Saya adalah hamba
Allah yang akan selalu berjuang untuk memperjuangkan agama Allah , Syariat
Allah dan semua tuntunan Allah. Ada satu hal yang paling saya syukuri hingga
saat ini, yakni saya di anugrahkan sahabat sahabat yang selalu berjuang untuk
memperjuangkan agama ini. (@nuraenifull)
Sebuah masa, ketika saya
menemukan sebersit kasih.
Ini
adalah malam terakhirku untuk merasakan setiap helaan nafas hingga mentari
menyapa diriku dan merestuiku untuk pergi, esok adalah lembaran baru yang harus
aku perjuangkan. Aku tak bisa menyangka bahwa ini adalah jalan takdirku yang
harus aku tempuh dalam kesendirianku disebuah kota yang asing yang tak pernah
aku bayangkan sebelumnya bahwasannya lepas SMK aku harus memuntut ilmu di kota
yang tak pernah aku catat dalam coretan mimpiku, apalagi aku meski mempelajari
ilmu yang tak pernah aku sentuh sebelumnya, jauh rasanya dari jati diriku ini.
Dan
akhirnya ini saat ku untuk mulai menjalani takdirku yang telah Allah tuliskan. Bertepatan
dengan penyoblosan gubernur aku menyempatkan untuk memberi hakku kepada negara
ini, sebelum aku meninggalkannya. Kurang
lebih 9 jam dalam perjalanan ku menempuh takdir aku tak pernah menyangka
sebelumnya. barang-barang telah
tersimpan rapi, dan orang tua, sahabat- sahabat akhirnya meninggalkanku dalam
nestafa kesendirian dalam selimbut malam ini.
Banyak
sekali orang-orang menyambutku dengan senyum dan sapaan hangat, namun
kehangatan itu tak pernah bisa kurasakan malam ini. Aku tak bisa memberi senyuman pada siapapun
saat ini, semuanya sangat asing bagiku, aku harap ini adalah mimpi yang sedang
kujalani ketika malam sebelum aku pergi. Aku masih tak percaya, malam ini
adalah sebuah mimpi, aku tak mempedulikan sapaan-sapaan kakak-kakak yang asing
dan tak pernah ku kenal, yang ku lakukan saat ini adalah menahan sekuat mungkin
tangisan yang ku tahan, untuk tidak mengalir di pipi ini. Hingga seorang kakak
tingkat menyapa ku untuk segera beristirahat karena esok akan segera di mulai.
Tangisan yang ku tahan ini mengalir
tiada henti, yang ku bayangkan saat ini adalah sahabat sahabatku disana
ya mereka yang ku cinta yakni Huriyah, Hasna, dan Haura. Hanya mereka yang ku
bayangkan dan ku ingat malam ini. Tentang kebersamaan, jalinan tangan dan canda
tawa.
Udara
sukabumi menusuk tubuhku dini hari ini, dalam nestapa aku termenung berdiri
depan jendela asrama kampus ini hanya tembok-tembok bangunan kampus dan
rerumputan yang terhampar hijau tersinari cahaya lampu taman dini hari ini.
Masih tetap sama perasaanku ini, ini hanya sebuah mimpi tentang ketakutanku
untuk pergi, aku masih meyakini ini
adalah mimpi dan impian-impian tentang Huriyah, Khasna, dan Haura adalah sebuah
kenyataan. Namun tak bisa dikelakan yang ku harap adalah aku ingin cepat
terbangun dari mimpi yang menjadi ketakutannku ini. Dini hari ini aku bersama
seluruh mahasiswa memulai kegiatan dengan shalat tahajud, muhasabah diri dalam
kesendirian dan butiran doa pertama yang kulantunkan di kampus ini adalah “aku
tak peduli dengan diriku dan dengan kuliahku dan dengan takdirku ini yang ku
harap adalah bagaimana aku bisa bersama dengan mereka kembali.”.
Dalam
diam aku berkata “ aku sendiri disini ”. namun pagi ini tiba-tiba ada yang
memanggilku “anti Rajwa Rajiyyah? ” dan aku melirik kebelakang “ya”, senior ku
dengan senyum manisnya menghampiriku dan tiba-tiba mengajakku untuk berkeliling
kampus. Maklum di kampus ini tidak ada masa ospek seperti di kampus lainnya
dengan hiruk pikuk serba serbi kegiatan namun yang ada disini hanyalah
pembagian kelompok dan pengenalan setiap pojok kampus. Nama kakak tersebut
adalah ukhti Hafa, dalam diam ini aku masih menahan tangis yang tak bisa ku
keluarkan namun ketika dia memperkenalkan dirinya tiba-tiba air mataku mengalir
deras, karena aku tak bisa menerima kenyataan bahwa yang menghampiriku yang
memanggilku bukanlah Haura yang cerewetnya selangit, Khasna yang gokilnya ga
ketolongan atau juga Huriyah yang anggunnya ga bisa dikalahkan, namun bukan
mereka yang memanggilku melainkan senior di kampus ini, tangisan ku tak terasa
mengalir deras, hatiku rapuh capmur aduk ketika ku menyadari bahwa aku sudah
disini aku sudah di Kampus ini ya Universitas Abiyan Sukabumi, ketika aku
menyadari bahwa aku masih sendiri aku tak bisa berbaur aku tak bisa
mengawalinya sendiri aku sendiri.
Akhirnya
di hari kedua ini adalah pembagian kelompok asrama aku di kelompokan bersama 5
orang teman yang pertama Sami dari padang, Nabila sulawesi, Isma Kalimantan,
Diyana Garut, Sarah Garut. Itulah teman kamarku. tak begitu kenal akrab dengan
mereka namun aku mencoba untuk tetap
bersama mereka.
Harapan
tak pasti aku menetap di sini, yang ku pikir ya minimalnya aku bisa tinggal satu
semester disini lalu pulang, itu yang ada dalam pikiranku, karena aku merasa
memiliki banyak beban untuk tetap tinggal di sini, ya beban dari aku sendiri
karena aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu, dan beban dari sekitar.
Namun
ketika jadwalku nelpon kepada mamah ku , tiba-tiba mamah berlantun sedu
kepadaku “ mamah tidak akan memaksa kamu, jika kamu tak betah ya hari ini pun
mamah bisa jemput ”. maka disana hatiku bergejolak rapu, mendengar lantunan
sedu mamah, lalu aku berpikir dan
mengazamkan dalam hati “tak, aku tak bisa pulang sekarang harus dua tahun
karena mungkin dengan cara ini saya bisa membanggakan mamah terutama,walaupun pada
akhirnya saya tidak tahu apakah mamah akan merasa bangga atau tidak dengan apa
yang akan saya dapat nanti”.
Walaupun
dalam setiap pembelajaran saya orang yang asyik sendiri kesana kemari karena
saya tak mengerti apa yang dosen bicarakan karrena dosen tersebut memkai bahasa
arab ya, bahasa Arab itulah jurusan yang saya ambil, dosen-dosen disana tidak
ada toleransi mereka tetap kokoh memakai bahasa pengantarya adalah bahasa Arab.
Di sini pun saya mulai dekat dengan teman-teman sekamar saya. Semester demi semester
aku jalani, aku kuatkan untuk terus berjuang bersama mahasiswa-mahasiswa
pilihan, hingga akhirnya aku bisa mengarungi semua ini. Pada akhirnya aku harus
berpisah dengan orang-orang yang aku cintai di sana dan bertemu kembali dengan
sahabat yang aku saying di daerahku walupun kini mereka sibuk dengan
kesibukkannya masing-masing. Dan kini aku pun melajutkannya kembali menempuh
setudiku di kampus yang sama dimana 2 tahun ini aku menimba ilmu.
Karya : Ai Siti Nuraeni
-> kisah nyata Rika Amalia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar