Namaku adalah ai, cita-citaku
adalah ingin bekerja di sebuah televisi, kesenanganku adalah menonton berita,
akan tetapi ketika aku ditanya oleh orang lain apa cita-citaku aku selalu
menyebutkan aku ingin menjadi seorang persiden, oleh karena itu ketika aku
duduk di bangku SMP dan SMA hampir seangkatanku menyebutku ibu presiden. Jika
di SMP kenapa cita-citaku terkenal karena ada temanku ketika itu yang membaca
dihadapan orang banyak tentang cita-citaku itu, dan ketika aku SMA aku di suruh
memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris tentang cita-cita dan akhirnya guru
Bahasa inggris menceritakan tentangku ke semua teman teman satu angkatanku.
Aku adalah ahli dalam menulis
bebas ketika aku SMP, kenapa aku mengakui seperti itu? Jawabannya adalah sudah
dibuktikan dengan seangkatan menulis untuk seleksi lomba jurnalistik seTasikmalaya
dan aku pemenangnya tanpa harus lagi guru memerikasa yang lainnya dan
mengajakku untuk mengikuti lomba itu, ohh akan tetapi penyesalan itu terus
menghantuiku sampai sekarang, kenapa? Karena aku menolak tawaran guru tersebut.
“Sombongnya aku ketika itu”. Masih ingat ketika itu guru Bahasa indonesiaku
sampai membujukku tapi dengan polosnya aku menolak tawaran itu. Dan sampai
sekarang penyesalannya terasa. Padalah mungkin hal itu bisa jadi jalan untukku
bertemu idolaku, hehe,.. seorang reporter yang aku terus updatein kehidupannya
sampai sekarang “riko anggara”. alasannya kenapa ya aku tolak tawaran itu ya
karena ketika itu aku …. Apa ya lupa lagi.. tapi untuk mengobati dan menghapus
rasa penyesalan itu dari sanalah aku menjadi termotivasi untuk terus menulis,
puisi, cerpen , bahkan aku meresum jalan cerita film yang telah aku tonton
sampai kira-kira tulisan itu sudah setumpuk, karena ketika itu aku belum punya
laptop jadi aku tulis semua tulisanku di buku, aku suka mendaur ulang buku-buku
bekas yang sisannya aku ambil dan aku jilid ke photocopy dan jadilah buku dan
buku tersebut aku gunakan untuk menulis semua cerita-cerita dan puisi puisiku.
Akan tetapi hal ini juga yang
membuatku merasa lebih-lebih menyesal, kenapa? Karena aku kubur semua tulisanku
yang setumpuk itu hingga kedalaman satu meter dan aku berjanji akan aku ambil
lagi ketika aku bisa pergi ke luar negeri, “bingung aku dengan pemikiranku
ketika itu” dan yang lebih nyeseknya sekarang kuburan tulisanku itu sekarang
diatasnya rumah, bagaimana aku bisa gali kembali. Nangis ini mah. ketika rumah
itu sudah berdiri ada lomba cerpen dateng dan disana ada cerita yang aku
favoritkan banget. Sebel dengan diri ini.
Kembali ke cita-cita, ketika
kelas 3 SMP aku juga adalah orang pertama yang bisa menggunakan computer bahkan
internet, walaupun ketika itu aku belum punya computer. “maaf bukan ngebanggain
diri tapi Cuma sedikit mengobati hati”. Kenapa ? karena aku suka baca-baca
tentang itu, bahkan dirumah aku buat keyboard, aku memimpikan suatu saat aku
bisa memiliki sebuah computer. Tapi itu tidak bisa menjadi alasan yang kuat
untuk menggambarkan hebatnya aku menguasai computer…hehe,, alasan keduanya
adalah aku orang pertama yang bisa membuat Friendster, facebook, bahkan twitter
dan orang yang pertama yang bisa mengirim e-mail ke guru computer. Tapi bukan ini
yang ingin aku ceritakan. Selepas aku menyelesaikan studi ku di SMP aku sangat
ingin sekali masuk SMKN1, kenapa? Karena di sana ada jurusan multimedia, dan
aku ingin sekali masuk ke jurusan itu. Aku sudah memimpikan bahwa kelak aku
akan bekerja di sebuah stasiun tv terbesar dan bertemu dengan idolaku, namun
semuannya berubah karena angkan –o,1. Ada apa dengan angka tersebut ? karena
tinggal -0,1 lagi aku bisa lulus ke jurusan itu. Sedihnya diriku ini. semua
tinggal kenangan hari ini. aku punya semacam syndrome, aku akan mendadak batuk
terus menerus jika hal itu tidak sesuai dengan jalan takdirku, itu sudah aku
buktikan walaupun tidak aku perikasakan ke dokter. Buktinya ketika aku test di
SMKN1 aku dari mulai menjawab soal no 1 sampai soal itu selesai aku jawab aku
terus batuk, dan ketiak aku menyontek, dll. Tapi sekarang tidak aku rasakan
kembali hal itu.
