Sabtu, 08 Februari 2014

Pengajian (22/5/2012)





Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis..
Debu beralih emas..
Keruh menjadi bening..
Sakit menjadi sembuh..
Penjara berubah menjadi telaga..
Derita menjadi nikmat..
dan kemarahan menjadi rahmat..
Cintalah yang mampu meluluhkan besi..
Menghancurkan batu karang..
Membangkitkan yang mati dan memberikan kehidupan kepadanya..
serta membuat budak menjadi pemimpin.. (Jalaluddin Rumi)
Siang itu hujan tiba-tiba reda ketika adzan duhur berkumandang, ku angkat badan ku menuju toilet,dan ku abil wudhu, mukena pun ku pakai shalat dengan khusyu adalah targetku, dua salam telah ku bacakan. Ketika itu aku pun bersiap untuk pergi ke Taraju, tempat yang amat indah dan nyaman  bagiku bersama orang tua.
Bus yang aku tumpangi pun melaju kencang hingga tepat berhenti di bypass dan aku pun turun lalu dilanjut dengan mini bus, suasana mini bus sangat penuh, hingga aku pun harus bercapur baur dengan yang bukan mahram, “ya Allah maafkan hambamu ini”, sekitar setengah jam suasana dan suhu mulai berbeda dingin dan sejuk. Gunung-gunung menjulang tinggi hutan-hutan masih tetep terjaga dan angin menghembus sangat sejuk. Lepas dua jam dalam perjalanan aku pun turun dan lekas jalan kaki menuju rumah.
Sambutan hangat kedatangan ku disambut mamah dan adikku, sungguh indah. selepas ku beristirahat tak lama adzan magrib pun berkumandang disetiap surau. Suasana sejuk nan damai sangat terasa. Selepas salat aku pun di ajak ke surau oleh Dini dan temannya untuk ngaji bersama, sapaan hangat yang mereka berikan ketika ku belum lama tinggal ditempat sang ayah.
Malam itu dingin tetep menyelimuti luka-liku jalan kami lalui dengan membawa Al-Quran dan handphone untuk menerangi, kami pun beranjak, gelap dan dingin itu yang kami bersama rasakan. Mungkin 10 menitan kami pun tiba kesurau kecil ditepi sungai. Aku masuk kesurau itu yang beralaskan kayu dan hijab pun membentang panjang. Suasana religi terasa disana indah damai dan nyaman. Suara-suara kajian Al-quran terdengar dari bait-bait yang dialunkan santri-santri kecil disana.
Beberapa menit kemudian para santri laki-laki pun berdatangan, cerita demi cerita mereka kemukakan pada temannya. Aku yang sendiri teteap diam. Ucap salam terlontar dari pintu, laki-laki itu, Yang menyebabkan semua terhenti. Hening sekali, seseorang yang bersarung hijau, berkoko biru dan berkopiah hitam pun maju kedepan. Mata ku terhenti tertunduk melihat sang kakak maju dan menuliskan doa dipapan tulis, sungguh luar biasa,, aku beranjak kagum padanya. Pengorbanannya tak Cuma sebatas mengajarkan anak bangsa dan para insan di siang hari tapi langkahnya masih panjang dia tetap melangkah dalam bayangan kelam demi sang insan.
Aku padanya hanyalah sebatas keluarga dekat namun jauh, tak pernah aku berinteraksi padanya, hanya seucap salam yang pernah dia lontarkan. Tapi yang ku lihat pengorbanannya dalam mengabdi pada negara dan agama tak patah arang.
Semangat para santri disana mendorongku tetap semangat, lantunan ayat-ayat terus terlontar disurau itu. Ada kabar tak menyenangkan ketika awal aku mengaji disana, salah satu muridnya masuk kerumah sakit di RSUD Tasikmalaya dan ia harus di oprasi. Tak ada yang harus kami bantu hanya lantunan ayat-ayat yang kami ucapkan, semoga berkahnya sampai padanya.
            Selepas berdoa kami pun berdiskusi, walaupun aku hanya terdiam dan tak bisa apa-apa namun para senior disana berdiskusi untuk menjenguknya. Ternyata telah satu minggu ia dirawat disana. Dan mereka telah banyak mengumpulkan uang untuknya. Saling pikul memikul. Sungguh luar biasa, hasil dari tarbiyah mereka selama ini dan didikannya pun sungguh berbudi dan kasihnya pun bukan keterpaksaan. Yang lebih hebatnya, saat ku tanya “ berapa iuran yang arus ku bayar dalan sebulan?” santri itu berkata “hanya Rp2000,- yang harus dibayar setiap bulannya“. Aku beranjak hati ku tergugah, uang 2000 yang cukup untuk membeli cilok 4 atau bala-bala 2. Ini cukup untuk sebulan dan setiap hari kita memperoleh ilmu. Subhanallah…. Semoga keberkahaan mengalir dan tercurah bersamanya.
            “Demi untuk kebahagiaan dihari depan” ini visi mereka, subhanallah………………
Tak pernah ku lihat sebelumnya dalam satu perjalanan hidupku………


REPERENSI FROM MY NEPHEW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar