Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Mengapa
kau lari
Saat
ku menunggu
Kau
gores luka pena
Pada
hati yang jatuh
Ku tunggu kau
Tapi hanya desir angin
Yang melambai wajah risau
Mengapa kau lari dan pergi dari pandanganku
Saat
ku menatap
Jangan
kau pandang aku
Dengan
serpihan jiwa
Ku hanya ingin tahu kau tersenyum
Waktu hatiku merapu
Dalam ingatanku
Ruang gelap dan kosong
Adalah kenangan jiwa abadiku
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Di malam itu terlihat kau duduk
Hisapan rokok terus kau hisap
Sambil terduduk di sisi kiri
Ku lihat kau kiranya kau ada
Hilang
Dalam kumpulan gulita malam
Hanya sekuntung rokok yang masih menyala yang kau
tinggalkan
Di sisi pojok kiri
Tempat dudukmu
Kau hilang dan pergi
Hanya saat ini ku menanti
Menunggu kau di sini
Sampai kau datang kembali
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Aku seorang pemimpin yag selalu mendengarkan rakyat
indonesia
Aku yang berdiri diatas tiang keemasan
Yang memegang tanggung jawab dari sorakan dan tangisan.
Rakyat aku menawarkan bukan yang memaksakan, yang sangat
memerlukan tangan-tangan sorakan.
Rakyat
Aku yang mengabdi bukan yang berkuasa.
Agar dapat berjasa bagi kehidupan yang sejahtera.
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Ketika langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan
Langkah kaki itu mulai mendekat
Kau memberikan sebatang tongkat untuknya
Tangan bergetar ketika tongkat itu dinyalakan
Dengan tiupan api yang membara
Terjatuhlah tongkat itu saat dinyalakan
Terpojok sisi hati yang takut mati
Waduh....... adakah permintaan maaf
Untukku yang telah menjatuhkan nyawamu
Tolong.
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Ketika waktu terus menyempit
Dan masyarakat terus menjerit
Melewati hidup yang penuh derita
Aku juga sama dengan kalian
Yang makan dengan cari dan suapan hanya sekali
Uang kerinjing dan perut keroncong
Dimana aku hanya makan dengan garam
Yang tertekan dalam kemuslihatan
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Bayanganku
Beginilah hidupku
Yang terjebak dalam belenggu
Aku tidak mau
hidup dalam mimpi dan bayangan Masa kelamku
Tapi aku ingin hidup maju memandang kedepan
Masa-masa laluku sangatlah terbayang
Kelam
Tetapi masaku tertutupi kelabu
Mengapa begini masibku
Yang hanya bisa mundur dan tak pernah maju.
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Pagi yang indah
Matahari mulai terbit dari sarangnya
Semua pintu terbuka
Mengawali kegiatan dan aktifitas nya
Siang yang terik
Menginginkan air yang segar
Mentari bersinar di tengah-tengah putaran jiwa
Mengakhiri semua kegiatan
Sore yang tenang
Mengawali kita bersantai
Matahari telah pulang ke sarang
Saatnya kita tenang
Malam yang berbintang
Bulan dan bintang benerang
Menemani dalam keheningan malam.
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Denting air hujan bagai membelah daratan
Dalam kegersangan
Dialam keributan yang kelam
Tersandar seribu keinginan
Yang telah hilang
Langit yang tertutupi kabut tebal
Seakan terpenjara dalam keganjilan
Dalam sebuah ketenangan
Keraguan yang tak hilang
Untuk sebuah kenangan
Bayangan yang tersimpan
Bagaikan rahasia yang tak terpecah
Muka mu yang indah
Seakan purnama menyinari suasana malam
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Dewi malam hinggap
di jendela kamarku
Lalu tersenyum tertutupi awan kelam
Mentari pagi memeluk tubuhku
Sambil berkata hangatkan diriku
Teringat dewi malam yang tak kelihatan
Hanya mentari yang terus memelukku
Aku ingat sang api akan membakarku suatu saat
Tapi apakah aku bisa mati
Itu akan jadi tanda tanya besar dibanakku
Mentari yang terus memeluku
Terkhayal masa depanku yang takkan kelam dimana akan ada
kehangatan di pelukkan mentari
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Mentari tak selamanya menyambutku
Malam tak selamanya mengantarku
Selamat tinggal pada siang dan malam
Indah dipelupuk matamu
Aku bertahan
Ku sampaikan sejuta harapan yang tersimpan
Didalam dan diluar jiwa hidupku
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Dan Bila hari telah malam
Dan rembula telah bersinar
Dia janji akan datang
Dengan membawa wewangian
Dan bila hari telah siang
Dan mentari juga telah bersinar
Dia akan pergi tanpa meninggalkan satu bayangan
Siapa dia?
Yang menjeri merangsang dan mengerikan
Menanti janji rembulan
Yang kian menjadi sabit
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Entah
Hujan yang tak henti
Di sudut malam yang hening
Jauh disana terdengar tetesan air
Mata yang mengair dari dalam jiwa abadiku
Kepalaku memunduk
Menghayati sebuah suara hening akhirnya tak terdengar
Hanya tangisan yang mengharap kebahagiaan
Entah apa itu
Tiba-tiiba setetes air mata menetes di pipiku
Aku bertanya pada jiwaku
Entah
Itu jawabanya
Aku bertanya lagi
Kesedihan apa yang ada dibenakku
Tiba-tiba aku menangis tanpa haru
Gemericik hujan sunyikan hati piluku
Terkhayal kenangan masa suramku
Di sebuah belenggu kegelapan
Yang terpenuhi dengan kenyataan kini.
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Memanti
anggara
Ini adalah tahun ke
enam kita
bersama
Menanti berlabuhnya
asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing
ditengah lautan luas nan ganas
Berteman satu
dayung dengan satu tekad
Untungnya
Perahu ini tetap
kokoh seperti semula
Meski ombak tak
henti menerjang
Maski pasang sering
menenggelamkan harapan
kita tetap percaya
kita tetap mengerti
kita tetap menanti
Tak ingin kembali
Tak ingin berhenti
kita terus ingin bersama hingga ke tepi
Dipelabuhan
terindah
Bersama cinta dan
rindu yang kita punya
Tanpa memandang
apa, siapa tapi bagaimana ini adalah tahun ke enam kita bersama
Penantian tanpa
letih
Kesabaran diuji
Disaat satu persatu
cinta insan biasanya telah mati
kita tetap di hati
Tak sedikitpun
isyaratkan letih
Percayalah....
Ketulusan kita semua takkan pernah
tergantti
Keyakinan dan
harapan kita
kan terwujud abadi
Sebab kita berjanji
bukan sekedar bermimpi
Seperti menanti mentari
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Menanti anggara
Tak bernyawa
langkah hati menanti
Sebuah jawaban dari pujaan hati
Tinggal gundah seakan menemani
Setiap gerakan hati melampaui
Ketakutan akan kehilangan mimpi
Mimpi akan datannya hari
Bersama sang belahan hati
Jika aku terluka adakah yang mengobati
Jika langkah ku terhenti
Adakah yang akan membantuku melangkah lagi
Lama menanti
Inginkan berhenti
Lama perahu oleng
Tak ada pulau untuk berlabuh
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Ketika percikan air
membasahi sanu bari
Dan tetesannya pun
menyembuhkan luka hati
Juga menjadikannya
cahaya yang suci
Tapi ada seseorang
yang merenung di pojok hati
Ya robb
Alam yang kelam
karena kemungkaran
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Oh
Apa kata-kata itu
sebuah perjuangan
Apa syair itu
sehelai kedamaian
Ketika merontanya
setan-setan
Kini tak ada
kentringan pedang
Yang akan membelah
daratan
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Ketika ku bersandar
pada sebuah kayu panjang
Ku berharap
sandaran itu akan menghantarkan ku pada sanubari rindu
Aku yang terhempas
seraya daun dilautan yang terus tergulung ombak
Karya : Ai Siti Nuraeni 2008
Apa tak cukup kita
menatap wajah
Aku tak pernah
bersendu
Seraya dalam
sanubariku
Juga ketika kelakar
yang bersandar pada diriku
Aku tahu aku tak
pernah bersendu
Ketika ceprikan
kebahagiaan telah ku dapat
Kini tetesan
keunafikan yang ku buat-buat
Aku tahu, aku tak
pernah bersendu
Memang kata-kata
bukan lah suatu perjuangan dan syair lagu
Bukan pula perdamaian
Tapi itulah
kebiadaban
Ya robb
Aku tahu aku tak
pernah bersendu dalam kesucian
Karya ai 2014
ketika tangga ku
anggap sebagai jalan menuju mu kasih
aku terus
mendakinya tanpa letih.
barbekal cinta ku
palingkan segalanya.
hanya untuk
berjalan munujumu kasih.
ini karena mu kasih
,
isyarat siang dan
malam datang untuk menuju cinta mu.
meski ku tak tahu
berapa ribu tangga lagi harus ku daki
dan aku pun tak
tahu apakah aku akan turun bersama mu.
ini karena bayangan
mu padaku untuk datang di hatiku siang dan malam.
Karya ai 2014
Seharusnya aku tak
menunggu hingga daun terlepas dari pohonnya
Seharusnya aku tak
menunggu hingga angin mengusap keringatku
Seharusnya aku tak
menunggu hingga hujan basahi tubuhku
Seharusnya aku tak
menunggunya
Tak kan ada kemarahan
Tak kan ada
kesedihan
Tak kan ada
kekecewaan
Seharusnya aku tak
menunggunya.
karya ai 2014
malam ini aku ingin
berpuisi
dalam hibasan angin
yang mengusap wajah risauku, mengingatkanku pada ombak di laut lepas 18 tahun
lalu, dan pada jalinan tangan yang terlepas sebulan lalu,
malam ini aku ingin
berpuisi dalam sibakkan dinginnya angin yang menusuk hingga ke tulang, aku
memanggilmu ketika malam tanpa rembulan kau meninggalkanku, disaat aku sepi
sendiri tak berteman, menangis bersujud meminta petolongan mu.
malam ini aku ingin
berpuisi
tentang tetesan air
mata yang pernah kurasa, menyayat pada hati yang tlah lama terluka, aku hanya
ingin berpuisi malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar