Sabtu, 27 Desember 2014

JEMBATAN SAYUP




JEMBATAN SAYUP
            Sore ketika ku pulang dari Program Kerja Lapangan (PKL), anak-anak SMA telah pulang dari sekolah, datang dua rombongan anak-anak SMA dari daerah indi dan lembang dengan teriakan-teriakan yang tak pantas disebutkan oleh anak-anak yang berpendidikan. Beberapa menit kemudian keduanya saling serang dan keributan akhirnya terjadi.
Tibalah suara alarem polisi datang kira-kira 4 mobil polisi menghadang mereka dan mereka lari kocar-kacir, pada akhirnyalah beberapa orang tertangkap dan beberapanya pun dapat melarikan diri.
Akhirnya keributanpun terhenti, tempat itu akhirnya sepi, tak ada siapapun namun bekasnya terlihat. Ketika ku berjalan tepat di sebuah jembatan sayup ada seseorang yang menangis kesakitan dan meminta pertolongan, namun aku tak tahu dimana sumber suara tersebut. Namun semakin ku melaju suara itu makin keras terdengar dan akhirnya aku melihat seseorang di bawah jembatan. seseorang masih berbaju seragam merintih kesakitan, aku tahu ia dari sekolah SMA Vektory yang bertetangga dengan sekolahku SMK Kebangsaan.
Ketika itu aku coba untuk melihatnya lebih dekat, ternyata seseorang itu merintih kesakitan karena wajahnya tersiram air keras, “subhanallah” teriakku. Langsung aku menelpon ambulan untuk membawanya ke rumah sakit. Sepuluh menit kemudian ambulan tiba membawa seseorang itu. Dalam perjalanan senandung adzan berkumandang, aku menatap langit, berpikir bagaimana perasaan ibunya nanti melihat putranya seperti ini. Tiba-tiba ambulan terhenti dan pintu belakang ambulan pun di buka, para perawat pun dengan sigap membawa pria itu. Aku yang setengah shock segera berlari mengikuti perawat yang membawa pria itu. Tiba-tiba suara handphone berbunyi, dari tas pria itu yang aku bawa, lalu aku membuka tas tersebut, dan melihat di layar handphone itu “ibu”, aku bingung bagaimana aku harus berkata kepada ibunya, lalu aku beranikan diri untuk mengangkatnya, bagaimana pun orangtuanya berhak mengetahui apa yang terjadi kepada putranya. Suara lirih mengucap salam di telingaku terdengar, seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya, “assalamualikum, nak masih dimana sekarang?” lalu aku menjawab salamnya “waalaikumsalam bu”. “maaf ini siapa?”. “sebelumnya saya minta maaf bu, karena membuat cemas ibu, saya Rasya, ibu bisa datang ke rumah sakit sekarang?” dengan nada lirih aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada putranya itu, aku langsung mengajaknya untuk datang saja ke rumah sakit. “ada apa de rasya?” “ibu datang saja ke rumah sakit, aku dan putra ibu ada disini, aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi sekarang, maaf sekali bu, aku tunggu ibu di ruang mawar Rumah sakit Setia Perkasa”. Telepon pun tiba-tiba terputus, mungkin karena perasaaan sang ibu yang tidak karuan memikirkan putranya yang tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku pun bergegas untuk melakasanakan salat magrib. Setelah selesai salat, bergegaslah aku ke ruang mawar takut orangtuanya telah tiba. Suster pun manghampiri dan bertanya “apakah sudah dihubungi keluarganya?” saya pun menjawab dengan mengangguk, lalu suster tersebut memberikan dompet pria itu,dengan sedikit berani aku pun membuka isi dompetnya, aku hanya ingin mengetahui identitas dari pria itu lalu aku membukanya dan menemukan kartu pelajar beratas namankan Bya Hamza Ar-rahman. Lalu ku tutup kembali.
Dari jauh aku melihat seorang ibu berlari dengan cemas bersama suaminya, aku memastikan beliau adalah orang tua dari Bya ini, kedua orangtua tersebut menghampiri resepsionis dan menanyakan “apa ada pasien yang bernama Bya?”. Lalu aku langsung berdiri dan menghampiri orangtua Bya, “ibu perkenalkan aku Rasya Zifa yang mengangkat telpon tadi”, “mana Bya de?”. “Bya ada dikamar perawatan dan belum bisa ditengok oleh siapapun, mari bu duduk dulu akan aku jelaskan apa yang terjadi pada Bya”. Orangtuanya dengan mata cucuran air mata mengikutiku untuk duduk di ruang tunggu, dan aku menjelaskan apa yang terjadi saat itu, aku bilang bahwa Bya mengikuti tawran tadi sore di jembatan Sayup, kulihat ibunda Bya tidak percaya bahwa putranya melakukan tawuran antar pelajar itu, karena menurutnya Bya adalah anak yang baik dan di sekolahnya pun mengikuti Forum Remaja Masjid, jadi tidak percaya bahwa putranya melakukan ini. Aku menguatkan ibunda Bya dan menenangkannya “mungkin Bya korban bu, yang tak sengaja lawat tawran tersebut”. Ayahnya bya pun tak dapat berdiam diri beliau bolak balik melihat apa yang terjadi pada putranya itu. Isya telah berkumandang saya izin pulang karena esok harus pergi PKL lagi, dan beliau pun mengizinkan, aku akhirnya pulang tanpa tahu bagaimana kondisi bya selanjutnya.
Satu bulan kemudian, setelah selesai Program Kerja Lapangan (PKL) aku pun kembali ke sekolah. Dan ketika aku turun dari angkutan umum aku pun berpas-pasan dengan seseorang yang memakai masker dengan mengendarai sepeda. Saya berpikir apa dia adalah Bya? Tapi aku yakini dia adalah bya yang satu bulan yang lalu aku tolong di jembatan sayup. Syukurlah ia telah kembali sekolah.
Setelah itu sesekali kami berpas-pasan dengannya, karena sekolah kami yang berdekatan maka aku pun suka melihat bya pulang dengan sepedahnya. Entah mengapa aku penasaran dengan luka di wajahnya, apakah dari siraman itu membekas di wajahnya sampai ia harus memakai masker?. Entahlah,
Ujian Nasional dan peraktek-peraktek harus ku lalui dan tak terasa aku akan segera lulus. Tawaran undangan SMPTN berdatangan kesekolah hanya 30% lah yang akan di beri undangan untuk masuk PTN. Aku pun mencoba untuk mengambil kesempatan tersebut. Namun apa boleh dikata kesempatan itu tak bisa diambil karena datang surat dari National University Of Singapure (NUS) bahawa aku lulus ujian masuk NUS tersebut. Rasa syukur aku panjatkan kepada Allah swt karena aku adalah orang pertama dari sekolah ini yang bisa melanjutkan mencari ilmu di Negara Singa tersebut yang lebih bersyukur lagi aku mendapat beasiswa setengah harga dari kedutaan besar Indonesia, karena sebuah prestasi anak bangsa bisa lolos di kampus biru jingga tersebut. Aku mengambil Faculty of Engineering dan aku tinggal di Kent Ridge.
Malam hari ini setelah usai ku laksanakan shalat isya, aku keluar untuk melihat suasana malam di Singapur pertama kalinya sangat berbeda dengan negaraku di Indonesia yang sangat sejuk dengan hembusan angin yang sangat ku rindu, malam pertama ini di Singapur sangat ramai mahasiswa-mahasiswa hampir semuanya pergi untuk sekedar hangout bersama. Aku tak berani untuk jalan malam ini. Sangat sepi sekali suasana di flat ini namun aku melihat di flat sebelah seseorang jalan ke arahku. Tiba-tiba seseorang itu menghampiriku dan mengajak berkenalan dengan ku. Ternyata dari Indonesia dari jawa barat, namanya mba Tani. Mba tani ngambil Fakultas Kedokteran. Setelah berbicara panjang lebar dengannya, bahagia banget hari pertama sudah dapet temen senegara.
Esoknya, hari pertama saya masuk kuliah di fakultas Teknik, di NUS belum ditentukan jurusannya, jurusan akan di tentukan setelah mencoba belajar satu semester disana. Pagi itu aku benar benar mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Dari flat aku turun dengan semangat memberhentikan busway menuju NUS, ketika itu aku ketemu mba tani dan kita pergi bersama menuju kampus, kampus NUS sangat luas akhirnya sampai di gerbang NUS kami harus berpisah dan ku lanjutkan menggunakan bis NUS menuju Fakultas Teknik.
Hari ini aku kuliah hanya sampai duhur, lekas solat ada sms dari mba Tani “assalamualaikum de, ikut Perhimpunan Indonesia National University of Singapure (PINUS) yuk, biar banyak temen jam 13.00, mba tunggu di terminal fakultas seni” “oke mba”. Siang itu aku sangat bahagia ternyata aku disini tidak sendiri, banyak kakak-kakak tingkat dan teman seangkatanku di sini walaupun berbeda fakultas. Tapi yang membuatku sedih adalah aku sendiri orang Indonesia yang kuliah di Fakultas Teknik. Pertemuan ini akhirnya berakhir dengan tawa ceria, aku dan mba tani pun  pulang ke flat kita masing-masing. Aku mencoba untuk merebahkan badan di tempat tidurku ini, aku menerawang jauh hingga aku teringat seseorang yang pernah aku tolong ketika kelas 2 SMK ketika itu. Aku langsung terbangun dan membuka laptop aku langsung buka akun ku di Facebook dan Twitter. Lalu aku ketik nama Bya Hamza Ar-Rahman namun tidak ada nama tersebut yang ada hanya Hamza Bya lalu aku coba untuk membuka akun tersebut dan melihat kronologinya dan aku add friend dan ketika itu Hamza Bya langsung mengkonfirm pertemananku, tidak banyak informasi yang mendukung bahwa dia adalah Bya Hamza Ar-Rahman namun aku tetap penasaran dan mencoba untuk men-chat. “assalamualaikum” “waalaikumsalam” “maaf sebelumnya mengganggu waktunya. Perkenalkan saya Rasya Zifa dari tasikmalaya apa Hamza juga dari tasikmalaya” “iya benar, ada yang bisa saya bantu?” “oh iya boleh tanya dimana SMA Hamza sekarang?” “aku sudah keluar dari 2012 lalu, aku alumni SMA Viktory, ada apa mba bertanya itu kepada saya?”. Aku tersenyum lebar sendirian akhirnya aku menemukan akunnya Bya aku yakin ini Bya yang aku tolong ketika itu. “terimakasih Hamza informasinya, maaf aku bertanya seperti itu, aku alumni SMK Kebangsaan angkatan yang sama dengan Bya” “wah senang kalau begitu mba, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” “iya Bya, aku bertemu dengan Bya  ketika di jembatan sayup, yang menolong Bya ketika Bya tersiram air keras, bagaimana sekarang lukanya?” “benar kah, yang menolongku, bahagia sekali aku bisa berkomunikasi dengan orang yang telah menolongku, maaf mba, aku benar-benar tidak ingat siapa yang menolongku ketika itu, ibuku juga menceritakannya kepadaku namun ibu juga lupa namanya siapa.. alhamdulilah Allah mengizinkanku untuk bisa mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah menolongku. Terimakasih ya mba. Untuk lukanya masih dalam penyembuhan” “sama-sama, ya semoga cepat sembuh Bya” “aamiin”. Chat bya akhirnya offline namun perasaan bahagiaku semakin bertambah karena bisa berkomunikasi dengan seseorang yang pernah ku tolong.
Di akhir semester 5 sudah ku lalui, jurusan yang ku ambil yakni teknik Bioengeenering yang sudah ku cintai. maka akhirnya aku harus menempuh program NUS yaitu the Participation on community service atau kalau di Indonesia dikenal dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau mahasiswa mengenalnya dengan sebutan magang. Pengumuman KKN pun sudah mulai tersebar via website kampus. Lalu aku pun membuka website dengan memasukan akun NUS ku disana untuk melihat dimana aku ditempatkan dan dengan siapa saja yang sekelompok denganku. Dengan rasa syukur ku panjatkan karena aku berkesempatan untuk magang di korporasion besar yang ada di Indonesia ya di Bogor lebih spesifiknya di IPB leb. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi . Bedanya dengan KKN yang ada di Indonesia kalau mahasiswa Indonesia KKN itu ke wilayah tertinggal namun di NUS KKNnya ke perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi besar. Setelah itu aku mengklik anggota sekelompokku ada 20 orang yang ikut untuk magang di Indonesia dengan instansi-instansi yang berbeda namun tetap dalam satu daerah. Mataku hampir keluar ketika nama Bya Hamza Ar-Rahman ada di deretan kelompok magangku, dari Institut Sains Sistem dan Matematika Sains NUS. Ketika itu aku pun membuka akun Fb ku namun dia tidak sedang online.
Seminggu sebelum pemberangkatan kelompok kami pun mengadakan pertemuan di taman Fakultas Teknik. Rasa penasaranku membuat ku datang lebih awal untuk melihat siapa orang dibalik naman Bya Hamza Ar-ramhan tersebut, ½ jam kemudian anggota kelompok magang ke Indonesia pun datang, kira-kira baru 19 orang yang datang dan berkumpul dan mencoba saling berkenalan, datanglah seseorang bermasker dan meminta maaf kepada semuanya dan ia pun yang terakhir yang belum memperkenalkan dirinya. Dengan untaian salam dia memperkenalkan dirinya Bya Hamza Ar-Rahman dari Institut Sains Sistem dan Matematika Sains NUS magang di IPB di Leb Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Matematika.
Pemberangkatan ke Indonesia akan kita mulai, kira-kira 2 jam kita akan tiba di Indonesia, pukul 09.00 WIB kita tiba di Indonesia, lalu kita langsung pergi keterminal menuju bogor, aku perhatikan Bya, yang tidak mengenalku. Ketika bis menuju bogor ku naikki aku memberi senyum ke bya, namun bya menunduk. Sesampainya di bogor dari 20 orang tersebut di bagi 4 kelompok satu ke Rumah Sakit di sekitar Bogor, Kelompok dua di Perusahaan, Kelompok tiga di instansi-instansi Pemerintahan, dan kelompok empat di laboratium IPB. Kelompok empat aku, amita, bya, fikri. Perjalanan dari terminal bus bogor kami harus lanjutkan dengan angkutan kota menuju IPB. Dalam perjalanan hanya Bya-lah yang tetap terdiam. Aku coba untuk menyapanya “ Bya, dari tasik ya?” “iya, kok tau?” “iya, aku juga sama dari tasik, aku Rasya Zifa, ga nyangka kita kuliah di Universitas yang sama” “oh Rasya, terimakasih,”. Lalu aku pun melempar senyum padanya.
Sesampainya di asrama asing kami disediakan dua kamar aku dengan Amita dan Bya dengan Fikri. Pagi yang indah di Negara yang ku cintai dengan pohon-pohon yang rindang di IPB dan Masjid Al-Huriyyah unik sangat menenangkan dalam hati ini, setiapa ada  waktu luang kami gunakan untuk mengikuti kajian-kajian keislaman di sana. Atau jalan-jalan keliling Bogor yang indah. Ketika kami berjalan menelusuri kampus IPB, aku berkesempatan untuk memulai obrolan dengan Bya, dan menanyakan kesehatan lukanya. Waktu magangku tinggal 2 minggu lagi dan disela itu Bya meminta izin untuk penyembuhan selama 5 hari.
Tak terasa akhirnya perjuanganku magang di Indonesia telah selesai, semua kembali pada urusannya masing-masing. Perjuangan menempuh studyku setelah magang sangat berat menjadi seorang yang ahli dalam study bioengeenering sungguh harus fokus dan harus ku jalani dengan serius.
Akhir perjuanganku pun telah usai hari ini aku pun di wisuda dengan baju toga jingga biru kebanggaan semua orang. Tapi sayangnya hanya orangtuaku yang bisa mendampingiku wisuda adik dan kakakku tidak bisa datang karena keterbatasan dana dan sulitnya birokrasi mengenai administrasi untuk datang ke luar negeri. Aku mencoba untuk bekerja sebagai asisten Leb di Universitas Trisakti. Setahun kemudian kesempatan ku untuk belajar tidak pernah habis, surat lamaran beasiswa S2 ku diterima dan aku melanjutkan studyku di NUS kembali berkat beasiswa dikti untuk calon dosen, dan 3 bulan mendatang aku berangkat ke Singapur. Perasaan bahagia sangat terlihat ketika ku mengajar kepada mahasiswa Trisakti di Leb, dalam sesi pembelajaran peraktek aku menceritakan bagaimana aku bisa menempuh ilmu di Negeri Singa, mungkin akan menjadi motivasi bagai mahasiswa-mahasiswa. Banyak yang bertanya bagaimana nikmatnya belajar di singapur, biaya hidup, dan tempat-tempat favorit di sana.
Hari sabtu ketika aku libur dari aktivitas kerjaku, tiba-tiba hati ini resah, karena guru ngajiku meneleponku untuk mencoba taaruf dengan seseorang, karena sang ibu khawatir, aku masih tetap fokus dengan studyku dan akhirnyalah ibu menelepon guru ngajiku untuk mencarikanya untuku dan aku pun memberanikan diri untuk mencoba. Namun keputusannya tetap ada di tanganku.
Guru ku mengajak ku untuk bertemu di Masjid Agung Tasikmalaya lantai dua, aku sengaja naik angkutan umum menuju ke sana. Dua kali naik angkot harus ku tempuh. Sambil menunggu angkutan umum aku pun membeli minum di warung, angkutan umun yang ku tunggu akhirnya ada, aku berlari dan memberhentikan angkutan umum itu karena sudah lama sekali aku menanti angkutan kota itu. Aku pun naik membawa air dan uang kembalian sembari terburu-buru. Namun ditengah perjalanan ketika ku membuka tasku mengambil dompet ternyata dompetku tidak ada. Untung saja uang kembalian masih ada di tangan, jadi saya membayar ongkos angkot dengan uang kembalian tersebut, kemungkinan dompetku ketinggalan di warung yang tadi atau juga jatuh di sekitar itu. Aku pun berhenti di perempatan dan jalan ke Masjid Agung, ketika ku berjalan menuju pelataran masjid ada seseorang yang memanggilku, “zifa, zifa, zifa..” aku pun melirik kebelakang “ya ada apa?” “Ini dompet zifa oh iya, terimakasih, tapi kenapa ada di mas?” “saya temukan ini di warung yang di depan lapangan udara” “oh iya terimaksih banyak”. Aku berjalan menuju lantai 2 masjid Agung ternyata aku yang datang lebih awal ke masjid ini. aku teringat dompetku yang seseorang tadi bawa kenapa dia bisa tahu saya? Padalah tidak ada satupun foto dalam dompet ini dan tidak ada identitasku di dompet ini. Ribuan tanda tanya ada dibenakku, tapi sudahlah dompet sudah kembali dan sudah pula berterimakasih kepada yang telah menolong.
Kring..kring… kring… handphone langsung ku angkat guruku menelepon dimana keberadaanku, beliau menyuruhku untuk pergi kelantai dua yang di belakangnya masjid disana ada sebuah ruangan yang berhijab, lalu aku pun memberi salam, duduk diruangan tersebut. Aku tak tahu siapa orang yang ada dibelakan hijab itu, namun dalam hatiku bertekad ketika Allah mengizinkan dengan keteguhan hatiku maka aku akan menerima namun ketika keteguhanku ragu maka sebaliknya.
Guruku langsung memulai pembicaraan dengan menjelaskan secara umum kita berdua tanpa menyebutkan nama ku dan namanya, dan guruku menyuruhku untuk memperkenalkan diri sebelum dia yang belum aku ketahui, “bismilahirohmanirohim, Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Rasya Zifa, sekarang saya bekerja sebagai asisten Leb di Universitas Trisakti, dan insyaAllah 3 bulan kedepan saya akan melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama di kampus ku dulu”. Setelah memperkenalkan diri ini tibalah dia yang memperkenalkan diri. “assalamualaikum wr. wb, perkenalkan nama saya Bya Hamza Ar-Rahman, sekarang saya bekerja di lembaga Statistik, sekarang saya sedang mengenyusun tesis di Universitas yang sama dimana kita dulu mencari ilmu”. Jantungku berdebar kencang, mataku berkaca, sebenarnya siapa bya, yang masih menjadi teka-teki hidupnya, aku terus menunduk tak sanggup lagi untuk berbicara, dan sang guru pun menawarkan “apakah kalian ingin melihat satu sama lain?” aku tetap tertunduk dalam diam jantungku terus berdabar kencang dan kepala ini serasa tak bisa aku angkat. “bismilahirohamanirohim”, kucoba untuk mengangkat kepalaku untuk melihatnya dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya, ternyata orang yang mengembalikan dompetku tadi. Ketika itu entah mengapa air mataku meneteskan air mata.
Karya : Ai Siti Nuraeni 29/10/2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar