Pada
selembar kertas kehidupan, kita pasti sudah menuliskan sebuah kerangka
kehidupan entah itu berada pada poin empat, poin enam, atau poin sembilan,
sebuah kalimat utama: “saya adalah seorang S.Pd, SH, SE, ST, atau S, S, saya di
wisuda 3,5 thn atau apalah itu. Akan tetapi bukan perkara mudah untuk kita
mencapai hal itu, kita dihadapkan pada proses perkuliahan,organisasi, berapa
buku yang harus kita baca, berapa makalah kuliah yang harus kita buat, berapa
laporan yang harus kita susun, berapa banyak praktikum yang harus kita jalani, biaya yang harus kita keluarkan, KKN
dan PPL (KP) yang harus kita lalui, berapa sering dan lama kita harus menunggu dosen untuk bimbingan atau minta tanda tangan,
belum lagi ujian-ujian yang harus kita ikuti, dan lain sebagainya. Namun deru
haru kegembiraan lepas disaat impian yang kita tulis, momentum yang kita tunggu
akhirnya menjadi nyata. Titik tertinggi dari pencapaian dan kerja keras bertahun-tahun
terbayar dengan seuntai tali toga yang berpindah dari arah kiri ke arah kanan.
Menjadi sebuah peresmian bahwa kita di akui sebagai seorang sarjana,,
Namun
tahukah kalian dibelakang megahnya acara seremonial wisuda tersebut?
Ada tetesan
air mata, ada kegundahan, ada kegalauan, ada banyak pertanyaan, ada ketidak
jelasan, bahkan ada sebersit penyesalan dan masih banyak rintangan-rintangan
juram yang akan menghadang. Dan orang orang dibalik kesuksesan kita, yakni
orang tua kita, tak bisa di bayangkan bagaimana kerja keras mereka
menggelontorkan biaya hingga titik penghabisan, yang mereka inginkan hanyalah
anaknya sukses, taraf hidupnya lebih baik dari mereka sekarang. Itulah mengapa
mereka bersedia apa saja untuk masa depan kita putra putrinya. Maka pantaskah
bila kemudian kita mengecewakan mereka? Maka selamat datang sarjana sarjana
muda di gerbang awal lembar utama kita menjalin kehidupan ini. Tak masalah bagi
yang telah mempersiapkan diri atau yang telah mempunyai pekerjaan. Namun yang
jadi masalah bagaimana mereka yang belum mendapatkan kesempatan apapun untuk
mengimplementasikan ilmu yang bertahun-tahun yang kita tempuh dalam kesakitan. Namun jangan gundah masih banyak kesempatan yang datang, ketika kita
bersungguh-sungguh dan yakin bahwa kita bisa, hal tersebut tidak akan menjadi
penghalang. Karena masih banyak lahan di negara untuk bisa kita olah, bisa kita
berdayakan, atau juga masyarakat indonesia yang masih buta huruf, atau anak
anak bangsa yang tertinggal, masih bisa kita ajarkan. Atau juga sektor bisnis,
ide-ide kreatif masih bisa kita pikirkan. Itulah kesempatan-kesempatan yang
kita bisa pergunakan dalam kegundahan ini. Kita tak perlu berkeluh kesah (gulam
durja) dengan apapun yakinlah bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih indah
dari rencana indah yang kita rencanakan asalkan kita tetap berusaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar