para lajang tatkala harus memutuskan dengan siapa ia akan menikah. Perasaan ini wajar muncul, karena keputusan menikah adalah keputusan besar yang akan mempengaruhi jalan hidup seseorang, karenanya mereka akan berhati-hati dalam menentukan calon pendamping hidupnya.

Kebimbangan semacam ini juga dirasakan Annisa, wanita berusia 24 tahun yang kebetulan berparas cantik. Sebagai muslimah ia sudah merasa jengah dengan para lelaki yang mencoba mendekatinya. Baginya hanya ada satu solusi, menikah. Tapi ia jadi bingung pria mana yang harus ia terima pinangannya. Di mata Annisa setiap pria yang mencoba mendekatinya memiliki kekurangan. Kini Annisa jadi bertanya dalam hati sebenarnya syarat apa saja sih yang mesti ia tetapkan untuk calon pendampingnya kelak?.

Tak ada gading yang tak retak, begitu yang dikatakan pepatah untuk mengungkapkan sebenarnya tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, namun sesungguhnya ada kualitas kepribadian dasar yang harus kita dan calon pasangan kita miliki agar dapat membina mahligai rumah tangga yang bahagia. Kualitas pribadi tersebut antara lain:

Kualitas Keberagamaan
Agama merupakan keyakinan yang mempengaruhi hati, fikiran perasaan dan tingkah laku seseorang sehingga orang yang mempunyai pemahaman serta pengalaman agamanya yang baik akan sangat terbantu dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi ini pada akhirnya akan mempengaruhi kebahagiaan dan kelanggengan sebuah perkawinan.

Memiliki Komitmen Untuk Mengembangkan Diri
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya msing-masing. Namun setiap orang juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Penting bagi kita untuk memiliki komitmen pengembangan pribadi ini, yaitu bagaimana seseorang memahami kekurangan yang ada, belajar dari kesalahan dan mau mendengarkan nasihat orang lain. Semua hal tersebut bermuara pada bagaimana ia membangun dan mengembangan dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijak.

Keterbukaan Emosional
Artinya adalah orang yang memiliki perasaan, mengetahui apa yang sedang dirasakan, mau berbagi perasaan dengan pasangannya dan mengetahui cara mengungkapkan perasaan. Keterbukaan Emosional menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dengan pasangan kita, sedangkan komunikasi yang baik adalah modal penting dalam membangun rumah tangga harmonis.

Memiliki Integritas
Setiap orang mendambakan calon pasangan yang mempunyai integritas diri. Kita menginginkan orang yang, jujur, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam hal ini terutama dengan pasangannya, kita juga ingin calon pasangan kita adalah orang yang tidak main-main dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi masa depannya. Itulah makna integritas diri.

Kematangan dan Tanggung Jawab

Memiliki kematangaan berarti ia bisa mengurus dirinya sendiri, tahu mana yang baik/buruk buat dirinya. Sedangkan bertanggung jawab berarti dia memahami langkah yang dia ambil beserta resiko-resiko yang mungkin dihadapi.

Memiliki Harga Diri
Ingatlah agar seseorang bisa mencintai ia harus cinta pada dirinya sendiri. Karena itu lihatlah bagaimana cintanya ia pada dirinya sendiri. Kalau ia sendiri tidak mencintai dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mencintai pasangannya?

Sikap Positif Terhadap Kehidupan
Mereka yang memiliki sikap hidup positif akan berusaha mengubah segala kendala menjadi peluang, dan biasanya percaya bahwa segalanya akan bisa menjadi baik.

Itu semua kualitas ideal yang perlu dimiliki oeleh calon pasangan kita dan diri kita sendiri pada saat kita akan menikah. Namun situasi yang dihadapai Annisa atau situasi yang sejenis dengan itu, sering membuat kita tidak bisa berfikir jernih. Karena itu adalah hal-hal yang harus kita waspadai agar tidak salah paham dalam memilih pasangan. Hal-hal seperti ini mungkin akan membantu kita :

1. Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikah dengan si dia

Sediakan waktu yang cukup untuk memperoleh informasi yang memadai tentang calon pasangan anda tersebut. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari calon pasangan hidup kita itu:

a. Latar Belakang Kehidupan.
- Nasab/latar belakang keturunan mencakup hubungan keluarga asal, apakah berasal dari keluarga utuh, harmonis, atau broken home. Termasuk bentuk hubungan dengan saudara kandung

- Agama, norma-norma atau nilai-nilai status sosial ekonomi, suku, tradisi budaya keluarga asal.

- Adakah penyakit keturunan yang berhubungan dengan faktor genetic.

b. Masalah yang berkaitan dengan kualitas diri
- Kualitas Dien
- Akhlaq
- Tipe kepribadian (tertutup/terbuka, pendiam, periang, emosional, sabar)
- Pendidikan, kapasitas intelektual, profesi.
- Latar belakang organisasi, aktivitas sosial.
- Kemampuan problem solving
- Kepercayaan diri.

2. Jangan menikah di usia yang belum matang secara pribadi
Siap menikah berarti siap menghadapai masalah yang semuanya menuntut kedewasaan berfikir dan bersikap. Kedewasaan ini tidak bisa di ukur dengan usianya lebih dewasa dibanding mereka yang lebih tua.

Kedewasaan juga mempengaruhi dalam kita menentukan pilihan calon pasangan kita. Mereka yang kurang matang cenderung hanya terpukau pada hal-hal yang bersifat luaran saja.

3. Jangan memilih pasangan hanya untuk menyenangkan orang lain
Andalah orang yang beruntung atau yang menderita dengan pernikahan anda. Kalau pun ada faktor orang lain dalam mempertemukan antara anda dengan si dia pastikan bahwa anda sendirilah yang memutuskan bahwa dialah yang memang terbaik buat anda (tentunya beristiqarah terlebih dahulu).

4. Jangan menikah dengan harapan-harapan yang tidak realistis
Biasanya niatan awal menikah mempengaruhi masalah-masalah apa yang akan mendominasi selama kehidupan perkawinan. Kepuasan dalam kehidupan perkawinan dan terhadap tolak ukurnya berada pada harapan tersebut. Bila tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan.

5. Jangan menikah dengan seseorang yang memilki masalah kepribadian
Berhati-hatilah terhadap orang yang memiliki kepribadian yang sulit untuk dirubah, diperlukan pengertian dan lapang dada yang luar biasa untuk menghadapi orang seperti ini. Pada dasarnya setiap orang memiliki perilaku bermasalah, namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kadar, intensitas dan frekwensinya seseorang yang masuk dalam kategori mengalami masalah kepribadian adalah bila memiliki prilaku bermasalah yang mendominasi keseharian dan mempengaruhi adaptasinya dengan orang lain. Biasanya orang seperti ini sering membuat orang lain atau dirinya sendiri merasa terganggu dan tidak nyaman dengan perilakunya.

Inna Mutmainnah, S.Psi.
Sumber: Majalah Safina No. 2/Th.1