Sabtu, 04 Juli 2015

Masih perlukah sebuah tropi sebagai tanda sang pemenang???


Masih perlukah sebuah tropi sebagai tanda sang pemenang???
Hasil gambar untuk sang pemenang

Masih ada mimpi dalam kehidupan ini untuk bisa mengangkat tropi kemenangan dengan tangan sendiri disambut dengan jutaan tepukkan tangan dengan senyum kebahagiaan. Hal ini lah yang selalu manusia inginkan. Kemenangan, penghargaan, pujian, kehormatan, prestasi, hal-hal seperti inilah yang banyak manusia kejar untuk kehidupan ini. Tak bisa dipungkiri  Kemenangan, penghargaan, pujian, kehormatan, prestasi menjamur pada lerung-lerung manusia baik mereka miskin, kaya, berpendidikan ataupun mereka yang sudah tidak lagi menginginkan kehidupan di dunia ini. dengan Kemenangan, penghargaan, pujian, kehormatan, prestasi, setiap orang bisa merubah kehidupannya bukan juga materi tapi setidakknya ada nilai lebih bahwasannya mereka sudah dipandang sebagai manusia sesungguhnya. Inilah pemikiran kehidupan menurut sudut pandang ku.
Sebuah poster yang kubuat bertahun-tahun menempel di dinding kamarku dan setiap hari nya ku baca sebagai kekuatan untuk memulai hari dengan semangat yakni “Kesuksesan adalah perjuangan, perjuangan adalah usaha dan usaha adalah kekuatan” namun dua minggu lalu sudah ku lepaskan poster tersebut, alasannya adalah kalimat tersebut membuatku tak bisa berhenti untuk terus mencoba segala sesuatu untuk mendapatkan  sebuah kesuksesan. Dua minggu lalu itulah dimana titik jenuh ku memuncak, sepertinya tak ada lagi kesempatan untuk bisa mengangkat tropi dengan tangan ku sendiri. Kemudian dua hari lalu hari yang tidak bisa adikku lupakan adalah hari dimana adik laki-lakiku marah dan memecahkan dua tropi kemenangan yang di dapatkan oleh adikku walaupun tropi tersebut hanya perlombaan tingkat daerah, namun yang ku ketahui adalah perjuangannya untuk mendapatkan tropi tersebut tidaklah mudah.
Hal tersebut membuatku berpikir bahwa masih ada harapan untuk menjadi sang pemenang walaupun tanpa harus mengangkat sebuah tropi kemenagan dan sudah semestinya seorang manusia mengetahui hal tersebut untuk memperoleh kemenangan, penghargaan, pujian, kehormatan, prestasi  sebab sebuah tropi tidaklah abadi untuk menandakan kita sebagai pemenang. Sebab kita masih merasakan kesedihan ketika hal itu hilang didalam hidup kita. Menurutku kemenangan adalah sesuatu yang tidak hilang sifatnya abadi dan melekat pada diri kita jadi tak perlu sebuah tropi untuk menandakan sang pemenang.
Akan tetapi jalan kehidupan setiap manusia berbeda-beda walapun kelak kita akan bertemu pada kehidupan yang kita buat sendiri. Menjadi sang pemengan juga setiap manusia akan berbeda beda bagaimana sang pemenang itu mendefinisikannya. Adakalanya kita melihat seseorang yang tanpa berusaha segigih dan sekuat kita mereka bisa mendapatkan apa yang belum kita dapatkan walaupun kita sudah berusaha mati-matian ataupun bertahun-tahun kita usahakan namun hasilnya tidak mengantarkan kita pada tujuan yang hendak kita capai. Kejadian tersebut menuntut manusia menentukan beberapa pilihan misalnya teruskan, berhenti, atau menggunakan cara-cara yang tidak baik. Manusia banyak sekali pemikirannya untuk mencapai bagaimana mereka bisa menjadi sang pemenang bisa mereka terus lurus, belok atau memutar ulang dan memulainya dari pertama. Banyak cara yang manusia bisa tempuh. Namun harus ingat bahwa ada batas yang meski kita patuhi. Tak halnya jika kita mengassosiasikan pada sebuah jalan banyak hal yang harus kita patuhi untuk bisa melewatinya hingga kita sampai pada tujuan yang kita inginkan.
Kuncinya adalah kita harus tetap terus berjuang terus berusahaa itu adalah kekuatan yang kita miliki walaupun setelah kita coba keberhasilan kita menjadi sang pemenang itu sulit untuk di raih atau bahkan kita selalu mengalami kegagalan dalam setiap usaha yang kita usahakan namun dalam setiap langkah yang kita tempuh untuk meraih apa yang kita tuju baik gagal ataupun berhasil disana terdapat kebaikan. Maka bukan keberhasilan dan kegagalan yang selama ini kita miliki namun kebaikan dari keduannya yang harus kita ambil sebab kebaikan dari keduanyalah yang bisa menjadikan diri ini menjadi seorang pemenang sejati, dan kita tak akan mengalami dimana diri kita berada pada titik jenuhnya kehidupan ataupun memakai cara cara yang tidak sesuai dengan apa yang di ajarkan agama kita. Contohnya banyak terjadi di negara kita mereka memakai cara-cara pintas untuk mendapatkan kemenangaan itu.
Hari dimana poster “Kesuksesan adalah perjuangan, perjuangan adalah usaha dan usaha adalah kekuatan” itu akan ku buat kembali untuk memulai hari dengan penuh semangat.
Minggu 5 juli 2015 pukul 10.00


Selasa, 30 Juni 2015

Selamat Datang Semester 7



Namaku adalah ai, cita-citaku adalah ingin bekerja di sebuah televisi, kesenanganku adalah menonton berita, akan tetapi ketika aku ditanya oleh orang lain apa cita-citaku aku selalu menyebutkan aku ingin menjadi seorang persiden, oleh karena itu ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA hampir seangkatanku menyebutku ibu presiden. Jika di SMP kenapa cita-citaku terkenal karena ada temanku ketika itu yang membaca dihadapan orang banyak tentang cita-citaku itu, dan ketika aku SMA aku di suruh memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris tentang cita-cita dan akhirnya guru Bahasa inggris menceritakan tentangku ke semua teman teman satu angkatanku.
Aku adalah ahli dalam menulis bebas ketika aku SMP, kenapa aku mengakui seperti itu? Jawabannya adalah sudah dibuktikan dengan seangkatan menulis untuk seleksi lomba jurnalistik seTasikmalaya dan aku pemenangnya tanpa harus lagi guru memerikasa yang lainnya dan mengajakku untuk mengikuti lomba itu, ohh akan tetapi penyesalan itu terus menghantuiku sampai sekarang, kenapa? Karena aku menolak tawaran guru tersebut. “Sombongnya aku ketika itu”. Masih ingat ketika itu guru Bahasa indonesiaku sampai membujukku tapi dengan polosnya aku menolak tawaran itu. Dan sampai sekarang penyesalannya terasa. Padalah mungkin hal itu bisa jadi jalan untukku bertemu idolaku, hehe,.. seorang reporter yang aku terus updatein kehidupannya sampai sekarang “riko anggara”. alasannya kenapa ya aku tolak tawaran itu ya karena ketika itu aku …. Apa ya lupa lagi.. tapi untuk mengobati dan menghapus rasa penyesalan itu dari sanalah aku menjadi termotivasi untuk terus menulis, puisi, cerpen , bahkan aku meresum jalan cerita film yang telah aku tonton sampai kira-kira tulisan itu sudah setumpuk, karena ketika itu aku belum punya laptop jadi aku tulis semua tulisanku di buku, aku suka mendaur ulang buku-buku bekas yang sisannya aku ambil dan aku jilid ke photocopy dan jadilah buku dan buku tersebut aku gunakan untuk menulis semua cerita-cerita dan puisi puisiku.
Akan tetapi hal ini juga yang membuatku merasa lebih-lebih menyesal, kenapa? Karena aku kubur semua tulisanku yang setumpuk itu hingga kedalaman satu meter dan aku berjanji akan aku ambil lagi ketika aku bisa pergi ke luar negeri, “bingung aku dengan pemikiranku ketika itu” dan yang lebih nyeseknya sekarang kuburan tulisanku itu sekarang diatasnya rumah, bagaimana aku bisa gali kembali. Nangis ini mah. ketika rumah itu sudah berdiri ada lomba cerpen dateng dan disana ada cerita yang aku favoritkan banget. Sebel dengan diri ini.
Kembali ke cita-cita, ketika kelas 3 SMP aku juga adalah orang pertama yang bisa menggunakan computer bahkan internet, walaupun ketika itu aku belum punya computer. “maaf bukan ngebanggain diri tapi Cuma sedikit mengobati hati”. Kenapa ? karena aku suka baca-baca tentang itu, bahkan dirumah aku buat keyboard, aku memimpikan suatu saat aku bisa memiliki sebuah computer. Tapi itu tidak bisa menjadi alasan yang kuat untuk menggambarkan hebatnya aku menguasai computer…hehe,, alasan keduanya adalah aku orang pertama yang bisa membuat Friendster, facebook, bahkan twitter dan orang yang pertama yang bisa mengirim e-mail ke guru computer. Tapi bukan ini yang ingin aku ceritakan. Selepas aku menyelesaikan studi ku di SMP aku sangat ingin sekali masuk SMKN1, kenapa? Karena di sana ada jurusan multimedia, dan aku ingin sekali masuk ke jurusan itu. Aku sudah memimpikan bahwa kelak aku akan bekerja di sebuah stasiun tv terbesar dan bertemu dengan idolaku, namun semuannya berubah karena angkan –o,1. Ada apa dengan angka tersebut ? karena tinggal -0,1 lagi aku bisa lulus ke jurusan itu. Sedihnya diriku ini. semua tinggal kenangan hari ini. aku punya semacam syndrome, aku akan mendadak batuk terus menerus jika hal itu tidak sesuai dengan jalan takdirku, itu sudah aku buktikan walaupun tidak aku perikasakan ke dokter. Buktinya ketika aku test di SMKN1 aku dari mulai menjawab soal no 1 sampai soal itu selesai aku jawab aku terus batuk, dan ketiak aku menyontek, dll. Tapi sekarang tidak aku rasakan kembali hal itu.
Semenjak saat itu orang tua ku marah besar, bukan karena aku tidak lulus tapi karena aku tidak mengikuti test kesehatan di sekolah yang telah menerimaku. Ya akhirnya aku gagal masuk kesekolah tersebut dan pada akhirnya aku ditakdirkan masuk SMK yang paling aku cintai. Aku mengambil jurusan administrasi perkantoran awalnya aku hanya memilih saja tanpa tau akan jadi apa nantinya, eh ketika ditelusuri mendalam jurusan itu nantinya jadi sekretari, oh no aku harus melayani bos ,, oh tidak bisa aku yang harus jadi bosnnya.
Akan tetapi ketika itu datang guru matematika yang sangat cantik sekali, orangnya baik, cara mengajarnya bagus, dan terus memotivasi murid-muridnya setiap semesternya pasti memberi reward kepada murid-muridnnya yang berprestasi termasuk aku. Akan tetapi di akhir smester ibu itu tidak bisa aku lihat lagi karena ibu itu keluar tanpa berpamitan kepada murid-muridnya, sedih sekali aku dan teman-teman, aku sempat menangis beberapa hari ketika itu dan menghubungi ibu berkali-kali akan tetapi tidak aktif nonya.
Kehidupanku mulai berubah ketika aku berada dilingkungan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Pertama sih aku sering menagis melihat itu semua. Melihat miniature bumi ini, banyak sekali orang-orang yang aku temui mulai dari sisi terang sampai sisi gelap pernah saya lihat dan saya berbaur tanpa terkena baunya ataupun wanginnya kehidupanku. aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan semua keadaan itu. “Akan tetapi ini bukan yang akan aku ceritakan saat ini, tunggu lagi cerita tentang cahaya dan kegelapan” hehe.
ketika kesedihan mulai terobati datang berbagai macam guru matematika yang berbagai macam karakter, ada guru yang jarang masuk beliau terus menugaskan kita untuk menulis, ya memindahkan tulisan dari buku paket ke buku catatan, “apa bedannya mending photocopy saja”, berawal dari sinilah nilai matematikaku yang asalnya 99 anjlok menjadi 89, “teganya itu guru, tidak melihatkah siapa aku ini” hem
yang kedua gurunya ganteng, tapi sayangnya suka duduk di bangku murid cantik, sepintar-pintar apapun murid itu tidak akan dilirik jika tidak cantik.. oh no itu aku yang ga dilirik,,hehe alhamulilah tapi nilai ku bagus, tapi sekarang aku harus jujur kepada semuannya bahwa nilai bagus ini bukan sebab akibat dari usahaku ku tapi karena ketika mengerjakan ujian aku ceroboh dan aku gagal mengisinya tapi aku berbuat curang ketika itu, hasil yang sudah di kumpulkan aku benarkan kembali dengan alasan lembar jawabanku belum aku kasih nama,,, astagfirullah ai, bisannya seorang ai melakukan hal curang seperti ini. tapi swear aku baru sekali dan sekali saja dalam hidupku aku melakukan hal demikian. Dan aku sangat menyesali perbuatanku ini hingga saat ini. dan aku pun sudah mendapat balasan yang setimpa walaupun Allah masih sayang banget sama aku. Tapi hal itu sudah menjadi tegoran yang menyakitkan bagiku.
Tegoran itu berupa aku di sindir aku tak pantas rangking satu, kedua aku tak bisa mengikuti OSN administrasi walaupun ketika itu guru kejuruan menyesali kenapa tidak memilih aku menjadi wakil dari SMK, yang ketiga adalah aku pernah di tampar karena aku di sangka menyontek walaupun sesungguhnya ketika itu aku lagi membawa tipex, dan yang ke empat yang mestinya aku nilai serratus jadi nilai 10 padahal lembar jawaban itu betul semuannnya dan aku tak rela dan aku protes dan kena tampar lagi dan aku harus mengulang ujian kembali tapi aku menantang guru untuk memerikas kembali jawaban awalnya guru tersebut tidak mau tapi untungnya ada guru olahraga yang memintanya memberikan kesempatan kembali dan akhirnya benar argumenku dan guru tersebut sampai sekarang tidak pernah melupakan ku yang sudah menamparku dua kali karena kesalah pahaman. Tapi dari tamparan itu aku tidak membencinya karena sakit dari tamparan itu sudah ku obati dengan hasil yang ku toreh yang sangat memuaskan. Ketika teguran bertubi-tubi itu datang padaku aku sebenarnya sudah taubat dari dosa yang pertama dan terakhir aku lakukan ketika aku sekolah.
Sampai akhir aku terus berbuat jujur dalam setiap langkah dengan teman-temanku Trio kere namanya, kita bertiga jadi duta anti mencontek di kelas. Walapun duta dikelas namun menerapkannya sungguh sulit bagi mereka, tapi yang penting aku yang terus memegang prinsip ini hingga akhir hayatku untuk tidak mencontek bagaimanapun keadaannya. Cita-citaku terus menggebu tiap hari tak tertinggal satu beritapun dan dunia perpolitikan akhirnya menggodaku untuk mempelajarinya, kehidupanku akhirnya teralihkan dengan buku-buku politik yang ada di perpustakaan buku tersebut koleksi pak guru perpus, aku meminjam dan membacanya hingga aku bisa mengamati situasi perpolitikan ketika itu. Ketika itu rasanya cita—citaku dimedia masa sudah pupus namun aku masih mempertahankan cita-citaku menjadi seorang presiden oleh karena itu aku dengan semangat membaca buku tentang politik mulai dari pengantar politik, dasar- dasar politik hingga komunikasi politik dan lupa lagi banyak buku buku  yang sudah  aku baca ketika itu.
Hingga di akhir studi aku dipertemukan dengan guru matematika yang sangat bersemangat mengajar usianya sudah sangat renta hampir seluruh hidupnya di habiskan untuk mengajar matematika, walaupun kadang banyak murid-murid yang tidak meperhatikannya, hingga pada suatu waktu bapak tersebut bertanya padaku “ai ingin jadi apa kelak?” aku jawab “aku ingin seperti bapak yang selalu bersemangat dalam menjalani hari-hari indah ini pak”. Dan pada akhirnya aku suka di suruh menilai hasil kerja teman-teman bahkan pernah aku disuruh untuk menjelaskan kepada teman-teman hingga satu cita cita itu muncul aku ingin menjadi seorang guru matematik.
aku tak sempat untuk mencari atau bahkan test ke Universitas Negeri di Indonesia karena ketika itu ayah ku meninggalkan dunia ini, walaupun ketika itu aku berencana ingin masuk FISIPOL UGM, hehe. Hingga pak guru yang suka di perpus yang punya kolekksi buku politik pun pernah bertanya keyakinan ku tentang hal itu, dan datang sebuah candaan ah yang pasti mah Universitas Gambar Maung,, eh ternyata benar. Selidik punya selidik aku pun mendaftar beasiswa masuk jurusan manajemen bisnis ya berharap bisa berpolitik di perusahaan jadi konsultan gitu. Tapi sayang surat di terima besiswa datang terlambat ketika aku sudah diterima dan sudah membayar uang ke UGM alias Universitas Gambar Maung dan akhirnya aku tidak mengambilnya dan aku masuk di jurusan pendidikan matematika.
Banyak yang menyayangkan aku masuk ke jurusan ini, walaupun hanya satu yang mendukung saya yakni guru matematika favorit ku. Bukan karena jurusan ini jelek akan tetapi karena basic matematika ku lemah, akan tetapi aku yakini aku mampu untuk memecahkan tembok ini dan menjadi yang terbaik di jurusan ini. semester pertama aku bisa membuktikan dan bersaing dengan teman-teman yang dari SMA-SMA apalagi yang jurusannya IPA. Walaupun dari semester ke semester lainnya nilai ku selalu turun naik tapi dengan hal itu menandakan aku konsisten dengan usahaku dan kelemahanku. Aku tak sempat untuk mengalah dengan jurusan ini aku terus berjuang hingga di semester 6 ini. dan aku tak pernah kalah dengan keadaan aku selalu istiqomah dengan belajarku dan usahaku walaupun hasilnya aku kalah dengan apa yang ingin aku raih tapi proses dan perjuangannya masih tetap sama.
Kuncinya adalah kejujuran yang harus di bawa dimanapun, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik apapun yang bisa aku lakukan akan aku lakukan selagi aku bisa itulah parameter keberhasilanku, aku akan mengerjakan tugas-tugas yang kadangkala orang lain malas untuk melakukannya dan aku akan menjadi garda terdepan untuk menyelesaikan tugas tersebut untuk diselesaikan. Tapi bagaimana jika aku tak mampu, ya aku nyontek, tapi ingat tak sekedar nyontek perlu dipelajari dulu  dan yang lebih penting jangan sampai nyontek ketika Ujian, UAS, UTS itu adalah pantangan, sampai motto hidupku terkenal dikelas, “lebih baik buat rumus sendiri dari pada nyontek”. Sampai sampai pernah aku dapat nilai nol dengan pengerjaan hampri sepolio lebih karena isinya membuat rumus sendiri, ya kaya professor- professor. Hehe
Dan yang selalu aku bertahan adalah motivasi melihat mamah ku yang berdagang di pasar. Temanku pernah berkata kepadaku “ seharusnya ai berpikir mamah mah diluar ker nimbangan asin ai enak-enak di sini” nah ini yang terus membuatku merasa bersalah kepada keadaaan ku, aku tak akan pernah menyianyakan kesempatan yang telah Allah berikan walaupun aku tau mamah menderita di sana, terus bagaimana keadaan orangtua kalian?. Jauh dari orang tua tak menjadikan ku menjadi anak-anak diluar sana yang senang dan merasa hidup mereka bebas ketika jauh dari orang tua, aku mendewasakan diriku sendiri dengan keadaanku yang seperti ini, naik turun usaha keluargaku mulai dari adanya mendiang ayah yang selalu memanjakanku dengan segala yang ku inginkan hingga bangkrut dan berusaha kembali membangun perusahaan dan hingga ia dipanggil dan mamah yang meneruskannya aku ingat semua itu dan aku bisa menerima dengan usaha dan membuat hal-hal kecil menjadi kebanggaan buat orang tua ku. Hingga saat ini hal inilah yang mempengaruhi kehidupanku. dan aku ingin mengubah kembali dan menjemput mamah agar tidak bekerja kembali.
Dan yang terakhir yang saat ini aku jalani adalah jangan pernah pelit terhadap ilmu yang kita punya, kadangkala aku suka marah ketika di kelas, aku menanyakan kepada temanku dan mereka tidak pernah mempedulikanku mereka malah mentertawakannku karena aku tidak bisa, dan sampai aku marah pun mereka tidak memberiku solusi untuk bagaimana aku bisa mengerjakan soal-soal tersebut, tapi ada juga yang baiknya yang suka memberi jawaban, tapi dengan hal ini aku marah dan aku selalu bilang kepada mereka kelak jika aku mampu dan ada teman yang memintaku untuk mengajarkannya aku akan mengajarkannya tak peduli siapapun mereka, dan alhamdulilah hingga saat ini walaupun aku masih sama seperti ini, masih ada adik tingkat atau bahkan teman seangkatan yang percaya untuk meminta bantuan kepada ku mengajari mereka, ini adalah hal yang paling aku banggakan dari apapun yang aku punya.
Kesimpulannya kita harus menanamkan kejujuran dalam hidup kita, jangan pernah takut jika nilai kita kecil karena kita tak mencontek, malah ada kepuasaan tersendiri ketika kita bisa melihat betapa indahnya perjuangan kita menaklukan materi-materi / mata kuliah-mata kuliah yang kita tempuh, semuanya memiliki kenangan tersendiri, toh saya pun tidak mencontek tetap kok nilai-nilai saya bagus minimal di atas 3 lah IPK kita. Terus ingatlah orang tua kita jangan sampai kita menyianyiakan kesempatan belajar kita yang sebentar ini, jika harus aku memilih mana yang lebih mengasyikan dalam hidup ini antara bermain dan belajar maka aku memilih belajar, kenapa ada alasan tersendiri mengapa aku memilih belajar apalagi belajar matematika yakni kita bisa mengerjakannya sambil kita bisa mendengarkan music, benarkan.. bayangkan kalau kita masuk jurusan yang kebanyakannya materi yang harus kita hafal oh tidak ada kesempatan untuk kita bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus, betulkan..? dan yang terakhir jangan pernah pelit, ilmu itu semakin kita sembunyikan maka akan cepat hilang maka berbagilah selama berbagi itu belum dilarang. Walaupun awalnya kita belum bisa apa apa namun dengan usaha dan keyakinan kita pasti bisa. AKU selalu bilang pada siapapun yang ku punya hanyalah modal semangat, dan semoga semangat itulah yang bisa membuat kita jembatan untuk meraih kesuksesan kita di masa depan. Amin. Dan yang terakhir yang tidak bisa saya ceritakan diatas adalah jangan sampai putus untuk menulis walaupun tulisan sederhana kita di buku harian, kenapa harus buku harian karena ada satu terapi yang AKU selalu sembuh ketika kelelahan kepenatan dan keputus asaan itu melanda, tidak selamanya kita orang semangat selalu semangat dan obatnya adalah kita baca buku harian kita dari awal sampai lelah itu terobati dan penat itu hilang. Insha Allah.
Pukul 2:10 tanggal 29 juni 2015
Selamat tinggal Semester 6

Minggu, 31 Mei 2015

PENDIDIKAN HARI INI ADALAH CERMINAN PENDIDIKAN DI MASA MENDATANG



PENDIDIKAN HARI INI ADALAH CERMINAN
PENDIDIKAN DI MASA MENDATANG
Ai Siti Nuraeni

A.      Pendidikan Kontemporer Dengan Masa Depan
Membicarakan pendidikan tanpa mengaitkan dengan kehidupan masa depan adalah bagaikan kerjanya orang bermimpi. Mereka seolah-olah hidup, padahal yang sebenarnya adalah sedang tidur. Pendidikan tidak seperti itu. Kerja pendidikan harus terarah, nyata, dan benar-benar mempersiapkan generasi yang akan hidup di masa depan.
Pendidikan hari ini adalah cerminan pendidikan dimasa mendatang   berarti pentingnya pendidikan sebagai sebuah konsep yang perlu ditanamkan pada anak-anak pada usia dini dan menyadarkan orang-orang dewasa kini. Mereka perlu diberitahu bahwa pendidikan tidak hanya berarti pengetahuan atau hanya mengenal buku dan tulisan atau hal-hal belajar dengan hafalan dan juga berhitung tetapi memegang makna yang jauh lebih dalam. Ini berarti membuka pikiran kita untuk mempelajari hal-hal baru dan mengejar pilihan yang berbeda. 
Pendidikan melepaskan kita dalam lungkungan pikiran kita dan memaksa kita untuk berpikir dan mempertanyakan suatu hal. Hal ini membuat kita sadar akan hak-hak kita dimasyarakat dengan demikian memberikan kita kekuatan untuk tidak diperbudak, baik dengan pikiran atau tindakan.
Pendidikan membuat kita berwawasan luas, membuka cakrawala peradaban, bahkan tidak ada waktu yang lebih baik untuk memahami konsep ini. Globalisasi telah mengubah dunia menjadi satu kota besar, tidak ada pembatasan untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini memungkinkan bagi kita untuk mengetahui tentang budaya yang berbeda atau peristiwa yang terjadi di ujung dunia. Dan islam juga telah menyebutkan ribuan tahun yang lalu yang terkandung dalam firman Allah swt.
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).
(QS. 18-109)
Dalam hal ini terbukti bahwa ilmu pengetahuan yang telah Allah swt berikan untuk manusia sangat luas dan tak terbatas dan pendidikan telah memperluas pemikiran kita, sehingga kita tidak terbatas pada negara kita dan zona tertentu lagi. Kita tidak terjebak dalam dunia kecil, kita telah keluar dari cangkang, mulai mengeksplorasi dan mempelajari hal-hal baru tentang dunia. Juga pendidikan telah mengubah pemikiran kita ke arah yang lebih baik, karena itu membantu kita lebih toleran dan menerima.
Pendidikan akan menyadarkan kita bahwa setiap yang kita lakukan adalah buah dari pemikiran pendidikan yang telah mempengaruhi alam pikiran bawah sadar kita. Buah dari hal ini adalah kita akan tersadar bahwa pendidikan adalah hak dan kewajiban bagi seluruh masyarakat demi kemajuan dirinya sendiri. Undang-undang pasal 31 bagaimana posisi pendidikan dalam kehidupan, yakni “pendidikan adalah hak setiap insan manusia sebagai warga negara, dan juga sebagai kewajiban pula demi kemajuan diri pribadi insan manusia”

Pendidikan adalah hak setiap insan manusia sebagai warga negara, dan juga sebagai kewajiban pula demi kemajuan diri pribadi insan manusia, walaupun setiap orang tahu, sadar dan sepakat bahwa pendidikan adalah hak dan kewajiban, tetapi belum semua orang mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Tanggung  jawab pendidikan secara moral ini ada di tangan kita semua walaupun secara yuridis, tanggung jawab dipegang oleh pemerintah daerah masing-masing wilayah. Tentu sebagai warga negara yang paham, kita tidak bisa berdiam diri. Maka lakukan perubahan walau sekecil apapun untuk bisa mewujudkan yang merata bagi setiap insan manusia tanpa membeda-bedakan banyak hal.
Untuk mewujudkan pendidikan yang merata bagi setiap insan adalah peran orang tua yang memiliki pengaruh sangat besar dalam pembentukan insan terdidik. Jika dipersentase, maka peran orang tua akan mencapai 60%, sedangkan pengaruh lingkungan 20%, dan lingkungan sekolah 20%. Apabila peran orang tua tidak diperankan secara baik dan benar maka pengaruh pendidikan 60% tersebut akan ditelan habis oleh lingkungannya.
Dalam permasalahan tersebut kita sebagai seorang pemuda bangsa yang memiliki kesempatan untuk belajar lebih tinggi sudah seharusnya memandang permasalahan tersebut dengan kreatif dan mengacu pada realita masyarakat saat ini. Bahwa pendidikan adalah faktor yang sangat penting dalam kemajuan kita dan bangsa kita sebagai ujung tombaknya pembangunan bangsa. Oleh karena itu pendidikan yang bertujuan dalam pengembangan SDM tidak boleh dikerdilkan maknanya hanya sekedar pendidikan baca atau tulis saja. Tapi dari itu kita harus mampu mengubah paradigma mereka tentang pentingnya konstribusi terhadap bangsa. Hal ini akan menjadi pendobrak bagi pandangan lama yang masih melihat pendidikan sebagai hal yang bertolak  belakang dengan kearifan lokal.
Sebagai seorang pemuda yang cenderung lebih modern, kita harus menghilangkan sikap egois ataupun merasa ekslusif  karena dua hal inilah yang seringkali menjadi kita terkotak-kotak dan bisa menimbulkan risiko ditolaknya kita oleh warga lokal. Solusinya kita harus berbaur dalam masyarakat, menjadikan pesan dan harapan kita sebagai bagian dari pelestarian budaya. Hal ini yang akan mampu menjadikan konsep pendidikan yang kita bawa diterima oleh masyarakat dan bagi generasi masa depan.
B.         Pengalaman Dan Tantangan Pendidikan Kontemporer Menyongsong Pendidikan Masa Depan
Kesadaran bahwa pendidikan harus senantiasa tanggap terhadap kemajuan telah mendorong para ahli dan pengambil keputusan di bidang pendidikan untuk terus menerus mengadakan pembaharuan. Pembaharuan pendidikan secara langsung dimaksudkan untuk memecahkan ketiga problema : internal in-efficiency(tingginya angka drop-outs dan angka repeaters/mengulang kelas), external in-efficiency (lulusan pendidikan tidak dapat diserap oleh pasar tenaga kerja ataupun dapat dipakai tetapi antara pekerjaan yang dilakukan berbeda dengan pendidikan yang diperoleh), dan ketidak merataan pendidikan. Secara tidak langsung, perubahan-perubahan di sektor pendidikan: misalnya, perubahan struktur pendidikan dan kurikulum, baik dalam arti content dan instructional delivery system, merupakan upaya agar pendidikan menjadi agent of development yang canggih.
 
Namun pembaharuan-pembaharuan yang telah dilaksanakan tidak jarang mengandung kelemahan dan perlu untuk dikritik. Salah satu kritik pernah dilontarkan oleh Winarno Surachmad (1986) yang menilai bahwa pembaharuan pendidikan di Indonesia bersifat tambal sulam dan kurang mendasar. Perubahan-perubahan kurikulum hanya menciptakan konfigurasi baru dengan isi yang lama. Kritik Havelock dan Huberman (1977) dan World Bank (1980) yang ditujukan pada pembaharuan pendidikan di negara-negara berkembang, termasuk sangat tepat untuk ditujukan pada pembaharuan pendidikan di Indonesia. Mereka menyatakan bahwa pembaharuan pendidikan yang dilakukan tidak dapat dipraktekkan karena keterbatasan pengetahuan pada tingkat pelaksana. Pembaharuan pendidikan yang dilaksanakan cenderung bersifat "technocratic perspective", artinya pembaharuan cenderung menekankan pada adopsi dari suatu perubahan daripada implementasi pada level kelas (Verspoar&Reno, 1986). Di samping itu pendidikan di negara sedang berkembang cenderung mengambil alih apa yang telah berhasil dilaksanakan di dunia Barat. Sehingga inovasi yang dilaksanakan bersifat "metropolitan sentris". Karena bersifat "metropolitan sentris" , tidak jarang suatu pembaharuan pendidikan akan mengakibatkan perbedaan semakin tajam antara pendidikan di urban dan di rural. Hal ini bisa dimaklumi, sebab guru-guru di kota lebih siap untuk menerima pembaharuan yang dilaksanakan. Di samping itu, di banyak hal pembaharuan pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia tidak mempunyai strategi monitoring dan prosedure evaluasi yang mantap. Sebagai contoh bisa disebut pembaharuan sistem dan kurikulum sekolah pembangunan.
Lebih mendasar lagi, tidak jarang pembaharuan yang kita laksanakan merupakan pengambilalihan dari Barat, tanpa mengadakan modifikasi yang berarti dan mempertanyakan secara mendalam hakekat dan aspek-aspek yang pokok yang ada pada ide yang akan diambil tersebut. Dengan mempertanyakan hakekat ide yang akan dilaksanakan itu akan dapat diperhitungkan kemungkinan implementasinya. Sebab pada hakekatnya pembaharuan pendidikan harus berdasarkan pada What is, tidak pada What ought to be; pembaharuan harus cocok dengan realitas ruang-ruang kelas. Sebagai ilustrasi kritik ini dapat diambil sebagai contoh pembaharuan pada metode pengajaran. Dalam kurikulum 1984, hampir pada semua pokok bahasan dicantumkan metoda cara belajar siswa aktif (CBSA) sebagai metoda yang harus digunakan. Metoda ini telah berhasil menaikkan "gengsi" pendidikan di Amerika pada tahun-tahun 1960-an. Metoda CBSA mementingkan proses berpikir dan melatih inquiry skid. Kelebihan lain dari metoda ini adalah meningkatkan critical thinking, merangsang intrinsic motivation dan memberikan kemungkinan daya ingat yang lama pada diri siswa (Bruner, 1961). Namun perlu diingat bahwa metoda ini memerlukan persyaratan tertentu untuk bisa diimplementasikan. Misalnya, pelaksanaan metoda CBSA memerlukan kondisi dan iklim kelas yang tidak terlalu formal dan fleksibel. Guru harus mempunyai pengetahuan yang relatif luas. Pada diri murid sudah terpatri kecintaan dan kesadaran pada hakekat ilmu, sikap ingin tahu, menghargai pikiran-pikiran dan bukti-bukti kebenaran, objektif dan bersifat toleransi.
 
Patut kita pertanyakan sudahkah syarat-syarat tersebut ada pada kelas-kelas dan siswa-siswa di tanah air kita? Apa yang diketemukan di kelas-kelas di Indonesia jauh dari yang diperlukan. Kelas-kelas masih sangat kaku dan formal. Pengetahuan para guru relatif terbatas, oleh karena itu mereka tidak berani membicarakan apa yang di luar silabi. Karena membicarakan di luar silabi memang di luar kemampuannya. Di pihak lain, murid cenderung untuk mendengarkan, menerima dan mencatat apa yang diterangkan oleh guru. Apa yang diterangkan oleh guru sudah dianggap merupakan kebenaran, oleh karena itu tidak perlu dipertanyakan dan diuji lagi. Maka, tidak mengherankan kalau metode CBSA hampir dapat dikatakan tidak pernah dilaksanakan dalam ruang-ruang kelas. Selama kondisi tersebut belum terpenuhi metode CBSA tidak akan pernah hadir di kelas secara riil.
Dalam setiap pembaharuan pendidikan, guru memegang peran yang strategis, sebab merekalah yang merupakan pelaksana pembaharuan pada level kelas. Namun, pengalaman di Indonesia menunjukkan guru lebih banyak dilihat sebagai  objek dalam pembaharuan pendidikan.  Sehingga setiap kebijaksanaan sebagai wujud pembaharuan pendidikan lebih banyak bersifat instruksi yang harus dipatuhi dan dilaksanakan dan tidak ada ruang bagi guru untuk berimprovisiasi. Perencanaan dan kebijaksanaan nasional memang perlu, namun perlu dicatat bahwa pelaksanaan pembaharuan pendidikan sangat tergantung pada semangat, rasa keterlibatan, dan kesadaran para guru. Guru akan memberikan respon yang positif pada setiap usaha pembaharuan yang akan dapat meningkatkan kemampuan profesional mereka dan memberikan ruang bagi mereka untuk berimprovisasi secara aktif dalam proses pembaharuan tersebut. Oleh karena itu setiap upaya pembaharuan pendidikan seharusnya menjadikan guru sebagai partisipan yang aktif, tidak hanya sebagai penerima pembaharuan. Pembaharuan pendidikan yang cenderung menjadikan guru sebagai objek dan sekedar penerima pembaharuan, apalagi hanya lewat instruksi, cenderung untuk gagal. Dalam kaitan ini perlu untuk didengar pendapat Fullan (1985) bahwa keberhasilan pembaharuan pendidikan tergantung pada apa yang difikir dan dilakukan guru.
Di samping apa yang dikemukakan di atas, pembaharuan pendidikan di negara-negara sedang berkembang, termasuk di Indonesia, jarang mengevaluasi dan mengembangkan aspek lain dari pendidikan formal di luar kurikulum dan kemampuan guru. Di samping aspek kurikulum dan kemampuan guru, sekolah mempunyai aspek lain, yaitu aspek sosiologis; sekolah merupakan "a mini society".
Sebagai suatu masyarakat kecil, sekolah merupakan cermin dari masyarakat dimana sekolah itu berada. Apa yang terdapat dan terjadi di masyarakat, pada dasarnya terwujud juga dalam sekolah. Di sekolah terdapat aturan-aturan yang mengikat para anggotanya, baik anak didik maupun guru. Ada norma-norma dalam pergaulan yang harus dipatuhi, terdapat interaksi antara sesamanya baik secara individual maupun kelompok, terdapat konflik-konflik interes baik nampak maupun tersembunyi. Sangsi-sangsi akan dijatuhkan kepada siapa saja yang melanggar tatanan yang ada. Hak-hak dan kewajiban guru dan murid diakui.
 
Dalam proses "transfer of culture", termasuk di dalamnya proses pembentukan kepribadian, sikap, rasa dan juga intelektualitas, aspek sekolah sebagai "a mini society" sangat penting artinya. Model sekolah Muhammadiyah dengan memadukan antara Masjid dan gedung sekolah, merupakan bentuk pengakuan pentingnya aspek sekolah sebagai masyarakat kecil tersebut.
            Dalam dunia pendidikan terdapat dua teori yang berkaitan dengan sekolah sebagai masyarakat kecil ini. Pertama, sekolah tempat melatih dan mempersiapkan anak didik untuk terjun pada kehidupan mereka di masa mendatang. Kedua, sekolah merupakan kehidupan riil anak didik itu sendiri, bukannya tempat mempersiapkan anak didik. "School is not preparation for life, but life it self" (Dewey, 1944).
            Implikasi praktis dari teori pertama, anak didik dalam proses pendidikan diberlakukan sebagai objek pendidikan. Mereka merupakan objek yang tengah digembleng dan dicetak agar mampu mengarungi kehidupan di kemudian hari. Mereka bukanlah subjek di dunia sekolah yang ada ini. Sayangnya, kemajuan yang pesat di bidang ilmu dan teknologi menyebabkan perubahan-perubahan yang berlangsung di masyarakat sangat cepat dan sulit itu bisa diramalkan dengan tepat (lihatToffler, 1974, 1981). Oleh karena itu timbul pertanyaan, bagaimana mempersiapkan anak didik untuk mengarungi kehidupan di kemudian hari itu sendiri tidak bisa diprediksi?
            Teori kedua, menekankan hendaknya sekolah diselenggarakan sedemikian rupa sehingga betul-betul merupakan kehidupan riil anak didik itu sendiri. Implikasi dari teori ini adalah anak didik merupakan subjek dari proses pendidikan. Kehidupan sosial anak didik dalam masyarakat kecil tersebut merupakan dasar dan sumber dari transformasi kehidupan. Peran paling penting dalam proses pendidikan bukanlah terletak pada mata pelajaran yang diberikan, melainkan pada aktifitas dan interaksi sosial anak didik itu sendiri. Peran guru menurut falsafah ini lebih banyak bersifat tut wuri handayani; memberikan dorongan dan motivasi agar para anak didik mampu memperluas kemampuan pandang, unluk mengembangkan berbagai altematif dan pengambilan keputusan dalam aktifitas kehidupan serta memperkuat kemauan untuk mendalami dan mengembangkan apa yang dipelajari dalam proses kehidupan itu. Namun, perlu difahami pula, bahwa dengan menjadikan anak didik sebagai subjek dalam proses pendidikan tidak berarti sekolah bersifat "value free". Tetap saja, sekolah lewat guru dan kurikulum akan menanamkan values, tetapi dengan cara "value-fair". Artinya dalam usaha menanamkan nilai-nilai, guru tidak akan memaksakan sesuatu nilai tertentu kepada anak didiknya. Melainkan guru melakukan usaha-usaha dengan berbagai cara atau metoda, berbagai alat bantu, agar anak didik akan membenarkan dan menerima nilai-nilai yang ia ajarkan, anak didik sendirilah yang menemukan dan mengadopsi nilai-nilai yang ditargetkan oleh sekolah untuk ditanamkan pada anak didiknya.
            Banyak keberatan dari para ahli atas bentuk sekolah berdasarkan teori yang pertama. Keberatan yang terpenting adalah dengan menjadikan anak didik sebagai objek berarti pendidikan merupakan tindakan "mencomot" anak didik dari lingkungannya sendiri untuk dimasukkan ke dalam lingkungan yang lain yang belum tentu sesuai atau malahan asing bagi anak didik. Lingkungan baru itu bernama sekolah. Kalau anak didik tidak cocok dengan lingkungan baru, sebagai objek, anak didik tidak bisa berbuat apa-apa. Masalahnya akan menjadi rumit, kalau apa yang dilihat, diterima dan dihayati dalam lingkungan "mini society" ini tidak sama atau malahan bertentangan dengan apa yang ia lihat, terima dan hayati dari lingkungan yang lebih besar, yakni masyarakat. Akibat dari keadaan ini, tidak mengherankan kalau banyak anak didik yang mengikuti pelajaran di sekolah dengan setengah hati.
            Di pihak lain, lebih banyak para ahli yang keberatan dengan teori kedua. Keberatan pokoknya adalah berkisar pada kekhawatiran pendidikan akan menjadi proses yang tanpa arah dan "anarkis".
            Sudah barang tentu pembaharuan pendidikan di negara kita di masa mendatang harus pula memperhitungkan aspek sekolah sebagai "a mini society" ini. Pembaharuan pendidikan tidak berarti harus mengambil salah satu teori pendidikan secara murni. Yang penting adalah bagaimana pembaharuan pendidikan bisa membuahkan kebijaksanaan yang mengarahkan agar pendidik bisa memanfaatkan variasi interaksi dan pengalaman riil yang diperoleh anak didik di sekolah sebagai upaya untuk mencapai keberhasilan pendidikan.
            Ada tiga hal yang telah dikemukakan dalam pembahasan tentang pembaharuan pendidikan: kurikulum, guru dan sekolah sebagai "a mini society". Pengembangan sekolah di masa depan di mana perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat sangat cepat dan unpredictabfe, ketiga hal tersebut tidak bisa ditinggalkan.