Jumat, 07 Februari 2014

Persahabatan dan makna dari tiap baitnya


Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui
Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati 
Hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan 
Betapa bahagianya punya banyak teman 
Betapa senangnya 
Betapa bahagianya dapat salaing menyayangi.
song by : Sherina Munaf  (Persahabatan)
  • Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan 
Suatu saat, pasti kita akan melakukan kesalahan, dan orang lain akan menyalahkan kita. Pasti pula kita akan merasa malu, cemas, dan kesal. Namun, yang terjadi tak mungkin kembali. Kita harus mengatasi situasi yang tak mengenakkan itu. Dan, salah satu cara cepat untuk menghadapi tudingan dari orang lain adalah dengan membalik tudingan mereka. Kalau mereka berkata, "anda keliru", kita pun menjawab, "anda juga begitu." Kesalahan dibalas dengan kesalahan. Kehilangan muka dilawan dengan mempermalukan orang lain. Ah, betapa menggodanya balas-membalas seperti ini. Sayangnya, itu takkan mempertemukan kita pada jalan perbaikan, selain hanya menegangkan urat leher tanpa guna. Bila kita menghabiskan tenaga untuk berpikir keras mencari-cari kesalahan orang lain demi mengobati rasa malu kita, mengapa tak kita gunakan energi yang sama untuk mencari sebuah pemecahan?  Malu semestinya dijawab dengan sikap bertanggung jawab. Tuduhan bukan dibalik dengan tuduhan yang hanya akan mengerdilkan arti kematangan pribadi. Bukankah dalam hati yang dalam, kita sadar dan tahu bahwa sebuah kekeliruan hanya patut dibalas dengan perbaikan. 
  • Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui
nah untuk para pemberani. Ada alasan lain kenapa kita dianjurkan untuk tidak menghitung-hitung ketaatan dan kebaikan yang telah dilakukan. Seorang salafushalih pernah mengatakan, "Adakalanya seorang melakukan kesalahan kemudian lalu masuk surga dan adakalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu ia masuk neraka." Orang-orang yang mendengarkannya bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab, "Dia berbuat dosa dan dosa itu selalu tampak di matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan ia selalu teringat dengan dosanya itu lalu membuat hatinya hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan kepada Allah, sehingga keadaan itu menjadikannya selamat. Sementara orang yang melakukan kebaikan, selalu melihat kebaikan itu di depan matanya. Jika ia berdiri, duduk dan berjalan ia selalu ingat dengan kebaikan yag ia lakukan, sehingga ia menjadi takabbur ujub dan merasa telah mendapatkan karunia Allah SWT. Padahal kondisi itu menjadi sebab kebinasaannya.
  • Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati 
Kebencian itu sebenarnya tak berada dimana-mana. Ia hanya menyelimuti hati yang sekepalan itu saja. Tetapi, dari yang sekepalan itu, kebencian bisa meluluhlantakkan seisi kota; meratakan sepenjuru negara; bahkan mengubah wajah dunia jadi ladang ketakutan tak terperi. Padahal ia hanya bermula dari yang sekepalan. Padahal ia tak lebih dari yang segenggaman tangan. Ia hanya bersemayam di hati. Ia hanya menggelapi hati ini. Seandainya kita tahu dimana hati itu berada. Sehingga bisa kita comot dan bersihkan sebagaimana kita raupi muka dengan air segar agar tampak berseri-seri; sebagaimana kita gosok dan licinkan pakaian agar tampak indah di pandangan. Sayang kita hanya bisa tunjuk hati ada di dalam dada; karena rasa sesak dan geram itu ada di sana. Seandainya bisa kita jaga hati yang sekepalan ini dari bayangan gelap itu, mungkin akan kita wariskan alam raya nan damai bagi saksi-saksi kehidupan.
  • Hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan 

Kawan, ingatkah kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan malaikat Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghina Rasulullah dan para sahabat? Kala itu, Rasul membalas perlakuan masyarakat Thaif dengan memaafkan mereka. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain yang menunjukkan kemuliaan Rasulul dalam hal memaafkan adalah saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang Quraisy kala sakit, meski sebelumnya tak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.


Memaafkan, menjadi kata yang yang mudah diucapkan, namun teramat sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih sulit hilang juga. Sepertinya kehidupan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya karena saya berulang-ulang mengingat hal itu. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil pelajaran dan hikmahnya, juga menjalankan kehidupan saya sebagaimana mestinya.

Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, menuliskan bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita. Dengan memaafkan seseorang, bukan berarti kita menyetujui apa yang mereka lakukan, kita hanya menginginkan hidup kita berjalan terus. Hal yang sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw berabad-abad lalu. Dibalasnya orang yang meludahi beliau setiap hari dengan kunjungan dikala orang itu sakit. Sebuah kemuliaan sikap cerminan pribadi berjiwa besar.

 
Betapa bahagianya punya banyak teman 
Betapa senangnya 
Betapa bahagianya dapat salaing menyayangi.

by : ai siti nuraeni dan Berbagai Sumber
08/02/14/08:34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar