Jumat, 26 Desember 2014

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah                   : SMAN 2 Tasikmalaya
Kelas/Semester       : X / 2
Mata Pelajaran        : Matematika-Wajib
Materi Pokok          : Peluang
Alokasi Waktu        : 3 × 4 jam pelajaran (45 menit)

A.     Kompetensi Inti SMA kelas X:
1.    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.    Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
3.    Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.    Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     Kompetensi Dasar
1.1    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.1    Memiliki motivasi internal, kemampuan bekerjasama, konsisten, sikap disiplin, rasa percaya diri, dan sikap toleransi dalam perbedaan strategi berpikir dalam memilih dan menerapkan strategi menyelesaikan masalah.Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif
2.2    Mampu mentransformasi diri dalam berpilaku jujur, tangguh mengadapi masalah, kritis dan disiplin dalam melakukan tugas belajar matematika.
3.1 Mendeskripsikan konsep peluang suatu kejadian menggunakan berbagai objek nyata dalam suatu percobaan menggunakan frekuensi relatif.
4.1 Menyajikan hasil penerapan konsep peluang untuk menjelaskan berbagai objek nyata melalui percobaan menggunakan frekuensi relatif.

C.     Indikator Pencapaian Kompetensi.
1.    Berdiskusi, bertanya dalam menemukan konsep dan prinsip peluang melalui pemecahan masalah autentik yang bersumber dari fakta dan lingkungan;.
2.    Berkolaborasi memecahkan masalah otentik dengan pola interaksi edukatif;
3.    Berpikir tingkat tinggi dalam menyelidiki, memanipulasi, dan mengaplikasikan konsep dan prinsip-prinsip peluang dalam memecahkan masalah otentik.
D.     Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran Peluang ini diharapkan siswa dapat:
1.    Mendeskripsikan konsep peluang suatu kejadian menggunakan berbagai objek nyata dalam suatu percobaan menggunakan frekuensi relatif.
2.    Menyajikan hasil penerapan konsep peluang untuk menjelaskan berbagai objek nyata melalui percobaan menggunakan frekuensi relatif.
E.     Materi Pembelajaran 
1.      Menemukan Konsep Peluang dengan Frekuensi Relatif
2.      Pengertian Percobaan, Kejadian, Titik Sampel dan Ruang Sampel
3.      Cara Penyajian dan Penentuan Ruang Sampel
4.      Peluang komplemen suatu kejadian
F.      Model/Metode Pembelajaran
Model                  : Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning)
Pendekatan         : Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (scientific).
Metode                : Menggunakan kelompok diskusi yang berbasis masalah.
G.    Alat/Media/Sumber Pembelajaran
Media Pembelajaran      : Bahan Ajar, Lembar Kerja Proyek, Power Point
Alat Pembelajaran         : Laptop, Penggaris, Dadu, Uang koin
Sumber Pembelajaran   : buku peserta didik, kemendikbud 2013 hal (365), internet dan lingkungan
H.    Kegiatan Pembelajaran
1.      Pertemuan Kesatu :
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
Pra Pembelajaran
1.      Guru mengkondisikan kelas dalam suasana kondusif untuk berlangsungnya pembelajaran.
2.      Guru memberikan motivasi tentang pentingnya memahami Peluang khususnya Konsep Peluang dengan Frekuensi Relatif dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
4.      Guru menginformasikan tentang proses pembelajaran yang akan dilakukan termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran berlangsung.
5.      Guru melakukan apersepsi dengan melakukan pertanyaan secara klasikal yang bersifat menuntun dan menggali.
10 menit
Inti







































Fase-1: Penentuan Pertanyaan Mendasar

Guru mengemukakan pertanyaan esensial yang bersifat eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki siswa berdasarkan pengalaman belajarnya yang bermuara pada penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
§ Bagaimana menentukan peluang kejadian jika uang logam di lempar ?
§ Bagaimana menentukan peluang kejadian jika dadu dilempar ?
Fase-2.Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

·      Guru Mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok yang heterogen (4-5) orang. Heterogen berdasarkan tingkat kognitif atau etnis
·      Guru memfasilitasi setiap kelompok untuk menentukan ketua dan sekretaris secara demokratis, dan mendeskripsikan tugas masing-masing setiap anggota kelompok.
·      Guru dan peserta didik membicarakan aturan main untuk disepakati bersama dalam proses penyelesaian proyek. Hal-hal yang disepakati:  pemilihan aktivitas, waktu maksimal yang direncanakan, sansi yang dijatuhkan pada pelanggaran aturan main, tempat pelaksanaan proyek, hal-hal yang dilaporkan, serta  alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek
Fase-3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat jadwal aktifitas yang mengacu pada waktu maksimal yang disepakati.
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyusun langkah alternatif, jika ada sub aktifitas yang molor dari waktu yang telah dijadwalkan.
·      Guru meminta setiap kelompok menuliskan alasan setiap pilihan yang telah dipilih.

Fase-4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
·      Guru Membagikan Lembar Kerja siswa yang berisi tugas peroyek dengan tagihan: 1) menuliskan informasi yang secara eksplisit dinyatakan dalam tugas, 2) menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan masalah/tugas yang diberikan, 3) menuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan pengalaman belajarnya yang terkait dengan tugas, 4) mengaitkan konsep-konsep yang dinyatakan secara eksplisit dalam tugas dengan konsep-konsep/prinsip-prinsip yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman belajarnya, 5) melakukan dugaan-dugaan berdasarkan kaitan konsep poin 4), 6) menguji dugaan dengan cara mencoba, 6) menarik kesimpulan
·      Guru memonitoringterhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek dengan cara melakukan skaffolding jika terdapat kelompok membuat langkah yang tidak tepat dalam penyelesaian proyek.
Fase-5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
·      Guru telah melakukan penilaian selama monitoring dilakukan dengan mengacu pada rubrik penilaian.yang bertujuan: mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

Fase-6. Mengevaluasi Pengalaman

·      peserta didik secara berkelompok melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Hal-hal yang direfleksi adalah kesulitan-kesulitan yang dialami dan cara mengatasinya dan perasaan yang dirasakan pada saat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Selanjutnya kelompok lain diminta menanggapi

160 menit
Penutup

·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyimpulkan hasil temuan barunya,
·      Guru memberikan tugas proyek pada buku halaman 366 untuk dikerjakan selama satu minggu
10 menit

2.      Pertemuan kedua
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
Pra Pembelajaran
6.      Guru mengkondisikan kelas dalam suasana kondusif untuk berlangsungnya pembelajaran.
7.      Guru memberikan motivasi tentang pentingnya Pengertian Percobaan, Kejadian, Titik Sampel dan Ruang Sampel dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
8.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
9.      Guru menginformasikan tentang proses pembelajaran yang akan dilakukan termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran berlangsung.
10.  Guru melakukan apersepsi dengan melakukan pertanyaan secara klasikal yang bersifat menuntun dan menggali.
10 menit
Inti







































Fase-1: Penentuan Pertanyaan Mendasar

Guru mengemukakan pertanyaan esensial yang bersifat eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki siswa berdasarkan pengalaman belajarnya yang bermuara pada penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
§  Apa pengertian peluang
§  Apa pengertian percobaan, kejadian, titik sampel, ruang sampel ?
Fase-2.Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

·      Guru Mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok yang heterogen (4-5) orang. Heterogen berdasarkan tingkat kognitif atau etnis
·      Guru memfasilitasi setiap kelompok untuk menentukan ketua dan sekretaris secara demokratis, dan mendeskripsikan tugas masing-masing setiap anggota kelompok.
·      Guru dan peserta didik membicarakan aturan main untuk disepakati bersama dalam proses penyelesaian proyek. Hal-hal yang disepakati:  pemilihan aktivitas, waktu maksimal yang direncanakan, sansi yang dijatuhkan pada pelanggaran aturan main, tempat pelaksanaan proyek, hal-hal yang dilaporkan, serta  alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek
Fase-3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat jadwal aktifitas yang mengacu pada waktu maksimal yang disepakati.
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyusun langkah alternatif, jika ada sub aktifitas yang molor dari waktu yang telah dijadwalkan.
·      Guru meminta setiap kelompok menuliskan alasan setiap pilihan yang telah dipilih.

Fase-4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
·      Guru Membagikan Lembar Kerja siswa yang berisi tugas peroyek dengan tagihan: 1) menuliskan informasi yang secara eksplisit dinyatakan dalam tugas, 2) menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan masalah/tugas yang diberikan, 3) menuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan pengalaman belajarnya yang terkait dengan tugas, 4) mengaitkan konsep-konsep yang dinyatakan secara eksplisit dalam tugas dengan konsep-konsep/prinsip-prinsip yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman belajarnya, 5) melakukan dugaan-dugaan berdasarkan kaitan konsep poin 4), 6) menguji dugaan dengan cara mencoba, 6) menarik kesimpulan
·      Guru memonitoringterhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek dengan cara melakukan skaffolding jika terdapat kelompok membuat langkah yang tidak tepat dalam penyelesaian proyek.
Fase-5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
·      Guru telah melakukan penilaian selama monitoring dilakukan dengan mengacu pada rubrik penilaian.yang bertujuan: mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

Fase-6. Mengevaluasi Pengalaman

·      peserta didik secara berkelompok melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Hal-hal yang direfleksi adalah kesulitan-kesulitan yang dialami dan cara mengatasinya dan perasaan yang dirasakan pada saat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Selanjutnya kelompok lain diminta menanggapi

160 menit
Penutup

·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyimpulkan hasil temuan barunya,
·      Guru memberikan tugas proyek pada buku halaman 371 untuk dikerjakan selama satu minggu
10 menit


3.      Pertemuan ke tiga
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
Pra Pembelajaran
11.  Guru mengkondisikan kelas dalam suasana kondusif untuk berlangsungnya pembelajaran.
12.  Guru memberikan motivasi tentang pentingnya memahami Cara Penyajian dan Penentuan Ruang Sampel dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
13.  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
14.  Guru menginformasikan tentang proses pembelajaran yang akan dilakukan termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran berlangsung.
15.  Guru melakukan apersepsi dengan melakukan pertanyaan secara klasikal yang bersifat menuntun dan menggali.
10 menit
Inti







































Fase-1: Penentuan Pertanyaan Mendasar

Guru mengemukakan pertanyaan esensial yang bersifat eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki siswa berdasarkan pengalaman belajarnya yang bermuara pada penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
§  Bagaimana penyajian dan penentuan ruang?
§  Apa Peluang komplemen suatu kejadian?
Fase-2.Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

·      Guru Mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok yang heterogen (4-5) orang. Heterogen berdasarkan tingkat kognitif atau etnis
·      Guru memfasilitasi setiap kelompok untuk menentukan ketua dan sekretaris secara demokratis, dan mendeskripsikan tugas masing-masing setiap anggota kelompok.
·      Guru dan peserta didik membicarakan aturan main untuk disepakati bersama dalam proses penyelesaian proyek. Hal-hal yang disepakati:  pemilihan aktivitas, waktu maksimal yang direncanakan, sansi yang dijatuhkan pada pelanggaran aturan main, tempat pelaksanaan proyek, hal-hal yang dilaporkan, serta  alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek
Fase-3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat jadwal aktifitas yang mengacu pada waktu maksimal yang disepakati.
·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyusun langkah alternatif, jika ada sub aktifitas yang molor dari waktu yang telah dijadwalkan.
·      Guru meminta setiap kelompok menuliskan alasan setiap pilihan yang telah dipilih.

Fase-4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
·      Guru Membagikan Lembar Kerja siswa yang berisi tugas peroyek dengan tagihan: 1) menuliskan informasi yang secara eksplisit dinyatakan dalam tugas, 2) menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan masalah/tugas yang diberikan, 3) menuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan pengalaman belajarnya yang terkait dengan tugas, 4) mengaitkan konsep-konsep yang dinyatakan secara eksplisit dalam tugas dengan konsep-konsep/prinsip-prinsip yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman belajarnya, 5) melakukan dugaan-dugaan berdasarkan kaitan konsep poin 4), 6) menguji dugaan dengan cara mencoba, 6) menarik kesimpulan
·      Guru memonitoringterhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek dengan cara melakukan skaffolding jika terdapat kelompok membuat langkah yang tidak tepat dalam penyelesaian proyek.
Fase-5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
·      Guru telah melakukan penilaian selama monitoring dilakukan dengan mengacu pada rubrik penilaian.yang bertujuan: mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

Fase-6. Mengevaluasi Pengalaman

·      peserta didik secara berkelompok melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Hal-hal yang direfleksi adalah kesulitan-kesulitan yang dialami dan cara mengatasinya dan perasaan yang dirasakan pada saat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Selanjutnya kelompok lain diminta menanggapi

160 menit
Penutup

·      Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyimpulkan hasil temuan barunya,
·      Guru memberikan tugas proyek pada buku halaman 384 untuk dikerjakan selama satu minggu
10 menit








I.       Penilaian Hasil Belajar
1.      Teknik Penilaian: pengamatan, penugasan (proyek) dan tes tertulis
2.      Prosedur Penilaian:
No
Aspek yang dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
1.
Sikap
a.       Terlibat aktif dalam pembelajaran Peluang.
b.      Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
c.       Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Pengamatan
Selama pembelajaran dan saat diskusi
2.
Pengetahuan
a.       Menjelaskan konsep peluang dalam frekuensi relatif secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar.

b.      Menentukan peluang dalam frekuensi relatif secara tepat dan kreatif.

Penugasan dalam  bentuk proyeks dan tes

Pengamatan proses pelaksanaan proyek pembelajaran
Hasil akhir dalam presentase dan laporan


3.

Keterampilan
a.       Terampil Menyajikan hasil penerapan konsep peluang untuk menjelaskan berbagai objek nyata melalui percobaan menggunakan frekuensi relatif

Pengamatan

Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi








J.      Instrumen Penilaian Hasil Belajar
Tes tertulis
(contoh soal)
Hasil percobaan pemerikasaan kualitas 20 lampu led di suatu perusahaan di peroleh berkulitas baik 12 dan yang buruk 8 lampu. Tentukanlah frekuensi relatif fari tiap-tiap percobaan tersebut.
1.      Buatlah tabel dari soal di atas?
2.      Tuliskan strategi–strategi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah!
3.      Dengan menggunakan salah satu strategi, berapakah frekuensi relatif kualitas baik
4.      Dengan menggunakan salah satu strategi, berapakah frekuensi relatif kualitas buruk
5.      Apabila semua lampu berkualitas baik, bagaimana strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tsb?



Alternatif Pedoman Penilaian:
No
Aspek yang dinilai
Skor
a
Tabel yang dibuat oleh siswa

Jika siswa mampu membuat tabel dengan baik,skornya 2
Jika siswa mampu membuat tabel tapi belum tepat,skornya 1
Jika siswa tidak mampu membuat sketsa,skornya 0
10
b
Masalah-masalah yang dikemukakan oleh siswa

Jika siswa mampu mengemukakan masalah dan berkaitan dengan persoalan,skornya 2
Jika siswa mampu mengemukakan masalah tapi tidak sesuai dengan persoalan yang diminta,skornya 1
Jika siswa tidak mampu mengemukakan masalah, skornya 0
10
c
Strategi-strategi yang dikemukakan oleh siswa

Jika siswa mampu mengemukakan strategi pemecahan masalah dan berkaitan dengan persoalan,skornya 2
Jika siswa mampu mengemukakan strategi pemecahan masalah tapi tidak sesuai dengan persoalan yang diminta,skornya 1
Jika siswa tidak mampu mengemukakan strategi pemecahan masalah, skornya 0

10
d
Alternatif jawaban :

Siswa menggunakan tabel untuk menyelesaikan masalah dan memberikan simbol-simbol matematika yang sesuai
Misalnya siswa memberikan nama lampu kualitas baik dengan A dan kualitas buruk dengan B

Siswa dapat mengidentifikasi masalah, bahwa pemecahan masalahnya dengan menggunakan data tabel.
Kejadian
Frekuensi
A
12
B
8
Total
20


Menghitung frekuensi kualitas baik dan buruk.
Dengan melihat tabel yang ada siswa dapat melihat, nemelaah soal di atas
Diketahui :
frekuensi kualitas baik    : 12
frekuensi kualitas buruk : 8
maka frekuensi relatif kualitas baik adalah
frekuensi relatif = frekuensi kualitas baik
                                total percobaan
frekuensi relatif bola lampu kualitas baik adalah = 12
                                                                                20
                                                                             = 3
                                                                                5



Diketahui :
frekuensi kualitas baik    : 12
frekuensi kualitas buruk : 8
maka frekuensi relatif kualitas baik adalah
frekuensi relatif = frekuensi kualitas buruk
                                total percobaan
frekuensi relatif bola lampu kualitas buruk adalah = 8
                                                                                  20
                                                                             = 2
                                                                                5
Keterangan :
Nilai 0 diberikan jika siswa tidak mampu melaksanakan prosedur yang diminta
Nilai 1 diberikan jika siswa mampu melaksanakan prosedur yang diminta tetapi hanya sebagian
Nilai 2 diberikan jika siswa mampu melaksanakan prosedur yang diminta dengan benar







10


















20











20









Siswa mungkin memberikan alternatif jawaban yang lain dengan menggunakan segitiga yang lain sebagai patokannya. Masing diberikan pedoman penskoran dengan mengacu pada penilaian holistik yang memuat proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman, komunikasi matematis (ketepatan penggunaan simbol dan istilah), penalaran (logis), serta ketepatan strategi memecahkan masalah dan hasil akhir

e.
Ide umum pemecahan masalah yang dikemukakan oleh siswa

Jika siswa mampu mengemukakan ide pemecahan masalah dan berkaitan dengan persoalan,skornya 2
Jika siswa mampu mengemukakan idepemecahan masalah tapi tidak sesuai dengan persoalan yang diminta,skornya 1
Jika siswa tidak mampu mengemukakan ide pemecahan masalah, skornya 0
20



LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran                        : Matematika
Kelas/Semester                        : X/2
Tahun Pelajaran                       : 2013/2014
Waktu Pengamatan                 : 3 x 4 jam (45 menit)

Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No
Nama Siswa
Sikap
Aktif
Bekerjasama
Toleran
Kreatif
KB
B
SB
KB
B
SB
KB
B
SB
KB
B
SB
1













2













3













4













5













6













7













8













9













10













11













12













13













14













15













16













17













18













19













20













21













22













23













24













25













26













27













28













29













30













31













32













33













34














Keterangan:
KB       : Kurang baik               B          : Baik                           SB        : Sangat baik



Indikator sikap aktif dalam pembelajaran peluang
1.      Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum konsisten
3.      Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan konsisten


Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1.      Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3.      Sangat baik jika menunjukkan adanya  usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.      Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masih belum konsisten.
3.      Sangat baik jika menunjukkansudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan konsisten.
Indikator sikap kreatif terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.      Kurang baik jika sama sekali tidak memunculkan ide terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.      Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk memunculkan ide terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masih belum konsisten.
3.      Sangat baik jika menunjukkansudah ada usaha untuk memunculkan ide terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan konsisten.


LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN
Mata Pelajaran            : Matematika
Kelas/Semester            : X/2
Tahun Pelajaran           : 2013/2014
Waktu Pengamatan     :

Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No
Nama Siswa
Keterampilan
Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah
KT
T
ST
1




2




3




4




5




6




7




8




9




10




11




12




13




14




15




16




17




18




19




20




21




22




23




24




25




26




27




28




29




30




31




32




33




34





Keterangan:
KT       : Kurang terampil
T          : Terampil
ST        : Sangat terampil

Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan menentukan peluang.
1.      Kurangterampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan peluang.
2.      Terampil jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan menentukan konsep peluang dalam frekuensi relatif secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar..
c.       Sangat terampill,jika menunjukkan adanya  usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan menentukan konsep peluang dalam frekuensi relatif secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar.


Mengetahui                                                                  tasikmalaya, September 2014
Dosen Mata Kuliah                                                      penyusun


Hj. Dedeh widaningsih,M.SI                                        ……………………………..
LEMBAR KERJA PROYEK

Satuan Pendidikan             : SMA
Kelas/Semester                  : X / 2
Mata Pelajaran                   : Matematika-Wajib
Topik                                 : Peluang
Waktu                                : 3 × 45 menit
Kelompok                          : ..............................................................
Tugas Kelompok               :...............................................................
Nama Kelompok                : ..............................................................

Langkah-langkah penyelesaian proyek:
1.       Siapkan alat/bahan untuk penyelesaian proyek
2.       Tentukan objek yang akan diamati
3.       Lakukan percobaan berdasarkan jenis tugas yang diberikan
4.       Menyajikan hasil percobaan dalam Lembar Kerja Proyek
5.       Diskusikan dan simpulkan hasil percobaan
6.       Sajikan hasil diskusi dalam diskusi kelas

Sajikan hasil percobaan pelemparan dadu
kita melakukan percobaan menggunakan dadu bermata 6.Lakukanlah kegiatan melambungkan sebuah dadu sebanyak 120 kali bersama dengan temanmu satu kelompok. Lakukanlah kegiatan ini secara bertahap, dan catatlah hasilnya ke dalam tabel berikut:

tahap
Banyak pelemparan
Frekuensi muncul
Frekuensi relatif
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
20












2
40












3
60












4
80












5
100












6
120













cobalah diskusikan dengan temanmu beberapa pertanyaan berikut.
1.      Sebelum melakukan percobaan, buatlah dugaanmu, apakah banyak (frekuensi) munculnya mata 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 relatif sama banyaknya?
2.      Jika pelemparan dadu tersebut dilakukan 20 sampai 120 kali, buatlah dugaanmu bagaimana perbandingan frekuensi munculnya mata 1, 2, 3, 4, 5, dan 6?
3.      Benarkah dugaan bahwa frekuensi munculnya angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 hasilnya relatif sama?
4.      Benarkah dugaan bahwa frekuensi relatif angka 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 hasilnya relatif sama dan nilai perbandingan banyaknya muncul mata 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 dengan banyaknya percobaan, nilainya perbandingannya mendekati 1/6?







Kesimpulan :
..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
























Tuliskan Anggota Kelompokmu disini :
1 ……………………………………….
2 ……………………………………….
3 ………………………………………….
4 …………………………………………
5 ………………………………………….










MANFAATKAN PANGAN LOKAL, WUJUDKAN INOVASI PRODUK OLAHAN MAKANAN BERKELAS INTERNASIONAL




 














LOMBA PUSSLE 2014

 MANFAATKAN PANGAN LOKAL, WUJUDKAN INOVASI PRODUK OLAHAN MAKANAN BERKELAS INTERNASIONAL








DISUSUN OLEH :
AI SITI NURAENI
122151097






UNIVERSITAS SILIWANGI
KOTA TASIKMALAYA
2014




MANFAATKAN PANGAN LOKAL, WUJUDKAN INOVASI PRODUK OLAHAN MAKANAN BERKELAS INTERNASIONAL

Wujud dari kesepakatan negara-negara ASEAN akan kita rasakan di tahun 2015 melalui kesepakatan ASEAN Free Trade Area (AFTA) dimana wilayah ASEAN akan menjadi kawasan perdagangan bebas yang menjadikan kawasan ASEAN sebagai basis produksi dunia yang memiliki daya saing yang kuat di pasar global serta menciptakan pasar regional antar negara anggota ASEAN (intra-ASEAN Trade). Semakin rendahnya biaya produksi memudahkan pelaku bisnis untuk mendapatkan bahan baku yang lebih efisien dari berbagai negara ASEAN lainnya termasuk dalam hal pemasaran. Hal ini membuka peluang besar dan luas bagi negara anggota ASEAN untuk memasarkan produk-produknya, termasuk terbukanya kesempatan produk-produk Indonesia bersanding dengan produk-produk negara anggota ASEAN bahkan dengan produk dunia. Dengan kata lain, negara-negara ASEAN dituntut untuk mampu berkompetisi secara profesional dalam hal perkembangan ekonomi dan bisnis salah satunya dengan cara meningkatkan kualitas dalam negeri dan mempopulerkannya.
Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN yang memiliki iklim sumber daya alam terbaik, memiliki peluang yang lebih besar dibanding dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dalam rangka memanfaatkan peluang tersebut, bangsa Indonesia dituntut untuk mampu berdaya saing tinggi mulai dari pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi bahkan ketahanan pangan yang merupakan icon kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat suatu bangsa.
Manfaatkan pangan lokal dalam rangka mewujudkan inovasi produk olahan makanan berkelas internasional adalah salah satu upaya untuk menghadapi AFTA 2015. Diharapkan pemanfaatan pangan lokal ini akan menghasilkan produk-produk inovatif yang kental dengan budaya daerah sebagai icon bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan suku bangsa. Apabila hal ini terus dikembangkan di seluruh wilayah nusantara maka kemampuan nasional untuk meningkatkan produksi pangan berkelas internasional pasti akan meningkat sekaligus menghindari ketergantungan terhadap jenis pangan tertentu. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak di ASEAN saat ini sehingga berpeluang sebagai pengendali pasar.
Pada hakikatnya dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Pasal 1 Point 1 mengenai pengertian pangan didefinisikan sebagai
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Berdasarkan pernyataan di atas, pangan lokal merupakan penggerak esensial roda perekonomian masyarakat yang harus dikembangkan secara mandiri. Hal ini diatur oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Pasal 1 Point 3 bahwa
Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

Pangan lokal Indonesia sangatlah besar dan beranekaragam mulai dari produk perkebunan, pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, sampai perairan yang bisa dijadikan peluang besar bangsa untuk melahirkan produk inovatif berupa produk makanan yang berkelas internasional. Akan tetapi hari ini di Indonesia masih ada ketimpangan pangan, entah mengapa negeri yang seharusnya kaya dengan keanekaragaman pangan, menghadapi pernyataan yang berlainan. Organisasi Pangan Dunia PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) mengungkapkan status ketahanan pangan dunia pada tanggal 16 Oktober 2013 yang bertepatan pada Hari Pangan Dunia. Diungkap bahwa terdapat 842 juta orang yang masih kekurangan pangan di dunia saat ini, 22.3 juta di antaranya terdapat di negeri ini (Gerai Dinar dalam Muhaimin Iqbal,17 Oktober 2013). Namun diakui Organisasi Pangan Dunia PBB (FAO), bahwa hingga kini kekurangan pangan di dunia bukan masalah produksi tetapi hanya masalah distribusi. Sekitar 1.3 milyar ton makanan dunia terbuang dan ini kurang lebih setara dengan 1/3  produksi pangan dunia. Untuk memberi makan pada 842 juta orang yang kelaparan tersebut di atas sebenarnya cukup dengan hanya 1/4 dari makanan yang terbuang.
Sudah bisa diungkapkan bahwa dari analisis data yang dilakukan oleh FAO mengenai kekurangan dan ketimpangan pangan di negara ini bukanlah dari tersedianya pangan lokal di negara ini, namun dikarenakan adanya masalah dalam pendistribusian. Penulis meyakini bahwa masalah pendistribusian pangan ini salah satunya diakibatkan oleh adanya kesenjangan pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang bergerak dibidang kebijakan ketahanan pangan pada masing-masing daerah atau negara. Hal ini harus segera diantisipasi dengan adanya sosialisasi tentang pentingnya pemanfaatan pangan lokal.
 Pentingnya sosialisasi pemanfaatan pangan lokal dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi pangan secara serempak dan menyeluruh sehingga kesenjangan ketahanan pangan ditingkat nasional dapat diminimalisir. Hal ini sangat penting diterapkan, jika dilihat dari potensi awal ternyata masing-masing daerah di Indonesia memiliki ciri khas produk pangan unggulan yang berbeda-beda. Melalui sosialisai pemanfaatan pangan lokal maka setiap daerah dapat mengembangkan produk unggulannya masing-masing secara konsisten sehingga berkembang menjadi ciri khas kedaerahan yang akan eksis sepanjang masa. Kondisi ini sangat berpotensi untuk membawa Indonesia sebagai negara dengan variasi olahan pangan yang beragam dan populer ditingkat nasional dan internasional.
Selaras dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, menuturkan,
Biasanya cemilannya pisang rebus, kacang rebus, singkong, tiwul dan lain-lain. Semuanya produk lokal, yang tidak kalah gengsinya dengan makanan impor. Kedaulatan pangan itu sendiri harus diawali dengan komitmen seluruh pimpinan, untuk mencintai dan hanya mengonsumsi produk lokal dan kalau seluruh tanah air melakukan hal serupa, maka produk-produk lokal akan semakin digemari sehingga bisa mengangkat petani. Pada gilirannya, hal itu akan membantu mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan. (Merdeka, 27 November 2014)

Pernyataan tersebut menggambarkan bentuk dukungan untuk memperkenalkan kembali produk-produk pangan lokal. Apabila pemerintah, swasta, dan masyarakat sudah sepakat untuk mengembangkan pangan lokal maka cita-cita untuk mewujudkan produk olahan makanan berkelas internasional sangatlah mungkin terwujud.
Sinergitas dalam mendukung pemanfaatan pangan lokal akan memberikan spirit kepada masyarakat, bangsa dan negara untuk lebih siap menghadapi era perdagangan bebas AFTA 2015. Mulai dari Sabang sampai Merauke, Minangas sampai Pulau Rote, semua daerah memiliki potensi untuk mengembangkan pangan lokalnya sendiri. Pengembangan potensi pangan lokal dapat dimulai dengan memperkenalkan pangan lokal tersebut di lingkungan daerahnya. Pengenalan pangan lokal di daerahnya sendiri membantu masyarakat sekitar untuk mengetahui bahkan mengembangkan pangan lokal secara luas. Salah satu cara pengembangan pangan lokal dalam membuat inovasi produk olahan yang berkelas internasional adalah dengan cara meningkatkan cita rasa dan penampilan pangan lokal itu sendiri, tanpa menghilangkan ciri khas kedaerahan. Memanfaatkan pangan lokal untuk mewujudkan olahan makanan berkelas internasional ini bisa dicapai jika daerah memaksimalkan potensi dan mengembangkan pangan khas lokalnya masing-masing yang bisa dijadikan identitas oleh setiap daerah dan kekuatan bangsa untuk menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA).
Seperti halnya negara Jepang, Jepang sebagai negara maju justru tidak meninggalkan tradisinya. Kekayaan lokal yang mereka miliki menjadi aset yang mempunyai andil besar dalam perekonomian Jepang. Banyak produk-produk Jepang yang telah mendunia, mulai dari teknologi sampai dengan kulinernya. Ini adalah hasil kerja keras pemerintah jepang selama bertahun-tahun. Dalam salah satu situs dari lembaga swadaya masyarakat, Masyarakat Ilmuan dan Teknologi Indonesia (MITI) mengungkapkan dalam artikel Pangan Fungsional ala Jepang bahwa
Beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk memajukan industri makanan tradisionalnya adalah dengan menerapkan konsep one village one product. Pemerintah Jepang percaya bahwa setiap daerah di Jepang mempunyai kekayaan alamnya sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, berbagai penelitian dikembangkan guna mengeksplorasi potensi tersebut. Shunsu, sebuah daerah di Jepang telah berhasil mengembangkan jeruk yushu menjadi beragam produk mulai dari kue pie, permen, sabun hingga penghalus kulit. Selain itu, Fushimi (Kyoto), Nada (Kobe), Aakita dan Nigata merupakan sentra industri sake di Jepang (Wijaya,dkk, 2001).
Perlunya membangun sebuah kesadaran untuk semua elemen bangsa supaya pemerintah, swasta, akademisi maupun masyarakat sipil bisa bersinergis membangun kekuatan lokal. Jepang telah menjadi negara maju dengan berbagai produk inovatifnya, bagaimana dengan Indonesia? Dari segi kekayaan alam, Indonesia tidak kalah dengan Jepang. Jika semuanya bisa bersinergi maka sangat mungkin Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya selama ini.
Dengan demikian memanfaatkan pangan lokal untuk mewujudkan inovasi produk berkelas internasional adalah cara yang sangat strategis. Selain dapat mengangkat ketahanan, kedaulatan dan kemandirian pangan lokal bangsa ini, juga dengan memanfaatkan pangan lokal ini kebutuhan bangsa akan pangan akan terpenuhi. Selain itu, pangan lokal dapat dimanfaatkan masyarakat daerah sebagai roda penggerak perekonomian. Bangsa ini haruslah segera bangun dari tidurnya karena perhelatan ASEAN Free Trade Area (AFTA)2015 akan segera digelar, dan dengan cara inilah salah satu upaya menghadapi AFTA. Selebihnya, mengembangkan pangan lokal merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan perekonomian daerah setempat dan terbukanya kesempatan masyarakat membuka home industry pangan lokal dalam cakupan yang lebih besar sehingga terciptanya bangsa yang mandiri dan berjiwa entrepreneur.














DAFTAR PUSTAKA


Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2012
Muhaimin, Iqbal,(2013). Ketimpangan Pangan Dunia. [Online].Tersedia :
http://www.geraidinar.com [30 November 2014]

Prasetya,Yudha. (2014,27 November). Surat Menteri Yuddy Soal Singkong Diterapkan Di Ditjen Migas. Merdeka.[Online].Tersedia : http://www.merdeka.com [1 Desember 2014]
The Association of Southeast Asian Nations.(2014).Asean Free Trade Area.
[Online].Tersedia : http://www.asean.org [30 November 2014].

Wijaya, C Hanny, Astawan, Made. (2001).Strategi Jepang dalam Pengembangan Pangan Tradisional sebagai Basis Pangan Fungsional. [Online]. Tersedia : http://gopanganlokal.miti.or.id [30 November 2014].