Semenjak saat itu orang tua ku
marah besar, bukan karena aku tidak lulus tapi karena aku tidak mengikuti test
kesehatan di sekolah yang telah menerimaku. Ya akhirnya aku gagal masuk
kesekolah tersebut dan pada akhirnya aku ditakdirkan masuk SMK yang paling aku
cintai. Aku mengambil jurusan administrasi perkantoran awalnya aku hanya memilih
saja tanpa tau akan jadi apa nantinya, eh ketika ditelusuri mendalam jurusan
itu nantinya jadi sekretari, oh no aku harus melayani bos ,, oh tidak bisa aku
yang harus jadi bosnnya.
Akan tetapi ketika itu datang
guru matematika yang sangat cantik sekali, orangnya baik, cara mengajarnya
bagus, dan terus memotivasi murid-muridnya setiap semesternya pasti memberi
reward kepada murid-muridnnya yang berprestasi termasuk aku. Akan tetapi di
akhir smester ibu itu tidak bisa aku lihat lagi karena ibu itu keluar tanpa
berpamitan kepada murid-muridnya, sedih sekali aku dan teman-teman, aku sempat
menangis beberapa hari ketika itu dan menghubungi ibu berkali-kali akan tetapi
tidak aktif nonya.
Kehidupanku mulai berubah ketika
aku berada dilingkungan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Pertama sih aku
sering menagis melihat itu semua. Melihat miniature bumi ini, banyak sekali
orang-orang yang aku temui mulai dari sisi terang sampai sisi gelap pernah saya
lihat dan saya berbaur tanpa terkena baunya ataupun wanginnya kehidupanku. aku
mulai bisa menyesuaikan diri dengan semua keadaan itu. “Akan tetapi ini bukan
yang akan aku ceritakan saat ini, tunggu lagi cerita tentang cahaya dan
kegelapan” hehe.
ketika kesedihan mulai terobati
datang berbagai macam guru matematika yang berbagai macam karakter, ada guru
yang jarang masuk beliau terus menugaskan kita untuk menulis, ya memindahkan
tulisan dari buku paket ke buku catatan, “apa bedannya mending photocopy saja”,
berawal dari sinilah nilai matematikaku yang asalnya 99 anjlok menjadi 89,
“teganya itu guru, tidak melihatkah siapa aku ini” hem
yang kedua gurunya ganteng, tapi
sayangnya suka duduk di bangku murid cantik, sepintar-pintar apapun murid itu
tidak akan dilirik jika tidak cantik.. oh no itu aku yang ga dilirik,,hehe
alhamulilah tapi nilai ku bagus, tapi sekarang aku harus jujur kepada semuannya
bahwa nilai bagus ini bukan sebab akibat dari usahaku ku tapi karena ketika
mengerjakan ujian aku ceroboh dan aku gagal mengisinya tapi aku berbuat curang
ketika itu, hasil yang sudah di kumpulkan aku benarkan kembali dengan alasan
lembar jawabanku belum aku kasih nama,,, astagfirullah ai, bisannya seorang ai
melakukan hal curang seperti ini. tapi swear aku baru sekali dan sekali saja
dalam hidupku aku melakukan hal demikian. Dan aku sangat menyesali perbuatanku
ini hingga saat ini. dan aku pun sudah mendapat balasan yang setimpa walaupun
Allah masih sayang banget sama aku. Tapi hal itu sudah menjadi tegoran yang
menyakitkan bagiku.
Tegoran itu berupa aku di sindir
aku tak pantas rangking satu, kedua aku tak bisa mengikuti OSN administrasi
walaupun ketika itu guru kejuruan menyesali kenapa tidak memilih aku menjadi wakil
dari SMK, yang ketiga adalah aku pernah di tampar karena aku di sangka
menyontek walaupun sesungguhnya ketika itu aku lagi membawa tipex, dan yang ke
empat yang mestinya aku nilai serratus jadi nilai 10 padahal lembar jawaban itu
betul semuannnya dan aku tak rela dan aku protes dan kena tampar lagi dan aku
harus mengulang ujian kembali tapi aku menantang guru untuk memerikas kembali
jawaban awalnya guru tersebut tidak mau tapi untungnya ada guru olahraga yang
memintanya memberikan kesempatan kembali dan akhirnya benar argumenku dan guru
tersebut sampai sekarang tidak pernah melupakan ku yang sudah menamparku dua
kali karena kesalah pahaman. Tapi dari tamparan itu aku tidak membencinya karena
sakit dari tamparan itu sudah ku obati dengan hasil yang ku toreh yang sangat
memuaskan. Ketika teguran bertubi-tubi itu datang padaku aku sebenarnya sudah
taubat dari dosa yang pertama dan terakhir aku lakukan ketika aku sekolah.
Sampai akhir aku terus berbuat
jujur dalam setiap langkah dengan teman-temanku Trio kere namanya, kita bertiga
jadi duta anti mencontek di kelas. Walapun duta dikelas namun menerapkannya
sungguh sulit bagi mereka, tapi yang penting aku yang terus memegang prinsip
ini hingga akhir hayatku untuk tidak mencontek bagaimanapun keadaannya.
Cita-citaku terus menggebu tiap hari tak tertinggal satu beritapun dan dunia
perpolitikan akhirnya menggodaku untuk mempelajarinya, kehidupanku akhirnya
teralihkan dengan buku-buku politik yang ada di perpustakaan buku tersebut
koleksi pak guru perpus, aku meminjam dan membacanya hingga aku bisa mengamati
situasi perpolitikan ketika itu. Ketika itu rasanya cita—citaku dimedia masa
sudah pupus namun aku masih mempertahankan cita-citaku menjadi seorang presiden
oleh karena itu aku dengan semangat membaca buku tentang politik mulai dari
pengantar politik, dasar- dasar politik hingga komunikasi politik dan lupa lagi
banyak buku buku yang sudah aku baca ketika itu.
Hingga di akhir studi aku
dipertemukan dengan guru matematika yang sangat bersemangat mengajar usianya
sudah sangat renta hampir seluruh hidupnya di habiskan untuk mengajar
matematika, walaupun kadang banyak murid-murid yang tidak meperhatikannya,
hingga pada suatu waktu bapak tersebut bertanya padaku “ai ingin jadi apa
kelak?” aku jawab “aku ingin seperti bapak yang selalu bersemangat dalam
menjalani hari-hari indah ini pak”. Dan pada akhirnya aku suka di suruh menilai
hasil kerja teman-teman bahkan pernah aku disuruh untuk menjelaskan kepada
teman-teman hingga satu cita cita itu muncul aku ingin menjadi seorang guru
matematik.
aku tak sempat untuk mencari atau
bahkan test ke Universitas Negeri di Indonesia karena ketika itu ayah ku
meninggalkan dunia ini, walaupun ketika itu aku berencana ingin masuk FISIPOL
UGM, hehe. Hingga pak guru yang suka di perpus yang punya kolekksi buku politik
pun pernah bertanya keyakinan ku tentang hal itu, dan datang sebuah candaan ah
yang pasti mah Universitas Gambar Maung,, eh ternyata benar. Selidik punya selidik
aku pun mendaftar beasiswa masuk jurusan manajemen bisnis ya berharap bisa
berpolitik di perusahaan jadi konsultan gitu. Tapi sayang surat di terima
besiswa datang terlambat ketika aku sudah diterima dan sudah membayar uang ke
UGM alias Universitas Gambar Maung dan akhirnya aku tidak mengambilnya dan aku
masuk di jurusan pendidikan matematika.
Banyak yang menyayangkan aku
masuk ke jurusan ini, walaupun hanya satu yang mendukung saya yakni guru
matematika favorit ku. Bukan karena jurusan ini jelek akan tetapi karena basic
matematika ku lemah, akan tetapi aku yakini aku mampu untuk memecahkan tembok
ini dan menjadi yang terbaik di jurusan ini. semester pertama aku bisa
membuktikan dan bersaing dengan teman-teman yang dari SMA-SMA apalagi yang
jurusannya IPA. Walaupun dari semester ke semester lainnya nilai ku selalu
turun naik tapi dengan hal itu menandakan aku konsisten dengan usahaku dan
kelemahanku. Aku tak sempat untuk mengalah dengan jurusan ini aku terus
berjuang hingga di semester 6 ini. dan aku tak pernah kalah dengan keadaan aku
selalu istiqomah dengan belajarku dan usahaku walaupun hasilnya aku kalah
dengan apa yang ingin aku raih tapi proses dan perjuangannya masih tetap sama.
Kuncinya adalah kejujuran yang
harus di bawa dimanapun, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik apapun yang
bisa aku lakukan akan aku lakukan selagi aku bisa itulah parameter
keberhasilanku, aku akan mengerjakan tugas-tugas yang kadangkala orang lain
malas untuk melakukannya dan aku akan menjadi garda terdepan untuk menyelesaikan
tugas tersebut untuk diselesaikan. Tapi bagaimana jika aku tak mampu, ya aku
nyontek, tapi ingat tak sekedar nyontek perlu dipelajari dulu dan yang lebih penting jangan sampai nyontek
ketika Ujian, UAS, UTS itu adalah pantangan, sampai motto hidupku terkenal
dikelas, “lebih baik buat rumus sendiri dari pada nyontek”. Sampai sampai
pernah aku dapat nilai nol dengan pengerjaan hampri sepolio lebih karena isinya
membuat rumus sendiri, ya kaya professor- professor. Hehe
Dan yang selalu aku bertahan adalah
motivasi melihat mamah ku yang berdagang di pasar. Temanku pernah berkata
kepadaku “ seharusnya ai berpikir mamah mah diluar ker nimbangan asin ai
enak-enak di sini” nah ini yang terus membuatku merasa bersalah kepada keadaaan
ku, aku tak akan pernah menyianyakan kesempatan yang telah Allah berikan
walaupun aku tau mamah menderita di sana, terus bagaimana keadaan orangtua
kalian?. Jauh dari orang tua tak menjadikan ku menjadi anak-anak diluar sana
yang senang dan merasa hidup mereka bebas ketika jauh dari orang tua, aku
mendewasakan diriku sendiri dengan keadaanku yang seperti ini, naik turun usaha
keluargaku mulai dari adanya mendiang ayah yang selalu memanjakanku dengan
segala yang ku inginkan hingga bangkrut dan berusaha kembali membangun perusahaan
dan hingga ia dipanggil dan mamah yang meneruskannya aku ingat semua itu dan
aku bisa menerima dengan usaha dan membuat hal-hal kecil menjadi kebanggaan
buat orang tua ku. Hingga saat ini hal inilah yang mempengaruhi kehidupanku.
dan aku ingin mengubah kembali dan menjemput mamah agar tidak bekerja kembali.
Dan yang terakhir yang saat ini
aku jalani adalah jangan pernah pelit terhadap ilmu yang kita punya, kadangkala
aku suka marah ketika di kelas, aku menanyakan kepada temanku dan mereka tidak
pernah mempedulikanku mereka malah mentertawakannku karena aku tidak bisa, dan
sampai aku marah pun mereka tidak memberiku solusi untuk bagaimana aku bisa
mengerjakan soal-soal tersebut, tapi ada juga yang baiknya yang suka memberi
jawaban, tapi dengan hal ini aku marah dan aku selalu bilang kepada mereka
kelak jika aku mampu dan ada teman yang memintaku untuk mengajarkannya aku akan
mengajarkannya tak peduli siapapun mereka, dan alhamdulilah hingga saat ini
walaupun aku masih sama seperti ini, masih ada adik tingkat atau bahkan teman
seangkatan yang percaya untuk meminta bantuan kepada ku mengajari mereka, ini
adalah hal yang paling aku banggakan dari apapun yang aku punya.
Kesimpulannya kita harus
menanamkan kejujuran dalam hidup kita, jangan pernah takut jika nilai kita
kecil karena kita tak mencontek, malah ada kepuasaan tersendiri ketika kita
bisa melihat betapa indahnya perjuangan kita menaklukan materi-materi / mata
kuliah-mata kuliah yang kita tempuh, semuanya memiliki kenangan tersendiri, toh
saya pun tidak mencontek tetap kok nilai-nilai saya bagus minimal di atas 3 lah
IPK kita. Terus ingatlah orang tua kita jangan sampai kita menyianyiakan
kesempatan belajar kita yang sebentar ini, jika harus aku memilih mana yang
lebih mengasyikan dalam hidup ini antara bermain dan belajar maka aku memilih
belajar, kenapa ada alasan tersendiri mengapa aku memilih belajar apalagi
belajar matematika yakni kita bisa mengerjakannya sambil kita bisa mendengarkan
music, benarkan.. bayangkan kalau kita masuk jurusan yang kebanyakannya materi
yang harus kita hafal oh tidak ada kesempatan untuk kita bisa melakukan dua
pekerjaan sekaligus, betulkan..? dan yang terakhir jangan pernah pelit, ilmu
itu semakin kita sembunyikan maka akan cepat hilang maka berbagilah selama
berbagi itu belum dilarang. Walaupun awalnya kita belum bisa apa apa namun
dengan usaha dan keyakinan kita pasti bisa. AKU selalu bilang pada siapapun
yang ku punya hanyalah modal semangat, dan semoga semangat itulah yang bisa
membuat kita jembatan untuk meraih kesuksesan kita di masa depan. Amin. Dan
yang terakhir yang tidak bisa saya ceritakan diatas adalah jangan sampai putus
untuk menulis walaupun tulisan sederhana kita di buku harian, kenapa harus buku
harian karena ada satu terapi yang AKU selalu sembuh ketika kelelahan kepenatan
dan keputus asaan itu melanda, tidak selamanya kita orang semangat selalu
semangat dan obatnya adalah kita baca buku harian kita dari awal sampai lelah
itu terobati dan penat itu hilang. Insha Allah.
Pukul 2:10 tanggal 29 juni 2015
Selamat tinggal Semester 6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar