Senin, 08 Desember 2014

PUISI KARYA AI UNTUK ANGGARA



Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Mengapa kau lari
Saat ku menunggu
Kau gores luka pena
Pada hati yang jatuh
Ku tunggu kau
Tapi hanya desir angin
Yang melambai wajah risau
Mengapa kau lari dan pergi dari pandanganku
Saat ku menatap
Jangan kau pandang aku
Dengan serpihan jiwa
Ku hanya ingin tahu kau tersenyum
Waktu hatiku merapu
Dalam ingatanku
Ruang gelap dan kosong
Adalah kenangan jiwa abadiku













Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Di malam itu terlihat kau duduk
Hisapan rokok terus kau hisap
Sambil terduduk di sisi kiri
Ku lihat kau kiranya kau ada
Hilang
Dalam kumpulan gulita malam
Hanya sekuntung rokok yang masih menyala yang kau tinggalkan
Di sisi pojok kiri
Tempat dudukmu
Kau hilang dan pergi
Hanya saat ini ku menanti
Menunggu kau di sini
Sampai kau datang kembali

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Aku seorang pemimpin yag selalu mendengarkan rakyat indonesia
Aku yang berdiri diatas tiang keemasan
Yang memegang tanggung jawab dari sorakan dan tangisan.
Rakyat aku menawarkan bukan yang memaksakan, yang sangat memerlukan tangan-tangan sorakan.
Rakyat
Aku yang mengabdi bukan yang berkuasa.
Agar dapat berjasa bagi kehidupan yang sejahtera.






Karya : Ai Siti Nuraeni 2008

Ketika langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan
Langkah kaki itu mulai mendekat
Kau memberikan sebatang tongkat untuknya
Tangan bergetar ketika tongkat itu dinyalakan
Dengan tiupan api yang membara
Terjatuhlah tongkat itu saat dinyalakan
Terpojok sisi hati yang takut mati
Waduh....... adakah permintaan maaf
Untukku yang telah menjatuhkan nyawamu
Tolong.

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008

Ketika waktu terus menyempit
Dan masyarakat terus menjerit
Melewati hidup yang penuh derita
Aku juga sama dengan kalian
Yang makan dengan cari dan suapan hanya sekali
Uang kerinjing dan perut keroncong
Dimana aku hanya makan dengan garam
Yang tertekan dalam kemuslihatan







Karya : Ai Siti Nuraeni 2008

Bayanganku
Beginilah hidupku
Yang terjebak dalam belenggu
Aku  tidak mau hidup dalam mimpi dan bayangan Masa kelamku
Tapi aku ingin hidup maju memandang kedepan
Masa-masa laluku sangatlah terbayang
Kelam
Tetapi masaku tertutupi kelabu
Mengapa begini masibku
Yang hanya bisa mundur dan tak pernah maju.

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Pagi yang indah
Matahari mulai terbit dari sarangnya
Semua pintu terbuka
Mengawali kegiatan dan aktifitas nya
Siang yang terik
Menginginkan air yang segar
Mentari bersinar di tengah-tengah putaran jiwa
Mengakhiri semua kegiatan
Sore yang tenang
Mengawali kita bersantai
Matahari telah pulang ke sarang
Saatnya kita tenang
Malam yang berbintang
Bulan dan bintang benerang
Menemani dalam keheningan malam.

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Denting air hujan bagai membelah daratan
Dalam kegersangan
Dialam keributan yang kelam
Tersandar seribu keinginan
Yang telah hilang
Langit yang tertutupi kabut tebal
Seakan terpenjara dalam keganjilan
Dalam sebuah ketenangan
Keraguan yang tak hilang
Untuk sebuah kenangan
Bayangan yang tersimpan
Bagaikan rahasia yang tak terpecah
Muka mu yang indah
Seakan purnama menyinari suasana malam

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Dewi  malam hinggap di jendela kamarku
Lalu tersenyum tertutupi awan kelam
Mentari pagi memeluk tubuhku
Sambil berkata hangatkan diriku
Teringat dewi malam yang tak kelihatan
Hanya mentari yang terus memelukku
Aku ingat sang api akan membakarku suatu saat
Tapi apakah aku bisa mati
Itu akan jadi tanda tanya besar dibanakku
Mentari yang terus memeluku
Terkhayal masa depanku yang takkan kelam dimana akan ada kehangatan di pelukkan mentari

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Mentari tak selamanya menyambutku
Malam tak selamanya mengantarku
Selamat tinggal pada siang dan malam
Indah dipelupuk matamu
Aku bertahan
Ku sampaikan sejuta harapan yang tersimpan
Didalam dan diluar jiwa hidupku

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Dan Bila hari telah malam
Dan rembula telah bersinar
Dia janji akan datang
Dengan membawa wewangian
Dan bila hari telah siang
Dan mentari juga telah bersinar
Dia akan pergi tanpa meninggalkan satu bayangan
Siapa dia?
Yang menjeri merangsang dan mengerikan
Menanti janji rembulan
Yang kian menjadi sabit









Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Entah
Hujan yang tak henti
Di sudut malam yang hening
Jauh disana terdengar tetesan air
Mata yang mengair dari dalam jiwa abadiku
Kepalaku memunduk
Menghayati sebuah suara hening akhirnya tak terdengar
Hanya tangisan yang mengharap kebahagiaan
Entah apa itu
Tiba-tiiba setetes air mata menetes di pipiku
Aku bertanya pada jiwaku
Entah
Itu jawabanya
Aku bertanya lagi
Kesedihan apa yang ada dibenakku
Tiba-tiba aku menangis tanpa haru
Gemericik hujan sunyikan hati piluku
Terkhayal kenangan masa suramku
Di sebuah belenggu kegelapan
Yang terpenuhi dengan kenyataan kini.









Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Memanti  anggara
Ini adalah tahun ke enam kita bersama
Menanti berlabuhnya asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing ditengah lautan luas nan ganas
Berteman satu dayung dengan satu tekad
Untungnya
Perahu ini tetap kokoh seperti semula
Meski ombak tak henti menerjang
Maski pasang sering menenggelamkan harapan
kita tetap percaya
kita tetap mengerti
kita tetap menanti
Tak ingin kembali
Tak ingin berhenti
kita terus ingin bersama hingga ke tepi
Dipelabuhan terindah
Bersama cinta dan rindu yang kita punya
Tanpa memandang apa, siapa tapi bagaimana ini adalah tahun ke enam kita bersama
Penantian tanpa letih
Kesabaran diuji
Disaat satu persatu cinta insan biasanya telah mati
kita tetap di hati
Tak sedikitpun isyaratkan letih
Percayalah....
Ketulusan kita semua takkan pernah tergantti
Keyakinan dan harapan kita kan terwujud abadi
Sebab kita berjanji bukan sekedar bermimpi
Seperti menanti mentari

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008

Menanti anggara
 Tak bernyawa langkah hati menanti
Sebuah jawaban dari pujaan hati
Tinggal gundah seakan menemani
Setiap gerakan hati melampaui
Ketakutan akan kehilangan mimpi
Mimpi akan datannya hari
Bersama sang belahan hati
Jika aku terluka adakah yang mengobati
Jika langkah ku terhenti
Adakah yang akan membantuku melangkah lagi
Lama menanti
Inginkan berhenti
Lama perahu oleng
Tak ada pulau untuk berlabuh

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008

Ketika percikan air membasahi sanu bari
Dan tetesannya pun menyembuhkan luka hati
Juga menjadikannya cahaya yang suci
Tapi ada seseorang yang merenung di pojok hati
Ya robb
Alam yang kelam karena kemungkaran




Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Oh
Apa kata-kata itu sebuah perjuangan
Apa syair itu sehelai kedamaian
Ketika merontanya setan-setan
Kini tak ada kentringan pedang
Yang akan membelah daratan

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Ketika ku bersandar pada sebuah kayu panjang
Ku berharap sandaran itu akan menghantarkan ku pada sanubari rindu
Aku yang terhempas seraya daun dilautan yang terus tergulung ombak

Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Apa tak cukup kita menatap wajah
Aku tak pernah bersendu
Seraya dalam sanubariku
Juga ketika kelakar yang bersandar pada diriku
Aku tahu aku tak pernah bersendu
Ketika ceprikan kebahagiaan telah ku dapat
Kini tetesan keunafikan yang ku buat-buat
Aku tahu, aku tak pernah bersendu
Memang kata-kata bukan lah suatu perjuangan dan syair lagu
Bukan pula perdamaian
Tapi itulah kebiadaban
Ya robb
Aku tahu aku tak pernah bersendu dalam kesucian



Karya ai 2014

ketika tangga ku anggap sebagai jalan menuju mu kasih
aku terus mendakinya tanpa letih.
barbekal cinta ku palingkan segalanya.
hanya untuk berjalan munujumu kasih.
ini karena mu kasih ,
isyarat siang dan malam datang untuk menuju cinta mu.
meski ku tak tahu berapa ribu tangga lagi harus ku daki
dan aku pun tak tahu apakah aku akan turun bersama mu.
ini karena bayangan mu padaku untuk datang di hatiku siang dan malam.

Karya ai 2014
Seharusnya aku tak menunggu hingga daun terlepas dari pohonnya
Seharusnya aku tak menunggu hingga angin mengusap keringatku
Seharusnya aku tak menunggu hingga hujan basahi tubuhku
Seharusnya aku tak menunggunya
Tak kan ada  kemarahan
Tak kan ada kesedihan
Tak kan ada kekecewaan
Seharusnya aku tak menunggunya.






karya ai 2014
malam ini aku ingin berpuisi
dalam hibasan angin yang mengusap wajah risauku, mengingatkanku pada ombak di laut lepas 18 tahun lalu, dan pada jalinan tangan yang terlepas sebulan lalu,
malam ini aku ingin berpuisi dalam sibakkan dinginnya angin yang menusuk hingga ke tulang, aku memanggilmu ketika malam tanpa rembulan kau meninggalkanku, disaat aku sepi sendiri tak berteman, menangis bersujud meminta petolongan mu.
malam ini aku ingin berpuisi
tentang tetesan air mata yang pernah kurasa, menyayat pada hati yang tlah lama terluka, aku hanya ingin berpuisi malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar